04. I WILL ALWAYS LOVE YOU – AKU AKAN SELALU MENYAYANGIMU

I Always Love You – Aku Selalu Menyayangimu

(Will Hampton)

Tiga bulan telah berlalu sejak wanita yang kucintai menikah dengan pria yang mengalami kecelakaan di hari pernikahannya itu. Aku tahu kalau Chloe pasti sangat terpukul akan tragedi itu, tapi aku sama sekali tidak berani menghubunginya. Dia pasti tidak mengharapkan aku untuk menemuinya. Aku hanyalah rekan kerjanya saja di kantor. Kami memang berteman dan sering mengobrol tentang semua hal. Chloe memang wanita yang manis dan sempurna bagiku.

Tapi sudah tiga bulan ini dia tidak datang ke kantor. Aku tahu dia pasti sudah memberhentikan diri, tapi aku khawatir dengan keadaannya. Di mana dia tinggal sekarang? Apa dia masih trauma dengan kematian suaminya? Jangan-jangan dia sedang sakit sekarang?

Aku sudah tidak tahan lagi untuk mengetahui keadaannya, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke rumah dia. Aku akan menemuinya dan aku akan mencoba menghiburnya. Siapa tahu dia akan menyukaiku setelah itu dan kami bisa menjadi sepasang kekasih…?! Setidaknya aku memiliki wajah yang tidak terlalu jelek dan badanku juga tegap dengan penghasilan yang cukup di atas rata-rata. Chloe pasti bisa tertarik denganku, aku yakin itu.

Aku memberhentikan mobilku di rumah dia. Aku menarik nafas panjang, memberanikan diriku untuk bisa menemui wanita yang sudah lama kusukai itu. Aku mengambil sebatang bunga mawar yang baru saja kubeli. Akhirnya aku keluar dari dalam mobil dan aku mendatangi pintu masuk rumah Chloe.

Setelah tiba di depan pintu aku berusaha untuk bersikap tenang. Tentu saja aku ingin terlihat sempurna di hadapan Chloe. Mawar merah yang kubawa kusembunyikan di punggungku dengan tangan kiriku. Pintu mulai kuketuk….

Siapa?! Aku mendengar suara Chloe dari balik pintu. Kalau delivery taruh saja makanannya di depan, uangnya sudah kutaruh di bawah pot bunga yang ada di dekatmu.

Aku melihat sebuah pot bunga di dekatku. Bunganya sudah sanga layu, pasti tidak pernah disiram. Kuangkat pot itu untuk membuktikan perkataan Chloe tadi dan ternyata benar sekali, di bawah pot itu ada sejumlah uang yang cukup untuk memesan makanan.

Sudah kau ambil?

Aku berdiri sambil menggenggam uang itu dan menyahut, “Ini aku, Will, bukan delivery.”

Will?Suara Chloe terdengar kebingungan. Will Hampton?

“Tepat sekali!” Ujarku. ”Boleh aku masuk?”

Trek!

Aku melihat Chloe yang terlihat sangat tidak tenang. Dia terlihat begitu lusuh dan sepertinya perutnya agak membesar seperti wanita hamil. Tapi biarpun begitu, Chloe tetap wanita yang sangat mempesona. Aku tetap menyayanginya dan akan selalu menyayanginya.

“U…Untuk apa kau datang?” Tanyanya cemas.

“Tentu saja untuk melihatmu.” Jawabku tenang.

“Kamu mau masuk?” Tanya Chloe pelan dan aku tau kalau sepertinya dia tidak mengharapkan kedatanganku.

“Kalau kau mengijinkan.” Ujarku, masih tetap tenang.

Chloe mempersilakanku masuk ke dalam rumahnya. Aku berjalan menuju ke dalam rumahnya tapi sebelum itu, “Ini…” kuperlihatkan mawar yang kubawa. “…untukmu.”

Chloe tersenyum walaupun terlihat seperti dipaksakan olehnya. Tapi dia masih sempat mengucapkan terima kasih padaku walaupun itu hampir tidak terdengar. Dia bicara dengan sangat pelan sekali.

“Apa kau terlalu malas untuk bertemu tukang delivery makanan sampai menaruh uang di bawah pot itu?” Tanyaku sambil berjalan ke ruang tamu. Tapi dia tidak memberikan respon.

“Kuambilkan minum dulu, kau tunggu saja….” Chloe bergegas menuju ke dapur, meninggalkan aku di ruang tamu.

Kuperhatikan semua perkakas di ruang itu. Semua terlihat sangat tidak dirawat, kotor dan berdebu. Aku tidak mengerti mengapa Chloe tidak membersihkan semuanya. Apa mungkin tinggal sendiri saat hamil membuatnya menjadi malas untuk melakukan pekerjaan rumah tangga? Tapi saat aku melihat sebuah bingkai foto yang cukup besar di dinding, jantungku langsung berdegup kencang. Chloe masih memajang fotonya dengan Billy saat mereka menikah. Harus kuakui kalau itu memang membuatku sedikit sedih karena mungkin saja Chloe masih mencintai suaminya itu. Mungkin dia tidak akan pernah bisa melupakan Billy.

“Ini….” Chloe datang dan menaruh segelas teh di meja.

“Terima kasih.” Sahutku. “Jadi…” Aku mulai membuka percakapan. “…, bagaimana keadaanmu?”

“Seperti yang kau lihat.” Ujar Chloe pelan. “Aku baik-baik saja.”

“Kau yakin?” Aku tidak bisa mempercayainya saat ini. Dia terlihat sangat tidak baik-baik saja. Ada sesuatu yang membuatnya sangat terintimidasi, aku bisa merasakannya. “Ada apa? Cerita saja….”

“A…aku tidak apa-apa.” Chloe melihatku dan berusaha tersenyum. “Tidak usah khawatir.”

“Dengar Chloe…” Aku mencoba membuatnya mencurahkan isi hatinya. “Aku tahu belakangan ini banyak kejadian yang sangat tidak mengenakan, Billy, Tina, dan ibumu….”

“Jangan!” Sahut Chloe cepat. “Jangan…” Dia mulai menangis. “Jangan salahkan aku…, semua ini bukan salahku…! Mengapa?! Mengapa kau menganggap kalau aku ini pembawa sial?!”

Aku terkejut mendengarnya dan cepat-cepat kuluruskan kesalahpahaman ini. “Bukan, bukan! Aku tidak pernah menyalahkanmu! Semua ini bukan salahmu, aku tahu itu. Kau tidak ada sangkut pautnya dengan semua ini. Semua kejadian ini di luar kendalimu, aku tahu itu….”

Chloe diam saja dan terus menangis. Akhirnya aku memberanikan diri untuk duduk di dekatnya dan kupeluk dia. “Tenanglah…” Aku bisa merasakan kesedihannya. Dia benar-benar terpukul, aku tahu itu. “…, jangan menyalahkan dirimu, kau harus berjuang. Bagaimanapun juga kau harus bisa melanjutkan hidupmu ini.”

“A…aku tidak bisa….” Tangisnya. “Aku tidak kuat lagi….”

“Tenanglah, aku akan selalu bersamamu dan menjagamu.” Aku berusaha menenangkan dirinya. Chloe melihat ke arahku. Wajah kami berdua begitu dekat hingga timbul keinginan untuk menciumnya, tapi… Tapi aku tidak boleh melakukannya. Chloe pasti sedang sangat sedih, kalau aku menciumnya, bisa-bisa dia anggap aku mengambil kesempatan saat dia sedang terpukul.

Tapi ini berbeda! Chloe yang mendekatkan bibirnya pada bibirku. Kami berciuman! Aku benar-benar tidak menyangka tapi kunikmati setiap detik saat bibir kami saling bertemu.

Sesaat kenikmatan itu menghilang. Chloe berhenti menciumku, “Tidak! Aku… aku tidak boleh melakukannya…!”

“Tidak apa-apa, Chloe!” Aku masih mau merasakan ciuman yang terhenti tadi, masih belum cukup. “Aku… aku juga menginginkannya.” Aku tahu kalau aku baru saja mengungkapkan perasaan sayangku padanya secara tak langsung. Aku mencoba menciumnya lagi.

“Tidak.” Chloe menolak. “A…aku… aku hamil….”

Aku tersentak. Apa yang baru dia bilang? Dia hamil?! Be… Benarkah?! Apa mungkin aku yang salah dengar?!

“Ma… maafkan aku…, saat ini aku sedang mengandung empat bulan.” Chloe mengaku.

“”Tapi… Tapi siapa?” Aku menanyakan siapa ayah dari anak yang dikandung Chloe.

“Billy.” Jawabnya pelan. Aku menganga tidak percaya. “Waktu kami menikah, aku sudah mengandung sebulan. Aku memang tidak mengatakannya pada siapapun, bahkan Billy pun belum mengetahuinya….” Chloe mulai menangis kembali.

Aku bingung. Aku tidak tahu harus berbuat apa-apa. Aku tidak bisa menenangkannya. Aku sendiri butuh untuk ditenangkan. Chloe mengandung empat bulan? Sesaat harapanku kandas begitu saja. Aku tidak mungkin menintai wanita yang akan memiliki anak, apalagi anak itu bukan anakku. Tidak bisa! Aku tidak bisa menyayangi Chloe lagi, tapi sulit sekali. Perasaanku begitu dalam padanya. Aku tidak mungkin bisa menghilangkannya seperti menginjak semut, tidak bisa!

“A…aku butuh kamar kecil.” Aku harus menyendiri untuk bisa menenangkan diriku. Aku melepaskan diriku dari Chloe dan pergi ke kamar kecil yang ada di dapur.

Kututup pintu kamar mandi dan kupandangi diriku di kaca. Aku melihat diriku yang begitu kaget pada kaca itu. Chloe sedang hamil dan yang lebih parah lagi, aku menciumnya saat dia sedang hamil. Benar-benar menggelikan. Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Kubuka keran air pada wastafel di depan kaca dan kubasahi wajahku dengan air yang mengalir keluar dari keran itu.

Sadarlah Will! Sadarlah! Aku berusaha menguatkan diriku untuk bisa menerima kenyataan ini. Tidak apa-apa, Chloe pasti masih bisa menerimamu, buktinya dia menciummu tadi! Ya! Aku tdak akan menyerah. Tidak apa-apa kalau dia akan memiliki seorang anak. Aku bisa menggantikan Billy menjadi ayah anaknya. Aku bisa melakukan itu. Demi cintaku pada Chloe….

Kali ini aku melihat diriku pada kaca tadi. Aku terlihat lebih tegar dan kuat. Ya! Aku yakin akan pilihanku! Aku tetap akan mndapatkan cintanya Chloe. Dia akan menjadi milikku. Aku tetap menyayanginya walaupun dia sedang hamil saat ini! Kuambil tisue dan kebersihkan wajahku yang basah. Setelah itu aku membuka pintu kamar mandi untuk kembali menemui Chloe.

Tapi entah kenapa saat ini jantungku berdetak cepat saat aku mulai memegang gagang pintu dan membukanya perlahan. Ini bukan karena aku senang kalau aku akan mencoba mendapatkan Chloe. Perasaan yang tidak mengenakkan ini rasanya seperti akan ada sesuatu yang datang kepadaku, sesuatu yang tidak kuharapkan dan yang pasti membuat bulu tengkukku berdiri semua. Saat itu juga kulihat sesosok bayangan hitam berlalu pada jendela di dekat tempat cuci piring yang ada di dapur.

Aku terperanjat sambil menggerakan tubuhku untuk melihat kepada jendela itu. Aku hanya bisa melihat beberapa anak tetangga yang sedang asyik bermain bola dengan jarak yang cukup jauh. Tapi aku tetap penasaran. Mungkin sosok hitam tadilah yang membuat tidak enaknya perasaanku. Seperti ada yang mengikutiku dan ingin melakukan sesuatu yang tidak baik padaku. Aku harus memeriksanya! Aku berjalan perlahan menuju kaca jendela itu, aku berniat untuk membuka kaca itu dan melihat apa mungkin sosok hitam tadi benar-benar nyata. Jantungku berdegup kencang sekali. Perasaanku semakin tidak menentu seiring langkah-langkah yang kubuat sewaktu berjalan ke jendela itu….

Aku sudah sangat dekat dengan jendela itu. Kuperhatikan keadaan yang ada di luar, berusaha untuk tidak kaget kalau-kalau sosok hitam itu muncul kembali. Aku akan membuka kaca itu sekarang! Kugerakkan kedua tanganku untuk membukanya tapi detik selanjutnya aku terkejut dengan…

“Will?!” Aku berbalik melihat Chloe yang baru saja memanggilku dan saat ini dia sedang berdiri di antara dapur dan ruang tamu. “Apa yang kau lakukan?” Tanyanya bingung.

“Aku hanya…” Aku berbalik melihat ke jendela itu tapi tiba-tiba…

Prang!

Sesuatu masuk ke dalam tepat ke wajahku, membuat kaca jendela pecah dan aku jatuh.

“Aaaaaaaaa!!!” Kudengar teriakan Chloe tapi entah kenapa aku sudah tidak bisa melihat lagi. Wajahku sakit sekali dan yang paling sakit adalah mata kananku. Sakit sekali sehingga detik berikutnya aku sudak tidak merasakan apa-apa lagi….

One thought on “04. I WILL ALWAYS LOVE YOU – AKU AKAN SELALU MENYAYANGIMU

  1. Pingback: ANGEL OF DEATH | HANSON TJUNG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s