06. BIG FIRE PART 1 – KEBAKARAN BESAR BAGIAN 1

Big Fire part 1 – Kebakaran Besar bagian 1

(Helena Miller)

“Helena, sudah kubilang berapa kali, jangan pernah menaruh pisau atau barang tajam lainnya di bawah kompor.”

Aku kaget dan langsung mengambil lagi pisau yang aku taruh di bawah kompor. Aku mulai mengambil benda-benda tajam lainnya yang selama ini selalu aku taruh di sana. “Ma… maaf, aku lupa.”

“Jangan dibiasakan ya, bisa berbahaya kalau tiba-tiba kompornya meledak.”

Aku mengangguk, aku baru diterima bekerja di rumah sakit jiwa ini selama seminggu jadi agak susah menyesuaikan diri. Kebiasaanku menaruh pisau di bawah kompor memang susah untuk dihilangkan. Saat ini aku bekerja sebagai koki di rumah sakit ini. Akulah yang memasak makanan baik untuk pasien maupun para perawatnya.

Bekerja di rumah sakit jiwa memang tidak terlalu menyenangkan. Banyak orang-orang aneh berkeliaran di sini. Kadang-kadang memang menakutkan dan ada juga yang sangat mengganggu seperti,

“BOO…!!!”

“Aaaaaa!” Aku kaget karena ada yang memegang pundakku. Seorang pria berambut panjang keriting berdiri di belakangku sambil terkikik-kikik. Aku masih memegang pisau terakhir di tanganku dan hampir saja aku menusuknya.

“Hihi…, kaget lagiii…”

“Oh my God, Lex, hentikan, kamu membuat aku kaget terus.” Aku kenal pria itu, dia masih berumur tujuh belas tahun. Dia adalah salah seorang pasien di rumah sakit ini. Tingkah lakunya memang seperti kanak-kanak dan dia paling suka mengagetkan semua orang yang dijumpainya. “Aku harus pergi sekarang.” Tanpa kusadari aku menaruh pisau yang kupegang ke bawah kompor dan langsung mengambil sepiring nasi dengan sayuran dan segelas susu. “Aku mau mengantar makanan ini dulu.”

 Lex melihatku terus. “Kamu mau ke tempat pembunuh itu lagi ya….”

 “Leeex…, hentikan, dia bukan pembunuh.” Ujarku pelan.

 “Hihi, dia akan membunuh kita berdua, hihihi!”

 Ada satu lagi keanehan dari Lex, dia selalu mengatakan kalau wanita hamil yang berada di kamar isolasi no. 13 sebagai pembunuh. Aneh memang, tapi selama seminggu ini aku tidak yakin kalau wanita itu pembunuh. Dia tampak seperti wanita baik-baik. Mungkin ini adalah salah satu keanehan dari Lex, dia suka ngelantur.

“Aku harus pergi, daaa….” Aku tidak mau mempedulikannya dan membawa makanannya ke kamar isolasi no. 13. Pasien kamar isolasi no.13 memang terkesan aneh. Yang aku dengar, sebulan yang lalu dia yang mengajukan dirinya sendiri untuk menjadi pasien. Selain itu dia jugalah yang meminta kamar isolasi untuk dia ditempati. Dan satu hal lagi, dia tidak pernah keluar dari kamar itu.

“Chloe…” Aku mengetuk pintu kamar isolasi no. 13 dan memanggil wanita yang saat ini sudah hamil lima bulan. “Ini Helena, aku bawa makanan dan susu untukmu.”

Seseorang membuka lubang kecil untuk memasukkan makanan yang ada di tengah-tengah pintu. Aku segera menaruh bawaanku ke dalam lubang itu. Seorang wanita menyambut susu yang baru saja kutaruh.

“Terima kasih.” Ujar wanita yang bernama Chloe itu.

“Bagaimana keadaan bayimu?” Aku membuka percakapan.

“Baik-baik saja, kurasa.” Balas Chloe sambil meraih piring yang berisi makanan.

“Aku bingung, kenapa wanita hamil sepertimu mau diisolasi?” Aku mulai melempar pertanyaan pada Chloe. “Bukannya lebih baik kau mendapat udara segar dan cahaya matahari?” Tidak ada jawaban dari balik pintu. Aku tahu Chloe pasti tidak ingin menjawabnya. “Ya sudah, aku akan kembali setelah kau selesai, ok?” Aku berjalan keluar dari tempat isolasi tapi tiba-tiba aku teringat sesuatu. “Oh ya, Chloe! Kemarin ada seorang pria yang menelepon ke sini dan mencarimu.”

Chloe langsung menyahut, “Siapa? Siapa namanya?”

“Seorang pria bernama Jack.” Jawabku. “Dia bilang dia akan datang ke sini besok pagi.”

“Tidak….” Desah Chloe. “Dia tidak boleh ke sini.”

“Ada apa, Chloe?” Tanyaku. “Memangnya siapa itu Jack?”

“Dia…”

Chloe diam. “Apa dia ayah dari anakmu?” Aku penasaran dengan siapa itu Jack.

“Bukan.” Jawab Chloe cepat. “Dia adalah ayah dari aku.”

“Ayah?” Aku kaget mendengarnya. “Lalu kenapa dia baru meneleponmu sekarang? Kenapa… kenapa dia tidak menjagamu?”

“Dia tidak tahu aku di sini.” Jawab Chloe tenang. “Aku tidak pernah memberitahunya.”

“Tapi kenapa?” Aku masih tidak mengerti mengapa Chloe bisa berada di rumah sakit jiwa. Dia sama sekali tidak gila, aku tahu itu dan aku mau tahu apa yang membuatnya menawarkan diri untuk diisolasi di tempat aneh ini.

“Karena dia takut dia akan membunuh Jack.” Aku mendengar seorang pria di belakangku menyahut. Aku berbalik dan terperangah melihat Lex yang berdiri agak jauh di depanku.

“Lex! Apa yang kau lakukan?” Tanyaku cemas karena tidak seharusnya pasien lepas ada di daerah isolasi.

“Dan kau tahu, dia juga akan membunuh kita berdua, hahahaha!” Tiba-tiba Lex membuatku merinding. Ucapannya itu sungguh mengerikan.

“Hentikan, Lex. Kembali ke tempatmu sekarang!” Aku mulai kesal dengan Lex.

“Aku tidak akan membunuh siapapun lagi.” Ujar Chloe.

“Chloe….” Aku memanggil Chloe. “Apa maksudmu? Apa benar kau pernah membunuh?”

“A…aku…” Chloe mulai menangis, dia terdengar depresi sekali. “Aku tidak bermaksud membunuh mereka….”

“Chloe, tenangkan dirimu….” Aku mencoba melihat ke dalam ruangan Chloe.

“AAAAAA!!!” Chloe menjerit kencang dan melempar gelasnya tepat ke arahku.

Aku menghindar cepat dan terdengar suara gelas yang pecah menabrak pintu. “Ya Tuhan.” Aku shock. Chloe lepas kendali.

“Haha! Dia akan membunuh kita semuaaa….” Lagi-lagi Lex berkata yang tidak-tidak.

“Hentikan Lex atau kau juga akan masuk ke ruang isolasi!” Aku mulai marah dan membentak Lex. Lex langsung diam ketakutan. “Sekarang kembali ke kamarmu!”

Sekarang Lex menurut, dia berbalik dan mulai berjalan menjauh dariku. Aku berpaling ke ruangan Chloe. Aku bisa mendengar tangisan Chloe dari luar. “Chloe…, aku akan membantumu membereskan kamarmu, tenangkan dirimu, ok?”

Aku meraih kunci-kunci dari saku seragamku dan mencari angka 13. Lalu aku mulai membuka pintu kamar Chloe. Jantungku berdetak cukup kuat. Tidak kuragukan kalau aku sedikit takut dengan keadaan Chloe saat ini. Dia hampir saja melempar gelas ke mukaku. Aku bisa terluka. Selain itu Lex juga membuatku takut. Berkat Lex, Chloe mengaku kalau dia pernah membunuh orang. Mungkin saja aku target Chloe selanjutnya.

Pintu terbuka, aku membukanya perlahan. Kulihat seorang wanita berambut panjang dengan perut yang membesar sedang duduk diam di sudut ruangan sambil menutup wajahnya. Dia menangis.

“Chloe…” Ini pertama kalinya aku melihat dia secara langsung. Aku ingin sekali melihat wajahnya. Bagaimana sebenarnya wajah Chloe, aku ingin sekali melihatnya. Tanpa sadar aku mulai mendekatinya.

Aku ingin menolongnya, sangat ingin menolongnya. Entah kenapa aku merasa simpati sekali pada Chloe. Ada yang lain dari wanita ini, ada sesuatu yang mendorongku untuk memerhatikannya.

Aku mengarahkan tanganku ke arahnya, aku mau menyentuh Chloe. Aku ingin menenangkannya. Jantungku berdegup kencang. Aku takut akan terjadi yang tidak-tidak, apalagi saat ini aku sendirian, tidak akan ada yang bisa menyelamatkanku kalau tiba-tiba Chloe menyerangku. Tapi ternyata bukan Chloe yang menyerangku!

“AAAAAA…!!!” Aku dicekik dari belakang. Dengan susah payah aku berusaha melawan tapi kuat sekali cekikannya.

“Biarkan, Helena…” Aku mendengar suara Lex di belakangku. Tidak mungkin, dia yang mencekikku.

“Le…lepaskaaan…” Aku terus melawan, telepon genggamku sempat jatuh. Beberapa detik kemudian aku susah bernafas dan kekuatanku melemah.

Chloe melihat ke arahku. Aku bisa melihat wajahnya. Dia terlihat depresi sekali. Chloe! Ternyata dialah Chloe. Akhirnya aku bisa melihat wajahnya.

“A…apa yang kau lakukan?” Tanya Chloe yang diam-diam mengambil telepon genggamku yang jatuh dan langsung mencoba berdiri sambil memegang perut besarnya.

“Aku membebaskanmu.” Jawab Lex sambil terus mencekikku, suaranya terdengar semakin pelan. Aku mulai kehilangan kesadaranku. “Sekarang kamu bebas untuk membunuh siapapun, sayang….”

Chloe menggeleng, dia mulai menangis. “Tidak, aku…”

“Pergi! Dan buatlah kematian sebanyak mungkin! Hahahahahahaha!”

Chloe terpengaruh dengan ucapan Lex. Aku sempat melihat Chloe yang ketakutan dan segera berlari keluar dari kamar 13. Aku ingin sekali menolongnya tapi saat ini aku sudah tidak bisa merasakan apa-apa. Pandanganku mulai kabur. Aku tahu akan akan segera pingsan dan mungkin saja mati. Ya, aku akan…

One thought on “06. BIG FIRE PART 1 – KEBAKARAN BESAR BAGIAN 1

  1. Pingback: ANGEL OF DEATH | HANSON TJUNG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s