MENGGENDUT KE CIREBON

Mungkin saat mendengar Cirebon tidak terkesan apa-apa. Awalnya saya yang tampan juga merasa begitu, tapi ternyata ada begitu banyak makanan ajaib di sana yang maknyos aduhai. Berteman dengan satu keluarga asli Cirebon ternyata menguntungkan juga. Geng Laskar Pelangi yang #DoyanJalan dan #DoyanMakan yang secara tidak terencana malah memutuskan untuk kuliner ke sana. Hal ini berawal dari salah seorang di grup memberikan daftar kuliner di Cirebon. Langsung semuanya setuju untuk meluncur ke sana pada waktu yang ditentukan yaitu 8 sampai 9 April 2017.

Sebenarnya ini lebih ke militer daripada liburan karena si ibu presiden memaksa kita untuk berangkat jam 4 subuh. Berhubung kaca mobil saya yang gelap gulita, akhirnya saya tidak bisa membiarkan orang lain menyetir mobil saya. Menyetirlah saya selama kurang lebih 3 jam dan juga saat tiba di Cirebon.

Seperti judul yang sudah tertera, program kita ke Cirebon adalah menggendut. Makan terus walau sudah kenyang. Untuk makanan bisa saksikan sendiri di video YouTube di bawah ini. Jangan lupa subscribe! Ahay.

Kalau mau disimpulkan makanan di Cirebon itu enak-enak. Yang saya paling suka adalah empal gentongnya, padahal saya bukan penggemar makanan berkuah. Tapi itu memang khas Cirebon karena dimana-mana banyak dijual. Ikan bakar Alinda juga maknyos. Sambal ijonya mesti dicoba. Gado-gado dan mie koclok sebenarnya juga makanan khas sana yang katanya enak tapi entah karena sudah kenyang (itu perhentian terakhir setelah seharian makan melulu) atau saya, sekali lagi, bukan penggemar kuah; jdi menurut saya kurang memuaskan. Kalian boleh mencobanya kalau penasaran.

Kemudian ada ayam bakar apa itu namanya (lihat saja sendiri di video) yang rasanya unik dengan 3 macam sambalnya. Saya penggemar ayam dan ini salah satu ayam yang unik rasanya haha. Coba saja. Otokowok yang adalah nasgor campur mie goteng tek tek biasa juga enak. Padahal makanan sejuta umat haha. Es durennya lebih enak daripada es oyen. Anyway, kuliner di Cirebon itu murah-murah juga.

Alhasil saya yang boker terus setiap makan, hanya naik 1 kilo. Santaaai haha. Oh ya satu lagi yang saya suka dari Cirebon. Entah ini perasaan saya doang atau cuma karena baru satu hari di sana atau emang benar adanya, orang-orang yang menyetir di Cirebon itu ramah-ramah. Mereka tidak kayak pengemudi mobil B (termasuk saya) yang suka klakson dan tidak mau memberi jalan dulu. Entah kenapa setiap saya bertemu dengan kendaraan plat E, saya selalu diberikan jalan duluan. Tanya kenapa?!

Untuk tempat wisata saya cuma mendatangi Telaga Remis yang cukup memprihatinkan karena tidak terurus. Padahal ada potensi jadi tempat wisata. Kemudian Tomodachi yang bagus untuk berfoto ria. Makanannya kurang direkomendasikan tapi karena mesti beli voucher 50,000 per orang untuk bisa foto di dalamnya. Jadinya ya harus makan juga. Terakhir ada kawasan batik Trusmi dimana kita bisa shopping sepuas jidat sampai pukul jidat karena duit yang dikeluarkan. Oh ya kerupuk di sana juga enak-wnak. Kerupuk emping pedas (entah itu namanya apa bukan), kerupuk yang warna warni, dan yang paling mantap itu kerupuk rangginang. Sayang rangginang ini adalah khas buatan mama teman saya jadi kalau mau pesan langsung ke saya ya.

That’s it pengalaman saya di Cirebon bersama geng #DoyanMakan a.k.a Laskar Pelangi. Walau hanya semalam tapi ternyata Cirebon menawarkan begitu banyak kuliner yang aduhai.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s