01. TRAGEDY -TRAGEDI

Tragedy – Tragedi

(Chloe Evert)

Kata siapa hari pernikahan adalah hari yang paling bahagia di hidup kita?! Tidak bagiku. Hari pernikahanku penuh dengan kesedihan yang sangat tidak bisa kuungkapkan.

Pernikahanku dengan Billy, ini adalah saat yang paling aku dambakan dalam dua puluh tujuh tahun hidupku. Tentu saja setelah aku menikmati indahnya lima tahun bersama dengan Billy Winterson, kakak angkat teman baikku, Tina Handerson.

Hari itu adalah hari Minggu. Pagi-pagi sekali aku sudah terjaga dari tidurku yang bisa kukatakan hanya satu jam. Aku terlalu gugup dalam menghadapi hari paling bahagia dalam hidupku ini. Saat aku melihat jam wakerku, ternyata baru jam setengah lima. Tidak biasanya aku bangun jam segini. Kalau hari biasa aku bangun jam tujuh pagi, itu juga dikarenakan pekerjaanku sebagai reporter yang menuntutku datang ke kantor jam sembilan.

Walaupun mataku terasa perih dan ingin menutup terus, aku tetap tidak bisa tidur kembali. Jantungku berdegup kencang setiap kali aku mengingat hari apa ini dan itu membuatku tidak mengantuk. Terpaksa aku bangkit dari tempat tidurku dan menyalakan lampu kamarku; hari ini mungkin saja tidak akan menjadi kamarku lagi karena aku akan tinggal di rumah baruku, tentunya bersama pria yang akan menjadi suamiku dalam beberapa jam ke depan.

Aku keluar dari kamarku, berkeinginan untuk pergi ke kamar mandi. Tapi tak disangka, Tina sudah berdiri di depan kamarku, tersenyum melihatku.

“Sudah kuduga kau akan bangun jam segini.” Katanya lembut.

“Jangan bilang kalau kau sudah mandi!” Kataku tak percaya.

Tina hanya tersenyum. Dia memang teman baikku yang paling manis. Walaupun badannya mungil dan sedikit cerewet, dia adalah wanita yang paling memperhatikanku, mungkin melebihi orang tua angkatku.

“Chloe…” Tina memanggil namaku pelan. Suaranya memang lembut. “Kalau aku yang menikah, pasti kamu juga sudah mandi dan makan.”

“Kamu juga sudah makan?” Aku semakin tidak percaya. “Apa kamu tidur?”

Tina tidak menjawabnya. Aku sudah tahu pasti semalaman suntuk dia tidak tidur, mungkin itulah yang membuktikan dia jauh lebih memperhatikanku dibanding dengan orang tua angkatku yang tinggal cukup jauh dari apartemen yang kutinggali bersama Tina.

Dari bayi aku sudah diadopsi oleh orang tua angkatku ini, Jack dan Maya Evert. Yang aku tahu tentang orang tua kandungku hanya ayahku menghilang entah ke mana di hari kematian ibuku yang meninggal demi melahirkan aku. Sejak itu aku dibawa ke panti asuhan sampai akhirnya orang tua angkatku mengadopsiku.

“Ayo, honey!” Tina menarik lenganku dan membawaku ke kamar mandi. “Sebaiknya kamu mandi sekarang dan siap-siap. Aku tidak mau nanti saat lagi nikah, kamu belum siap lahir batin.”

Siap lahir batin? Tentu saja aku sudah siap lahir batin! Sudah cukup lama aku menanti hari ini dan akhirnya datang juga saatnya.

Selama dua jam ke depan, jantungku terus berdegup kencang, sampai saat inipun aku masih merasakannya. Aku sudah mengenakan gaun pengantinku yang paling anggun di dunia, tapi itu bagiku tentunya.

“Kamu cantik sekali, Chloe….” Tina memuji diriku saat aku sedang asyik berkaca di depan cermin.

“Kamu juga cantik.” Kataku dan langsung berputar-putar, membuat diriku seakan terbang bersama gaun pengantinku yang putih seputih salju.

“Tapi kapan kau akan mengatakannya?” Tiba-tiba pertanyaan Tina membuatku berhenti berputar.

Aku menatap Tina dalam cermin di depanku, dia sedang duduk di ranjangku dan melihat ke punggungku. “Entahlah.” Kataku sambil merapikan bagian bawah gaunku yang tadi melayang-layang saat aku berputar-putar.

“Apa maksudmu dengan ‘entahlah’?!” Tina berdiri dari ranjangku. “Kamu harus mengatakannya. Itu’kan anaknya juga, dia berhak untuk tahu hal itu.”

“Ya, aku tahu….” Ujarku sambil berbalik untuk melihat Tina secara langsung. “Hanya saja tidak hari ini. Hari ini adalah hari spesial bagiku dan bagi Billy juga tentunya.”

“Tapi kau harus memberitahunya secepat mungkin, ok?”

Aku mengangguk pelan. Beberapa detik kemudian Tina tersenyum, aku juga membalas senyumannya.

“Aku tidak percaya! Teman baikku akan mempunyai anak dan dia akan menikah hari ini…!” Tina bergerak cepat memegang kedua tanganku dan kami berteriak bersama sambil melompat-lompat kegirangan.

Memang ada satu hal penting yang masih belum kuberitahu pada Billy. Saat ini aku sedang mengandung anaknya selama satu bulan. Ini memang hal yang besar tapi aku sengaja menyimpannya karena aku takut saat aku memberitahukanya pada Billy, dia akan menjauhiku. Tapi setelah dia melamarku di pantai dengan sangat romantis, aku rasa dia juga ingin mempunya anak bersamaku. Jadi aku akan memberitahukannya setelah aku menikah, hitung-hitung sebagai hadiah untuk pernikahan kami, mungkin….

Waktu berjalan sangat cepat. Satu jam kemudian Jack dan Maya datang ke apartemenku, mengenakan pakaian yang sangat berkelas dan membawa senyuman yang paling indah.

“Tak kusangka anakku akan menikah hari ini….” Kata Maya sambil melepaskan pelukannya dariku.

“Selamat ya, nak!” Gantian Jack yang memelukku.

“Terima kasih, pa, ma….” Kataku.

“Kamu sudah siap?” Tanya Maya sambil memegang erat kedua tanganku. Maya memang ibu yang sangat baik. Dari aku kecil sampai akhirnya aku hidup sendiri, dia selalu memberikan kasih sayang yang pasti tidak akan bisa kubalas walau dengan nyawaku. Maya memiliki sifat keibuan yang begitu menghangatkan.

Aku mengangguk sambil terus memperlihatkan lesung pipiku karena aku tidak bisa berhenti tersenyum.

“Baiklah!” Seru Jack. “Ayo kita pergi menemui mempelai pria.” Jack meletakkan tangan kanannya di pinggang, membiarkan aku memeluk lengannya dan berjalan bergandengan bersamanya keluar dari dalam apartemenku.

Tidak kusangka kalau Billy sudah menunggu di luar bangunan apartemenku. Pria yang sangat tampan, dengan jasnya yang terlihat sangat serasi dipakainya. Billy tersenyum saat melihatku mengenakan gaun pengantin.

“Kamu cantik sekali….” Itulah kalimat pertama yang diucapkannya saat dia menghampiriku dan menawarkan diri untuk mencium tanganku.

Aku membiarkannya mencium tanganku. Setelah itu dia mengantarku masuk ke dalam mobil pengantin. Kami pun berangkat untuk menandatangani surat pernikahan kami. Jack, Maya, dan Tina mengikuti kami dengan mobil Jack. Selesai menandatangani kami pergi menuju pantai tempat Billy melamarku. Di sana kami akan melakukan pemberkatan nikah.

Aku, Billy, dan pendeta yang akan mengadakan pemberkatan berada di tepi laut, dikelilingi rangkaian bunga berbentuk hati. Sebagian dari kami terendam air, dari lutut ke bawah.

“Chloe Evert…” Sang pendeta memanggil namaku. “Apakah kau bersedia menerima Billy Winterson menjadi suami baik di dalam suka ataupun duka…”

Aku terus menatap Billy yang juga membalas tatapanku tanpa berpaling sedikit pun. Kata-kata sang pendeta tidak kuhiraukan, sampai akhirnya dia selesai bertanya dan aku menjawab, “Ya! Aku bersedia.”

Beberapa menit kemudian, Billy juga mengucapkan kalimat yang sama denganku, “Aku bersedia.” Katanya, yakin dan terdengar sangat bahagia.

“Mempelai pria boleh mencium mempelai wanita.” Seru sang pendeta.

Aku pun berciuman dengan Billy selama beberapa detik diiringi tepuk tangan orang-orang yang menyaksikan kami. Selesai berciuman, Billy membisikkan sesuatu padaku, “Ikut aku!” dan langsung menarikku, kami berlari menuju mobil merah tanpa atap yang berada di pinggir pantai.

“Heiii!!!” Teriak Tina. “Have fun yaaa!!!”

Billy menggendongku dan menaruhku ke bangku depan mobil merah itu dan dia langsung melompati pintu mobil dan duduk di sebelahku. Mesin mobil dinyalakan olehnya dan dia kembali menciumku untuk beberapa detik. Setelah memakai sabuk pengaman, kami pun pergi meninggalkan pantai dan akan menikmati bulan madu kami yang pasti akan sangat indah. Tapi ternyata itu hanyalah awal dari penderitaanku….

Mobil melaju dengan kecepatan enam puluh km/jam. Angin terus menerpa rambutku, membuatnya berantakan. Aku terus berteriak, “Kami baru saja menikaaaaaaah!!!” dengan sangat girang.

Tapi tragedi itu berlangsung begitu cepat tanpa ada dugaan sama sekali dariku. Saat itu kami sedang menaiki gunung dengan jalan dua arah, ada yang naik dan ada yang turun.  Jalannya berbelok-belok dan di pinggir-pinggir kami terbentang tebing yang cukup tinggi. Mobil kami melaju ke atas dengan kecepatan yang mulai berkurang. Billy mulai berhati-hati. Dia tahu kalau aku mulai cemas.

“Tenanglah, sweetheart….” Suamiku mencoba menenangkan aku. “Aku mencintaimu.”

Aku tersenyum sambil melihatnya. Billy membalas senyumanku dan kembali menciumku. Tapi tiba-tiba…

Terdengar bunyi Duar! kencang sekali. Aku dan Billy langsung terperanjat. Ban belakang mobil kami di sebelah kanan pecah!

“A…apa yang terjadi…?!” Aku benar-benar cemas sekarang.

Billy kesulitan mengendalikan mobil. Mobil kami terus mengarah ke kanan, ke tebing yang curam.

“Billy!!!” Aku menyerukan nama suamiku.

“Tenang, sayang!” balas suamiku dan langsung membanting setir ke kiri.

Ciiit…!!! Bunyi rem itu begitu memekikkan telinga. Mobil merah kami memutar ke kiri tapi bagian belakangnya terus mengarah ke jurang sampai akhirnya mobil berhenti dengan seperempat dari bagian belakang mobil masuk ke tebing. Mobil kami masih bertahan di pinggir tebing itu!

Aku dan Billy terdiam sesaat. Jantungku berdetak kecang sekali. Kami hampir saja jatuh ke dalam jurang. Tapi itu belum berakhir!

Bagian belakang mobil mulai tertarik ke dalam jurang, mobil bergerak mundur perlahan me-nuju ke dalam jurang.

“Cepat keluar, sayang!” Billy berteriak cemas.

Aku ketakutan dan berusaha keluar tapi aku lupa masih ada sabuk pengaman. Tanganku gemetaran saat aku mencoba membuka sabuk itu. Billy juga sedang berusaha membuka sabuk pengamannya. Mobil terus bergerak, makin lama makin cepat.

“Cepat, Chloe!” Seru Billy, semakin tinggi nada bicaranya, menandakan kalau dia semakin cemas.

Terbuka! Aku membuka pintu dan langsung keluar dari mobil. Mobil bergerak semakin cepat saat aku keluar dari mobil. Aku berbalik, melihat suamiku yang sudah lepas dari sabuk pengamannya tapi mobilnya bergerak cepat sekali.

“BILLY!!!” Teriakku.

Billy menaiki bangkunya dan melompat ke kap mobil di depannya saat mobil itu bergerak sangat cepat ke dalam jurang. Dia bergerak ke depan dengan berani dan melompat saat mobilnya mulai jatuh ke dalam jurang.

“Ah!” Billy jatuh dan berguling-guling ke tengah-tengah jalan.

Aku memperhatikan mobil kami yang jatuh dan berguling-guling di dalam jurang sampai akhirnya mobil itu meledak. Aku terpana menyaksikan itu, semua ini benar-benar membuatku ketakutan. Tiba-tiba aku mendengar suara klakson sebuah kontainer yang melaju dari atas ke bawah.

Aku berbalik dan betapa terpakunya aku saat melihat kontainer itu sedang melaju tepat ke arah Billy.

“Tidaaak…!!!” Aku menjerit kencang sekali hingga bisa terdengar gema dari jeritanku.

Billy masih kesakitan. Dia berusaha bangun tapi aku bisa melihat dia tidak bisa, tangannya tidak kuat mengangkat tubuhnya. Pasti tulangnya patah.

Aku tidak bisa melihat. Kontainer itu sudah mulai memperlambat lajunya tapi masih terlihat sangat cepat, melaju tepat ke kepala Billy!

“TidAAAk!!!” Aku kembali menjerit, kali ini lebih kencang.

Ckiiiiiit…!!! Bunyi rem dari container itu membuatku jantungku seakan berhenti berdetak. Aku menyaksikan peristiwa itu! Kontainer itu berhenti tepat di depan mata Billy! Billy hampir saja dilindas truk besar itu!

“Oh, tidak…!” Ujarku sambil menutup mulutku. Aku bisa merasakan degup jantungku lagi, masih berdegup dengan sangat cepat.

Nafas Billy berantakan. Debu-debu menerpa wajahnya, membuatnya terlihat sangat kotor. Dia tampak shock sekali. Billy hanya melihat ban dari kontainer yang berada tepat di depan mukanya, hampir saja melindasnya. Udara yang keluar dari mulutnya membuat asap-asap debu mengudara dan menerpa wajahnya.

“Sayang…?” Aku mulai melangkahkan kakiku ke arah Billy. Sopir kontainer itu keluar dari dalam kontainernya saat aku kembali mendengar bunyi klakson dari arah belakang kontainer itu!

Sebuah kontainer lain melaju cukup cepat ke arah kontainer yang hampir melindas Billy.

“Heiii!!!” Teriak sopir kontainer kedua yang mengeluarkan wajahnya dari kaca. “Remku rusaaak!!!”

“TidaaAAAk…!!!” aku menjerit jauh lebih kencang dari sebelumnya dan berlari untuk menolong suamiku tapi sopir kontainer yang pertama menghalangiku.

“Awas!” Seru sopir yang memelukku dan langsung membanting dirinya bersamaku ke belakangku.

Kontainer yang tidak bisa mengerem itu menabrak kontainer yang berhenti tepat di depan mata suamiku dengan sangat kencang, menyebabkan kontainer yang pertama bergerak melindasi wajah Billy….

Kontainer yang melindas suamiku terus maju ke dalam jurang. Kontainer yang kedua semakin lambat dan melindas dada Billy hingga remuk! Sopir kontainer itu langsung membanting setir ke kanan sehingga kontainer itu menabrak bebatuan gunung.

Aku melihat sisa dari tubuh suamiku yang tertinggal. Aku bisa melihat darah berceceran, bercampur dengan cairan-cairan aneh yang sangat bisa kupastikan berasal dari otaknya. Tulang-tulangnya remuk, aku tidak bisa membedakan yang mana tulangnya karena serasa bersatu dengan tanah.

Saat itu aku hanya terbelalak menatap mayat, bukan! Itu sudah tidak terlihat seperti mayat suamiku. Beberapa saat kemudian aku menjerit sekencang mungkin, “AAAAAA!!!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s