05. HARI PERTAMA

Keesokan paginya, sekitar jam lima, Elisa berangkat dengan mobilnya ke jalan Mutiara Utara. DIa sudah mempersiapkan satu-satunya barang yang diperbolehkan untuk dibawa, pakaian-pakaiannya. Butuh waktu tempuh tiga jam untuk akhirnya tiba di sana.

Elisa harus meyusuri jalan sempit dikelilingi pohon-pohon yang menjulang tinggi di kanan dan kirinya. Dia seperti menyetir di dalam hutan yang angker sampai akhirnya dia melihat sebuah gerbang abu besar yang terbuka. Elisa masuk ke dalamnya. Dia melewati sebuah taman yang besar dengan bunga-bunga dan rerumputan yang tertata rapi. Sangat indah. Kemudian dia tiba di rumah besar dengan sentuhan klasik yang menawan, rumah keluarga Fruits.

“Hey, ada lagi yang datang!” Teriak seorang pria dari dalam rumah yang segera berlari menerima Elisa.

Elisa keluar dari dalam mobil. Pria itu mendekatinya. Kulitnya gelap dengan rambut hitam pendek keriting, orang berkulit hitam. Tiga orang lainnya menyusul. Ada Alex, Gray, dan seorang gadis muda dengan wajah yang manis dan rambut pirang lurus diikat ke belakang. Gadis itu mengenakan kaos biru muda dan celana jins dengan sepatu boot, seperti orang yang datang dari kampung.

“Hey,” sapa pria berkulit hitam sambil mengajak Elisa bersalaman, “aku Coconut.”

“Elisabeth,” balas Elisa sambil menyambut tangan pria itu.

“Elisabeth? Ayolah, itu bukan nama buah.”

“Kalau maksudmu nama buah, Strawberry.”

Gray mendekati Elisa yang berjalan diikuti Coconut, “Hi, aku Gray Common. Mango.”

Elisa menyalami Gray, “Panggil aku Elisa.”

“Strawberry, keren juga. Manis seperti orangnya,” kata pria berkulit hitam. “Aku Bob, Bob Miller.”

Alex menyahut, “Kenapa jadi banyak orang yang diundang? Apa kita semua mau disuruh memperebutkan satu milyar itu?”

“Hi, aku Maya Lockhart. Grape nama buahku.”

“Elisa,” Elisa tersenyum dan menyalami Maya yang terlihat pemalu. Kemudian dia melihat ke Alex, “Dan kamu?”

Alex menengok menatap Elisa, “Alex Maxell, Papaya.”

“Asyik! Jadi ramai,” Bob bersemangat sekali. “Apa masih ada yang akan datang, ya?”

“Ada,” sahut Elisa. Elisa membuka bagasinya dan mengambil ranselnya. “Namanya Smith Walker. Kemaren aku bertemu dengannya.”

Gray segera menghampiri Elisa, “Biar kubantu.”

“Terima kasih,” kata Elisa sambil menyerahkan rasnelnya ke Gray.

Gray membawakan ransel Elisa ke dalam rumah. Elisa yang sudah penasaran segera mengikutinya bersama dengan yang lain. DIa melangkahkan kaki ke dalam rumah mewah keluarga Fruits untuk pertama kalinya.

“Besar sekali,” Elisa memandang kagum ruang utama Mystery Road House yang luas dan tinggi dengan delapan pilar utama yang memegahkan ruangan tersebut. Ada lukisan-lukisan langka yang bernilai seni tinggi tergantung di dinding. Di beberapa sudut ruangan berdiri guci-guci besar yang harganya pasti sangat mahal.

“Tapi sayang tidak ada penghuninya,” sahut Maya.

Elisa tidak percaya. “Tidak ada yang tinggal di sini?”

Bob mengangguk dan mendekati sebuah guci besar. “Ya, tadi saat aku ke sini pintu gerbang sudah terbuka. Pintu utama juga tidak terkunci. Aku sudah memanggil-manggil tapi tidak ada yang menyahut,” bob melihat ke Maya dan bicara dengan nada menakuti, “bahkan hantupun tidak.”

“Hentikan,” Maya tampak takut dengan hantu.

Elisa mendekati guci di dekat Bob dan menyentuhnya. “Tidak mungkin. Guci ini tidak berdebu. Pasti ada orang yang membersihkannya secara rutin. Pasti ada yang menjaga dan merawat rumah ini.”

“Aneh, ya,” kata Gray. “Padahal di internet dikatakan bahwa rumah ini tidak berpenghuni dan keluarga yang memiliki rumah ini seperti menghilang tanpa jejak sedikitpun.”

“Jangan-jangan ada hantuuu!” Bob kembali menakuti Maya.

“Jangan bicara seperti itu, ah!” Maya kesal.

Bob tertawa, “Dasar orang desa. Sama hantu saja takut. Makanya jangan di kampung terus. Jaman sekarang masih takut dengan hantu dan setan?!”

Omongan Bob menyakiti Maya. Maya diam saja. Elisa mendekati Maya dan memegang bahunya.

“Biarkan saja,” Elisa mencoba mendukung Maya.

“Tapi hantu itu memang benar-benar ada,” gumam Maya.

“Aaah! Omong kosong lagi,” Bob tidak mau mendengar dan keluar.

Maya ingin menangis, “Kemarin aku didatangi seorang perempuan muda yang hampir seusia denganku, kurasa.” Suaranya bergetar. Matanya berkaca-kaca.

Elisa langsung mengingat kejadian aneh yang dialaminya di tempat kerja. “Perempuan? Apa yang dia lakukan? Bagaimana wajahnya?”

“Cantik,” Maya mengingat, “rambutnya coklat sepundak.”

“Bagaimana dengan wajahnya? Apa ada luka bakar di wajahnya?” Elisa penasaran.

“Luka bakar? Tidak ada.”

“Apa yang dia lakukan padamu?”

“Entahlah,” jawab Maya. “Saat itu aku sedang berada di depan kaca dan tiba-tiba bayanganku di kaca berubah menjadi dia. Sepertinya ada sesuatu yang ingin diberitahukannya padaku.”

Elisa termenung memikirkan cerita Maya dan kejadian yang dialaminya kemarin. Apa perempuan yang mendatangi Maya sama dengan perempuan yang mendatanginya? Tapi tidak ada luka bakar.

“Elisa?” Maya menyadarkan Elisa dari lamunannya. “Kamu tidak apa-apa?”

Tiba-tiba terdengar suara mobil mendekat dari depan. Ada yang datang lagi. Bob dan Gray segera melihat keluar. Alex tetap menyandarkan tubuhnya ke pintu depan rumah sambil melihat ke luar. Elisa dan Maya juga ikut berjalan ke depan rumah.

Sopir membukakan pintu mobil. Seorang wanita keluar dari dalam mobil mengenakan kacamata hitam dengan kemeja ketat bewarna biru tua dan rok mini kulit bewarna coklat muda. Sopirnya bergegas mengeluarkan koper besar milik wanita itu. Coco keluar dari pintu mobil yang satunya.

“Hey!” Bob menghampiri, tampak tidak percaya. “Kamu Megan ‘kan? Megan Pillow?! Wow! Wow! Wow! Aku tidak percaya ini!” Bob menjadi sangat bersemangat.

Megan membuka kacamatanya. Bergantian dia melihat ke Bob, Elisa, Maya, Gray, dan Alex. “Untuk apa kalian di sini?”

“Kami…” Gray ingin menjawab tapi Bob langsung memotongnya.

“Kami mau ke Pulau X, Megan. Kami disuruh datang ke sini. Kamu juga diundang, ya? Aku tidak percaya ini!”

Tanpa melihat ke sopirnya, Megan memberikan tanda dengan tangannya untuk membawa kopernya ke dalam rumah. Dengan gayanya yang sombong, Megan melewati semuanya dan masuk ke dalam rumah. Coco dan sopirnya mengikutinya.

“Dia artis?” Tanya Maya pada Elisa yang mengangguk.
 “Semuanya jadi semakin menarik!” ujar Bob yang semakin antusias.

Sementara itu di tengah-tengah hutan, sebuah taksi berhenti.

“Hey! Kenapa berhenti?” Tanya wanita yang adalah penumpang taksi tersebut.

“Maaf. Saya tidak berani membawa Anda lebih dekat lagi,” jawab sopir taxinya. “Anda tahu sendiri betapa angkernya rumah itu.”

“Maksudmu aku harus berjalan kaki ke sana?!”

“Jaraknya sudah tidak begitu jauh.”

“Aku tidak percaya ini,” wanita itu kesal. “Cepat keluarkan barangku!”

Setelah mengeluarkan barang bawaan wanita itu, sopir itu pergi meninggalkan wanita itu sendirian di tengah-tengah hutan.

“Aku benar-benar tidak percaya ini,” wanita itu kembali mengeluh.

Sebuah mobil datang mendekatinya dan berhenti. Pria yang ada di dalamnya membukakan kaca mobil, dia adalah Smith Walker. “Butuh tumpangan ke Mystery Road House?”

“Cherry Milkwatt,” wanita itu memperkenalkan diri. Dia sudah berada di dalam mobil dan dalam perjalanan ke Mystery Road House. “Cherry, nama yang diberikan padaku.”

“Pas sekali.”

Cherry tersenyum. Wajahnya manis. Rambutnya pirang sepundak dan keriting. Nama buahnya sama dengan nama aslinya, Cherry.

“Kamu sendiri?” Tanya Cherry pada Smith.

“Smith Walker, Banana. Sepertinya kita sudah sampai.”

Smith memarkirkan mobilnya di dekat mobil-mobil yang lain.

“Hey, ada lagi yang datang!” Seru Bob yang bergegas menyambut.

Smith mengeluarkan tasnya dan koper Cherry dari bagasi mobil.

“Hi,” sapa Cherry saat melihat banyak yang sudah berada di Mystery Road House.

Coco dan Megan berjalan keluar diikuti yang lain. “Megan Pillow,” Coco tampak sedang berusaha mengubah pikiran Megan.

“You yakin mau ikut? Ini kesempatan terakhir you untuk kembali bersama Coco.”

“Ya, Coco, ini akan menjadi perjalanan yang menyenangkan,” sahut Megan.

Oh my gosh, up to you kalau begitu. Coco pergi.”

Coco dengan acuhnya berjalan ke mobil. “Satu miunggu lagi kami akan menjemputmu.”

Bye,” ujar Megan.

Coco masuk ke dalam mobil. Sopir menyalakan mesin dan mereka pergi meninggalkan Mystery Road House.

“Hi, Strawberry,” Smith langsung menyapa Elisa yang mendekatinya.

“Hi, Banana.”

Elisa memperkenalkan Smith dan Cherry dengan semuanya.

“Satu, dua, tiga, empat,” Bob menghitung orang-orang yang sudah datang, “lima, enam, tujuh, delapan. Delapan orang. Apa masih ada lagi, ya?”

“Lebih baik kita tunggu di dalam,” kata Alex yang segera kembali ke dalam rumah. Yang lain mengikutinya.

Semuanya sudah berada di ruang utama. Semua barang bawaan ditaruh di satu tempat di sebelah kiri. Mereka menunggu sekitar setengah jam, tapi belum ada yang datang lagi.

“Kita periksa rumahnya, yuk!” Bob yang bosan kembali bersemangat.

“Jangan,” larang Maya. “Ini ‘kan bukan rumah kita. Lagipula tempat ini begitu besar. Bagaimana kalau kita tersesat?”

“Penakut,” ujar Bob.

Tiba-tiba pintu depan bergerak dengan kencang dan langsung tertutup dengan sendirinya. Semuanya tersentak mendengar hantaman pintu yang kuat.

Alex segera mendekati pintu depan dan berusaha membukanya, “Tidak bisa.”

“Apa katamu?!” Gray tidak percaya dan membantu Alex. “Sial, terkunci!”

“Bagaimana mungkin bisa tertutup sendiri?” Maya menjadi cemas. “Pintu itu begitu besar. Angin tidak mungkin bisa menggerakkannya.”

Smith dan Bob berusaha membukanya juga tapi tidak berhasil.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” Tanya Cherry.

“Kurasa hanya kita berdelapan yang diundang,” kata Alex yakin.

Smith tersenyum, “Kamu menyadarinya juga, ya.”

“Apa maksud kalian?” Maya bingung.

Smith berjalan mendekati lukisan pemandangan. “Ya, kita berdelapan memang sudah ditunggu-tunggu.”

Maya menggeleng. Dia cemas. “Di… ditunggu siapa?!”

“Tenanglah, Maya.” Elisa menghampiri Maya dan memeluknya.

Bob menaiki tangga besar di ruang utama. “Kita tidak punya pilihan lain lagi selain memeriksa rumah ini.”

“Tunggu, aku ikut!” Gray ikut naik ke tangga. Mereka berdua membuka salah satu dari banyak pintu yang ada di atas, tapi terkunci. “Semuanya terkunci.” Gray kembali ke bawah bersama Bob.

Alex memperhatikan sekeliling ruangan. Ada beberapa pintu di sebelah kiri dan kanan.

Bob berjalan ke pintu di sebelah kanan. “Kita harus mencoba pintu yang lain. Aku tidak mau terkunci di rumah ini.” Gray mencoba membuka salah satu pintu. Terkunci. Dia mencoba pintu yang lain. Gray mendapat bagian di sebelah kiri.

“Apa-apaan ini?!” Keluh Megan. “Bagaimana mungkin artis seperti aku ini dikurung di rumah tua seperti ini?!”

Trek!

Bob membuka pintu. “Hey, terbuka!” Serunya dan segera melihat ke dalam pintu itu. Ada sebuah lorong panjang dengan lampu-lampu lilin tergantung di sebelah kanan dan kiri dinding. Semuanya menyala.

“Baiklah, hanya ini jalan kita satu-satunya,” kata Smith sambil membawa kopernya mendekati Bob.

Bob bergegas mengambil tas ranselnya dan menyusul Smith yang sudah berjalan masuk ke dalam lorong.

“Maya, ayo!” Elisa mengajak Maya mengambil kopernya.

“Hey!” Megan memanggil Gray yang sudah mau berjalan dengan tas ranselnya. “Bantu aku dengan koperku, sini.”

“Ba… baik,” Gray menurut dan membawa koper Megan. Cherry mengikuti mereka disusul oleh Elisa dan Maya. Alex yang terakhir.

Smith memimpin jalan. Mereka berjalan lurus sebelum bertemu persimpangan ke kiri. Kemudian ada sebuah pintu lagi. Smith membukanya. Angin berhembus sejuk. Smith bisa mencium angin laut. DIa masuk ke dalam pintu itu. Tapi ternyata bukan masuk ke dalam, tapi ke luar rumah. Smith menginjak pasir. Dia berada di pinggir pantai tepat di belakang rumah.

“Gila!” Bob terpukau.

“Ternyata ini rahasianya,” ujar Smith.

Yang lain sudah berada di pantai sekarang tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan. Sebuah rumah besar dengan pintu belakang tepat ke pinggir pantai.

“Hey, lihat!” seru Bob sambil menunjuk ke sebuah kapal di pinggir pantai. “Ada kapal ferry!” Bob segera berlari menuju kapal tersebut.

“Hey, tunggu, aku ikut!” Gray meninggalkan koper Megan dan berlari menyusul Bob.

“Hey, anak muda! Koperku!” Megan memanggilnya tapi tidak diindahkan.

“Keluarga Fruits pasti keluarga milyarder,” kata Cherry. “Mereka sampai punya pelabuhan dan kapal sendiri.”

“Ayo,” Smith berjalan ke kapal tersebut. “Kapal itu sudah dipersiapkan untuk kita.”

Cherry, Elisa, dan Maya mengikutinya.

“Hey, Alex ‘kan namamu?” Megan memanggil Alex. “Tolong bawakn koperku.”

Alex mengangkat alis dan mengacuhkan permintaan Megan. Dia menyusul yang lain ke kapal. Elisa tersenyum melihat Megan yang kesal dan terpaksa harus kesulitan membawa kopernya yang besar di atas pasir.

“Ini semua terlihat aneh,” kata Maya ragu.

“Dari awal semuanya sudah aneh,” respon Alex. “Kamu tidak pikir satu milyar akan semudah itu kamu dapatkan ‘kan?”

“Ya,” Cherry setuju. “Pulau X, ya.”

Tangga sudah diturunkan saat Bob dan Gray sampai ke kapal. Satu per satu berjalan ke dalam kapal. Bob dan Gray sudah keluyuran melihat-lihat kapal dan menemukan kabin-kabin dengan nama-nama samaran masing-masing tertempel di depan pintu. Masing-masing mendapatkan satu kabin. Beberap amenit kemudian semua tas dan koper sudah disimpan di dalam kabin masing-masing.

“Sejuknya!” Maya menghirup udara di dek kapal. Angin berhembus masuk melalui jendela.

“Kampungan,” hina Megan. “Aku haus. Mana ya dapurnya?”

Cherry menunjuk ke arah kanan, “di sana.”

Megan pergi ke dapur. Hanya ada Maya dan Cherry yang berada di dek kapal sekarang. Sementara Alex, Smith, dan Elisa sedang berbincang-bincang di buritan kapal (bagian depan kapal).

“Jadi Smith,” Elisa bertanya pada Smith, “apa yang membuatmu tertarik untuk ke sini?”

“Tentu saja uangnya,” jawab Smith sambil menyengir. “Aku hanya pekerja bangunan biasa. Satu milyar pasti akan sangat berguna untukku.”

“Bagaimana denganmu?” Alex bertanya pada Elisa. “Apa pekerjaanmu?”

“Penulis,” jawab Elisa.

“Dan apa yang membuatmu ke sini, nona Strawberry?” Smith ikut bertanya.

Elisa memandang ke lautan. Angin meniup rambutnya. “Entahlah. Uang satu milyar memang menggiurkan, tapi rasanya bukan itu alasan utamaku datang ke sini.”

“Apa maksudmu?” Tanya Smith.

“Sepertinya,” Elisa kembali mengingat peristiwa penampakan perempuan yang terbakar di tempat kerjanya, “ada yang menyuruhku untuk datang ke sini.”

Alex dan Smith saling melemparkan pandangan. Mereka tidak mengerti. Tiba-tiba kapal mulai bergerak.

“Hey!” Gray datang. “Apa yang terjadi?”

Smith tersenyum. “Kita berangkat sekarang—ke pulau X.

13 thoughts on “05. HARI PERTAMA

  1. Pingback: FRUITS – 04. THE FIRST DAY | Tjung Hanson

  2. Pingback: FRUITS – 05. HARI PERTAMA | HANSON TJUNG

  3. Pingback: FRUITS – 06. KELUARGA FRUITS | HANSON TJUNG

  4. Pingback: FRUITS – 07. PULAU X | HANSON TJUNG

  5. Pingback: HANSON TJUNG

  6. Pingback: FRUITS – 08. HARI KEDUA | HANSON TJUNG

  7. Pingback: FRUITS – 08. HARI KEDUA | HANSON TJUNG

  8. Pingback: FRUITS – 09. HARI KETIGA – HANSON TJUNG

  9. Pingback: FRUITS – 10. HARI KEEMPAT – HANSON TJUNG

  10. Pingback: FRUITS – 11. HARI KELIMA – HANSON TJUNG

  11. Pingback: FRUITS – 12. HARI KEENAM – HANSON TJUNG

  12. Pingback: FRUITS – 13. GERHANA – HANSON TJUNG

  13. Pingback: FRUITS – 14. MYSTERY ROAD HOUSE – HANSON TJUNG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s