04. ELISABETH (STRAWBERRY)

Elisabeth sedang asyik mengetik cerita baru yang akan dijadikan salah satu artikel majalah di tempat kerjanya saat teman kerja perempuan memanggilnya, “Elisa, makan siang dulu. Yang lain sudah turun. Ayo.”

“Aku akan menyusul sebentar lagi, sedang tanggung.”

“Sampai ketemu, kalau begitu.”

Teman kerja Elisabeth yang biasa dipanggil Elisa menekan tombol lift. Elisa bisa mendengar lift terbuka dan temannya pergi meninggalkan Elisa sendirian di tempat kerjanya. Elisa adalah anak yatim piatu. Itulah sebabnya dia tidak memiliki nama belakang, hanya Elisabeth. Dia tidak mau memakai nama keluarga. Elisa adalah seorang penulis. Dia suka menulis cerita bersambung di sebuah majalah yang saat ini kantornya sedang dia tempati untuk bekerja. Wajah Elisa cantik dan tubuhnya tinggi atletis dengan rambut coklat belah samping lurus sebahu.

“Demikianlah,” Elisa mengucapkan apa ygn diketiknya, “akhir dari kisah cinta mereka.” Elisa menekan tombol Enter. “Selesai,” desah Elisa lega.

Tiba-tiba lampu berkedap-kedip. “Oh, tidak! Aku belum save!” Elisa takut akan terjadi pemadaman listrik. Dengan cepat dia meraih mouse dan mulai mengarahkannya ke panel save di layar komputernya. Listrik padam. Layar komputer langsung menjadi hitam. “Tidak!” Elisa memukul meja.

Elisa berdiri dari tempat duduknya. Da kesal. Keadaan di kantornya tidak terlalu terang karena hampir semua jendela tertutup tirai. Elisa melihat seorang perempuan berdiri beberapa meter di depannya.
“Susy?” Elisa menduga dia adalah teman kerjanya yang terakhir mengajaknya makan siang. Tapi dia ragu. Perempuan itu diam saja. Elisa mendekatinya. Wajah perempuan itu diselimuti kegelapan. Elisa tidak dapat melihatnya dengan jelas. “Susy, apa itu kau?” Elisa mulai takut. Perempuan itu harusnya bisa menjawabnya tapi dia tidak memberikan respon apa-apa. Bergerak saja tidak. Elisa terus mendekatinya sambil berusaha mengenali wajahnya.

Jarak Elisa dengan perempuan itu sudah sangat dekat sehingga Elisa bisa melihat wajahnya. Matanya coklat dengan rambut coklat sampai ke bahu, sama dengan model Elisa. Umurnya juga terlihat sama dengan Elisa. Perempuan itu terlihat ketakutan. Dia tidak berani menatap Elisa. Pandangannya hanya ke bawah.
Elisa yang tidak mengenalnya memberanikan diri untuk bertanya, “Maaf. Kamu siapa?”

Perlahan-lahan perempuan itu mengangkat wajahnya dan apa yang dilihat Elisa membuatnya merinding. Pandangannya sangat mengerikan. Perempuan itu memelototinya seakan-akan ingin melakukan sesuatu yang tidak baik pada Elisa.

“A… apa yang kamu lakukan di sini?”

Elisa langsung tersentak setelah mengeluarkan pertanyaan itu. Seluruh tubuh perempuan itu gemetar. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat dan kasar.

“Hey! Tenanglah.” Elisa takut perempuan itu melukai dirinya sendiri. DIa mengangkat kedua tangannya dan mengarahkannya ke wajah perempuan itu untuk mencoba menghentikannya. “Tenanglah.” Elisa memegang kedua pipi perempuan itu.

Wajah perempuan itu berubah walaupun dia tetap memelototi Elisa. Wajahnya penuh dengan luka bakar dimana-mana. Elisa bisa melihat daging-daging yang hangus dan warna-warna putih yang adalah tulangnya. Elisa hanya diam membelalak melihat apa yang tidak seharusnya bisa dilihat dengan kedua mata jasmani. Dari belakang muncul sebuah tangan memegang bahunya.

Elisa menjerit dan langsung berbalik.

“Maaf, kamu berbicara dengan siapa?” Seorang petugas keamanan berdiri di belakangnya. Tangannya sudah lepas dari bahu Elisa.

Elisa berkeringat. Dia bingung. Dia segera berbalik untuk melihat perempuan tadi. Tidak ada siapa-siapa. Elisa melihat sekelilingnya. Listrik sudah menyala kembali. Elisa ingat listrik sudah menyala tepat saat dia berbalik untuk melihat ke petugas keamanan yang tadi mengagetkannya.
“Tom, sejak kapan kamu di sini?” Elisa menanyai petugas keamanan yang bernama Tom itu.

“Sejak kamu berbicara sendiri?” Tom bingung sendiri. “Siapa yang kamu suruh untuk tenang, nona Elisa?”

“Tadi,” Elisa berbalik menunjuk ke tempat perempuan tadi berdiri, “tepat saat listrik padam, ada seorang perempuan, berdiri di sini. Dia, dia terluka.” Elisa kembali melihat ke Tom, “Apa kamu melihat kemana dia pergi?”

“Kamu tidak apa-apa?” Tom merasa canggung dan prihatin. Dia melihat Elisa seperti pikiran Elisa sedang tidak sehat. “Aku tidak melihat siapa-siapa. Dan listrik tidak pernah padam. Kalau padam pasti liftnya tidak akan berfungsi dan aku tidak akan mungkin berada di sini.”

Elisa semakin bingung. Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Sudah jelas listrik tadi padam. Tepat saat dia mau menyimpan data ceritanya, listrik mulai padam. Saat itu Elisa tersadarkan dengan sesuatu. Dia bergegas kembali ke meja kerjanya untuk mengecek tulisan di komputernya. Apabila listrik tidak pernah padam, sudah pasti ceritanya tidak akan hilang.

“Tidak mungkin,” Elisa tidak percaya. Ceritanya masih utuh.

Itu berarti apa yang dikatakan Tom barusan benar. Listrik tidak pernah padam dan perempuan yang tadi didekatinya tidak pernah ada. Semua hanyalah imajinasinya, imajinasi yang mengerikan.

“Kamu tidak apa-apa, nona Elisa?”

Elisa melihat ke Tom yang membawa sesuatu di tangannya. “Aku tidak apa-apa. Terima kasih, Tom.”

“Ini. Ada surat untukmu.”

Tom menyerahkan apa yang dipegangnya kepada Elisa. Elisa memperhatikan suratnya. Tidak ada nama pengirim. Hanya ada nama ‘Elisabeth’ di amplopnya.

“Terima kasih, Tom.”

Tom tersenyum, masih merasa canggung. “Sebaiknya kamu istirahat,” ujarnya dan pergi ke lift.

Elisa yang sudah lebih tenang duduk dan membuka amplop untuk mengeluarkan isinya. Tom masuk ke dalam lift dan meninggalkan Elisa yang membaca isi surat itu.

Kepada Elisabeth,
    Satu juta itu hanya awal. Seminggu di pulau X, satu milyar akan menjadi akhir. STRAWBERRY adalah namamu. Kemasi sandang saja. Persiapkan diri. Anda ditungg di Mystery Road House besok pagi.
    Aturi aturan-aturan atau Anda gugur.

Elisa juga menemukan cek satu juta dollar. Kemudian dia membaca kembali suratnya, “Mystery Road House. Aku tahu itu, Mutiara Utara. Siapa yang mengirimi ini, ya?” Dia tidak bisa menemukan jawabannya.

Elisa memutuskan untuk pergi mencairkan ceknya. Dia menekan tombol lift dan menunggu sampai pintu lift terbuka. Tidak ada siapa-siapa di dalam lift. Elisa segera memasukinya dan menekan tombol ‘G’. Tapi lampu kembali berkedap-kedip. Elisa melihat seseorang berdiri tepat di luar lift mengahdapnya. Perempuan yang sama dengan yang tadi. Lampu semakin cepat berkedap-kedip. Elisa ketakutan. Lift tidak mau menutup. Elisa menekan-nekan tombol close berulang kali. Tapi pintu lift tidak mau bergerak. Perempuan itu kembali mengangkat wajahnya. Elisa dan dia saling bertatapan.

Keadaan menjadi sangat menegangkan. Elisa terus menekan tombol lift tapi sia-sia. Elisa melihat kembali perempuan itu, “Mau apa kamu?!” Suara Elisa bergetar saking takutnya.

Tatapan perempuan itu berubah. Matanya membelalak. Emosi kemarahan terpancar dari tatapannya. Pintu lift bergerak. Perempuan itu semakin marah. Lampu berkedip terus dan wajahnya perlahan berubah mejadi wajah yang penuh dengan luka bakar.

Kejadiannya begitu cepat. Perempuan itu melayang cepat masuk ke dalam lift yang hampir menutup dan mencekik Elisa.

“Aaa!!!” Elisa membenturkan dirinya ke dinding lift di belakang dan jatuh sambil mengangkat kedua tangannya untuk melindungi diri.

Lift bergerak. Lampu kembali menyala seperti biasa. Elisa membuka matanya. Dia sendirian di dalam lift, berkeringat dan syok. Nafasnya terengah-engah. Dia bisa merasakan kedua tangan yang barusan mau mencekiknya. Rasanya begitu nyata. Tapi semua itu tidak nyata. Elisa menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan-lahan sambil berusaha bangun. Pintu lift membuka tepat di lantai dasar.

Wajah perempuan yang penuh dengan luka bakar itu tidak berhenti menghantui Elisa. Bahkan setelah Elisa tiba di bank dan mencairkan ceknya.

“Mystery Road House?” Tiba-tiba seorang pria tak berambut menyebutkan nama rumah yang dikenal Elisa saat dia melihat uang Elisa yang sedang dimasukkan ke dalam amplop.

Elisa melihat pria itu. Badannya besar kekar dan lebih tinggi dari pria lain yang ada di dalam bank. “Maaf?”

“Ini uangnya, tuan Walker. Satu juta dollar.” Teller yang melayani pria itu memberikan sebuah amplop coklat tebal.

“Terima kasih,” ujar pria itu dan pergi meninggalkan tempat teller.

Elisa mengambil amplopnya dan segera mendekati pria itu.

“Smith Walker.” Pria itu memperkenalkan dirinya kepada Elisa.

Elisa melihat ke Smith. Dia hanya tersenyum sambil memberikan tangan kanannya mengajak Elisa bersalaman. Elisa meraih tangannya, “Elisabeth. Tadi kamu bilang Mystery Road House?”

Smith mengangguk. “Ya, sama seperti kamu. Aku juga mendapat undangan yang sama. Tadi aku sempat melihat cekmu, sama juga dengan cek aku.”

Elisa menggumam mengerti apa maksud Smith menyebut nama Mystery Road House.

“Siapa nama di undangan?”

“Nama?” Elisa tidak mengerti.

Smith kembali tersenyum memperlihatkan lesung pipinya. “Aku Banana.”

“Oh!” Elisa baru sadar maksud Smith. “Strawberry,” kata Elisa.

Smith membukakan pintu untuk Elisa.

“Terima kasih,” ujar Elisa.

“Sampai bertemu besok, Strawberry.”

Elisa dan Smith berpisah. Ternyata bukan hanya Elisa saja. Masih ada orang lain yang diundang. Elisa yang penasaran dengan siapa yang mengiriminya surat itu memutuskan untuk pergi mencari tahu. Semuanya sangat misterius.

12 thoughts on “04. ELISABETH (STRAWBERRY)

  1. Pingback: FRUITS – 04. THE FIRST DAY | Tjung Hanson

  2. Pingback: FRUITS – 05. HARI PERTAMA | HANSON TJUNG

  3. Pingback: FRUITS – 06. KELUARGA FRUITS | HANSON TJUNG

  4. Pingback: FRUITS – 07. PULAU X | HANSON TJUNG

  5. Pingback: HANSON TJUNG

  6. Pingback: FRUITS – 08. HARI KEDUA | HANSON TJUNG

  7. Pingback: FRUITS – 09. HARI KETIGA – HANSON TJUNG

  8. Pingback: FRUITS – 10. HARI KEEMPAT – HANSON TJUNG

  9. Pingback: FRUITS – 11. HARI KELIMA – HANSON TJUNG

  10. Pingback: FRUITS – 12. HARI KEENAM – HANSON TJUNG

  11. Pingback: FRUITS – 13. GERHANA – HANSON TJUNG

  12. Pingback: FRUITS – 14. MYSTERY ROAD HOUSE – HANSON TJUNG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s