06. KELUARGA FRUITS

Semua sudah berkumpul di restoran kapal. Banyak makanan yang sudah tersedia di sana dengan berbagai macam camilan dan minuman. Smith benar. Semuanya seakan sudah dipersiapkan bagi mereka berdelapan.

“Sudah lama aku tidak makan makanan seenak ini,” kata Bob sambil menyantap camilannya.

“Betul,” Gray mengangguk setuju.

“Hey, hey!” Smith mengambil perhatian semuanya. Dia baru mengambil sebotol wine dari kulkas. “Lihat apa yang kutemukan!”

“Saatnya bersulang!” Bob bergegas mengambil gelas-gelas dan memberikannya kepada semua. Gray membantunya.

Smith, Bob, Gray, Alex, Elisa, Megan, Cherry, dan Maya berdiri melingkar dengan gelas yang sudah diisi wine.

Smith mengangkat gelasnya. “Demi satu milyar!”

“Demi satu milyar!” seru yang lain bersamaan sambil mengangkat gelas masing-masing, bersulang, dan meminumnya.

“Mantap!” Seru Bob.

Gray melanjutkan memakan santapannya. Maya tampak pusing. Dia memegang kepalanya. Cherry yang menyadarinya segera mendekatinya.

“Kamu tidak apa-apa, Maya?”

Maya menggeleng sambil memegang kepalanya.

“Aku mau jalan-jalan dulu, ya,” kata Bob dan berjalan meninggalkan restoran.

“Kepalaku sakit. Aku… aku perlu istirahat,” kata Maya sambil berjalan perlahan. Tapi tiba-tiba dia kehilangan kesadaran dan jatuh pingsan.

“Bob!” Seru Elisa saat melihat Bob yang juga jatuh tidak sadarkan diri di dekat pintu. Pandangan Elisa menjadi kabur sesaat. Dia tidak bisa melihat dengan jelas. Kepalanya mulai pusing.

“Kita diracuni,” ujar Smith yang sudah pucat dan perlahan kehilangan kesadarannya.

Smith jatuh. Elisa duduk menyender ke dinding dan tidak sadarkan diri. Alex berusaha menahan Megan yang rebah ke arahnya. Tapi dia juga ikut tidak sadarkan diri beberap detik kemudian. Cherry dan Gray juga pingsan bersamaan dengan mereka. Semua tidak sadarkan diri.

***

Bayang-bayang. Alex melihat bayang-bayang. Dia menutup kembali kedua matanya beberapa saat. kepalanya masih berputar-putar. Kemudian dia membukanya kembali. Kesadarannya sudah kembali. Dia mencoba bangun tapi tubuh Megan menindihnya.

“Hey,” Alex menyadarkan Megan.

Megan sadar. “Apa yang terjadi?”

Smith dan Elisa sadar. Diikuti dengan yang lain kecuali Maya. Elisa bergegas mendekati Maya dan menyadarkannya.

“Kepalaku pusing sekali,” kata Bob sambil memegang kepalanya.

“Maya, kamu tidak apa-apa?”

Maya melihat ke Elisa yang membangunkannya. Wajahnya pucat. Dia lemas.

“Pasti wine ini,” Smith mengambil botol wine yang sebelumnya dia ambil dari kulkas. “CUma ini yang kita minum bersama-sama.”

Gray membantu Cherry berdiri. Cherry melihat ke Smith dan mengutarakan kebingungannya, “Tapi kenapa mesti ada racun di minuman itu? Untuk apa? Semua ini aneh. Pertama kita mendapat surat misterius. Kemudian pintu rumah yang tertutup sendiri dan lorong yang membawa kita ke pantai. Lalu kapal ini yang bergerak sendiri. Dan sekarang kita semua diracuni.”

“Tunggu dulu!” Alex menyadari sesuatu. “Bergerak! Kapal ini bergerak! Siapa yang menggerakkannya?!”

Dengan cepat Alex berlari ke ruang kemudi. Yang lain mengejarnya. Ada seseorang yang mengemudikan kapal. Itu berarti ada orang lain selain mereka berdelapan. Alex sampai di pintu ruang kemudi. Dia membukanya, tapi terkunci.

“Bagaimana?” Tanya Elisa yang sampai bersama Smith dan yang lain.

“Dikunci,” jawab Alex dan langsung mendobrak pintu ruang kemudi. Tidak berhasil.

Smith maju. “Sama-sama,” ujar Smith yang bersiap-siap mendobrak pintu. “Satu, dua, tiga!”

Smith dan Alex maju dan menabrakkan dirinya ke pintu. Berhasil. Pintu terbuka. Mereka segera masuk ke dalam diikuti yang lain. Kosong. Tidak ada seorang pun di dalam. Alex segera mengecek roda kemudi kapal. Bergerak sendiri.

Autopilot,” kata Smith setelah memperhatikan monitor di dekat roda kemudi.

“Tunggu dulu,” Megan mendekati Smith. “Maksudmu kapal ini bergerak sendiri dari tadi?”

Smith mengiyakan dengan anggukan.

“Tapi pasti ada yang mengatur autopilot ini sebelum kapal bergerak,” kata Elisa.

“Kita tidak menyadarinya saat itu,” ujar Alex.

“Jika memang benar ada yang mengaturnya,” ujar Bob. “Orang itu pasti sudah pergi.”

Alex menyahut, “Atau bersembunyi di kapal ini.”

Smith mengangkat wajahnya. “Dia benar. Kita periksa kapal ini.” Smith meninggalkan ruang kemudi untuk memeriksa kapal.

“Tunggu!” Seru Bob. “Aku ikut!”

Gray juga menyahut, “Aku juga!”

Maya masih pucat dan lemas. Cherry menghampirinya. “Kamu harus istirahat. Biar aku antar kamu ke kamarmu.” Cherry mengantar Maya ke tempat istirahat Maya.

Megan mendekati Alex. “Kamu tidak ikut cari?”

“Aku akan menjaga tempat ini. Siapa tahu orang itu akan kembali ke sini.”

Megan mengangkat kedua bahunya dengan cuek dan meninggalkan ruang kemudi. Elisa menatap Alex dengan penuh curiga.

“Ada apa?” Tanya Alex.

“Apa mungkin salah satu dari kita yang melakukannya?”

Alex menyandarkan bagian bawah tubuhnya ke meja monitor.

“Maksudku,” Elisa melanjutkan, “Selama ini hanya ada kita berdelapan saja. Bisa saja salah satu dari kita yang menjalankan kapal.”

“Semuanya bisa menjadi pelakunya, kalau begitu.”

Elisa menggeleng, “Kamu salah. Saat kapal bergerak aku, kamu, dan Smith sedang bersama-sama di buritan. Ingat?”

“Kamu yang salah,” tukas Alex. “Untuk mengatur autopilot, dibutuhkan waktu lima menit sebelumnya untuk mempersiapkan segalanya baru kapal ini bisa bergerak. Lima menit sebelum kapal ini bergerak, kita tidak bersama ‘kan?”

“Kalau begitu semua bisa melakukannya.”

Alex menatap tajam ke Elisa, “Termasuk kamu, Strawberry.”

Elisa merasa dicurigai. Keadaan di ruang kemudi menjadi tegang. Elisa juga mencurigai Alex. “Aku akan pergi membantu yang lain.”

Elisa segera meninggalkan Alex. Dia berjalan perlahan demi perlahan di dek kapal. Suara langkah kakinya menggema di sekeliling dek. Dia terus berjalan lurus. Hanya ada dia sendiri saat itu—sampai dia melihat ada seseorang berdiri mengahadapnya beberapa meter di depan.

Elisa menghentikan langkahnya sambil memperhatikan orang itu. “Cherry?” Elisa memanggilnya. Postur tubuh orang itu mirip dengan Cherry.

Tidak ada jawaban. Elisa yang penasaran mendekatinya. Namun orang itu berbalik dan berjalan menjauhi Elisa.

“Hey, tunggu!” Elisa segera mendekatinya dengan cepat. Orang itu berjalan tenang dan berbelok kiri. Elisa sudah berlari untuk mengejarnya dan dia sampai ke belokan. Tidak ada siapa-siapa. Hanya sebuah pintu yang sudah tua di sana.

Elisa menelan ludahnya. Ada rasa penasaran dan juga takut yang meliputinya sekarang. Tapi dia memberanikan diri mendekati pintu tua itu. Orang itu ada di dalam. Siapa dia? Cherry sudah pasti menjawabnya saat dipanggil. Pasti orang itu bukan Cherry. Elisa menjulurkan tangannya untuk meraih gagang pintu. Tapi dia berhenti karena dia merasakan sesuatu. Elisa menyadarinya. Di belakangnya sudah berdiri sosok perempuan dengan rambut hitam yang menutupi wajah sampai ke dada.

Tangan Elisa gemetaran. Dia tidak berani menengok ke belakang. Bulu kuduknya sudah berdiri. Dia sangat ketakutan sekarang. Perempuan di belakangnya mengangkat tangan kanannya perlahan-lahan ke arah bahu kanan Elisa. Elisa menutup matanya sesaat untuk berpikir. Nafasnya tidak teratur. Apa yang harus dilakukannya? Elisa membuka mata dan melihat pintu tua di depannya.

Tanpa berpikir panjang, Elisa meraih gagang pintu dan mencoba membukanya. Tapi terkunci! Elisa menggeleng. Tangan perempuan itu sudah semakin dekat untuk memegang bahu Elisa. Tidak ada jalan lain. Hanya satu. Elisa harus menghadapinya.

Elisa berbalik dan berteriak, “Siapa kamu?!”

“Elisa?” Megan memanggil dari beberapa meter di depan Elisa.

Elisa melihat ke Megan. Dia kebingungan. Perempuan itu menghilang begitu saja. Kejadian tadi sudah membuat Elisa sangat ketakutan.

“Elisa,” Megan memanggil kembali. “Kamu ngapain di sini?”

Elisa merapikan rambutnya ke belakang. “Aku sedang membantu memeriksa kapal.” Elisa segera meninggalkan Megan. Dia merasa ingin sendirian sekarang.

***

Sudah jam sebelas siang. Semuanya sudah berkumpul di buritan kecuali maya yang sedang istirahat.

“Aku sudah mengecek semuanya,” kata Smith.

“Ya,” Bob menyahut. “Tidak ada satu manusia pun.”

Megan tampak santai. “Ya sudahlah, kita turuti saja apa kemauan orang itu. Toh taruhannya satu milyar.”

Cherry melihat ke depan dan segera memanggil yang lain. “Hey, lihat!”

Putih. Di depan putih semua. Tidak terlihat apapun. Kabut tebal menutupi laut di depan mereka.

“Pantas aja pulau itu tidak pernah ditemukan,” kata Alex.

Smith mengangguk. “Pulau X, pulau yang terselubung.”

“Pulau X,” Elisa mempertanyakan pulau X. “Pulau seperti apa itu, ya?”

“Kamu tidak tahu ceritanya?” Tanya Bob.

“Yang aku tahu pulau X dulunya ditinggali oleh keluarga Fruits.”

Bob menertawai Elisa. “Kamu tidak tahu apa-apa, Strawberry. Pulau X itu,” Bob melihat ke arah kabut. Mereka sudah masuk ke dalam kabut tebal tersebut, “adalah pulau neraka.” Bob membuat semuanya menjadi tegang. Ditambah kabut tebal yang terasa mistis.

“Apa maksudmu, Bob?” Tanya Cherry.

Bob melihat ke Cherry. “Kamu pikir keluarga Fruits itu hilang begitu saja? Tidak mungkin itu. Mereka tidak hilang,” Bob menatap bergantian ke orang-orang di sekitarnya. “Mereka mati semua.”

“Kamu hanya mencoba menakuti kami saja,” Megan menganggap enteng perkataan Bob.

“Oh, ayolah. Aku ini wartawan profesional, Bob Miller. Aku tahu segalanya.”

“Beritahu kami semua yang kamu tahu,” Smith juga ikut penasaran.

“Baiklah,” Bob mulau bercerita, “Keluarga Fruits itu termasuk salah satu keluarga terkaya di dunia. Ciri khas keluarga ini adalah semua anggota keluarga intinya mendapat nama buah-buahan.” Bob melihat ke Alex, “Papaya. Kamu adalah sang kepala keluarga.” Bob melihat ke Cherry, “Cherry, kamu istri Papaya. Dan mereka,” Bob mendekati Elisa, “memiliki tiga anak—Strawberry, Grape, dan Mango.”

“Seperti yang kita ketahui, mereka menghilang sejak enam bulan yang lalu. Enam bulan sebelumnya mereka kedatangan seorang tamu, seorang perempuan cantik bernama Terry Jelmer. Terry adalah saudara kembar Cherry. Dia datang untuk memberitahu Cherry sesuatu.”

“Ibu telah meninggal,” kata Terry pada Cherry. Wajah mereka sangat mirip. Hanya saja rambut Terry keriting, sedangkan Cherry lurus. “Sekarang aku sudah tidak punya siapa-saiapa lagi. Hanya kamu keluargaku sekarang.”

Cherry mendekati Terry dan memeluknya. “Tinggalah bersamaku di sini.”

“Tapi kamu sudah berkeluarga.”

“Aku akan meminta kepada suamiku. Dia pasti mengijinkan.”

“Terima kasih.”

Cherry melihat ke Terry yang tersenyum dan memeluknya.

“Terry Jelmer mengubah namanya menjadi Apple.”

Megan bergidik. Apple adalah nama samarannya.

“Satu bulan kemudian terjadilah hal yang tidak diinginkan. Apple dan Papaya terlibat hubungan asmara. Tapi itu adalah rahasia mereka berdua. Hanya ada satu orang yang mengetahui rahasia kecil mereka. Dia adalah Coconut, kepala pelayan di keluarga Fruits yang mendapat hak istimewa untuk mengganti namanya menjadi nama buah juga. Dia sangat setia pada Papaya. Hubungannya dengan Papaya sudah seperti saudara.”

“Lalu apa yang terjadi kemudian?” Megan menanyakan kelanjutan ceritanya.

“Apple hamil,” lanjut Bob. Mata Elisa dan Cherry membesar mendengarnya. “Papaya harus bertanggungjawab dan mereka terpaksa memberitahukan hal tersebut kepada Cherry. Cherry yang tertekan pergi ke pantai untuk menenangkan dirinya. Di sana dia bertemu dengan Banana, kakak laki-laki Papaya.”

“Kenapa? Kenapa dia melakukan itu?” Tangis Cherry.

“Menangislah,” Banana menarik Cherry ke dadanya.

Setelah agak tenang. Cherry mengangkat wajahnya. “Terima kasih, Banana.”

“Kamu ini wanita yang tegar, Cherry. Aku tahu itu.”

Cherry tersenyum, “Kamu tidak tahu itu.”

Banana balas tersenyum. “Mungkin kamu tidak menyadarinya. Aku selalu memperhatikanmu. Sudah lama sekali aku memperhatikanmu, Cherry.” Banana mendekatkan wajahnya ke Cherry. Cherry  yang rapuh hanyut dalam pesona Banana. Setelah beberapa detik saling bertatapan, bibir mereka saling berjumpa.

“Cherry!” Teriak Papaya.

Cherry dan Banana melonjak dan bangkit berdiri. Papaya marah sekali.

“Dasar wanita murahan! Pelacur!” Papaya menampar Cherry. Cherry menjerit kesakitan.

“Hentikan! Ini bukan salah Cherry,” Banana berusaha menenangkan adiknya.

“Diam kamu!” Bentak Papaya. “Aku sudah mejamin hidupmu di sini. Tapi kamu malah tidak tahu berterima kasih!”

Dengan cepat pukulan Papaya melesat ke Banana. Banana jatuh. Papaya terus memukulinya. Cherry berusaha menghentikannya, tapi Papaya malah mendorongnya hingga jatuh. Pukulan demi pukulan dilayangkan ke wajah Banana. Papaya sudah penuh dengan kebencian sekarang.

“Kamu akan membunuhnya, Papaya. Hentikaaan!” Cherry memohon sambil menangis.

“Mati kamu!” Papaya mengambil sebuah batu besar dan menghantamkannya ke kepala Banana.

“Akh!” Banana menjerit kesakitan. Dia tidak berdaya. Wajahnya sudah babak belur dan berlumuran darah. Kesadarannya sudah hampir hilang.

Papaya kembali memukulnya dengan batu yang diambilnya. Terus menerus sampai Banana tidak bergerak lagi.

“Tidaaak,” Cherry  menangisi Banana.

Papaya sadar dengan apa yang telah diperbuatnya. Dia membuang batunya. Matanya membelalak menyaksikan kakak kandungnya yang sudah tidak bernyawa.

“Kamu… kamu membunuhnya….” Cherry menangis kencang.

“Keesokan paginya Banana dikubur. Sejak itu Cherry menjadi sangat tertutup. Dia tidak pernah keluar kamar. Bahkan waktu suaminya menikah lagi dengan Apple, dia hanya mengurung dirinya.”

“Menyedihkan sekali,” Elisa simpati dengan Cherry.

“Itu belum seberapa,” tukas Bob. “Itu hanyalah awal, awal dari penderitaan Cherry. Apple menjadi nyonya yang yang jahat di sana. Dia senang berfoya-foya dan dia selalu menghina Cherry beserta ketiga anaknya.”

Apple masuk ke dalam kamar Cherry. Rambut Cherry terurai berantakan menutup wajahnya. Perawakannya sangat mirip dengan perempuan yang baru menampakan diri pada Elisa di kapal.

“Cherry, kakakku yang tercinta,” Apple menyapa dengan sinis. 

“Apa maumu?!”

Apple meringis. “Aku hanya ingin melihat keadaanmu. Aku dengar kamu menjadi gila sekarang, Aku jadi cemas. Apalagi Papaya sedang pergi untuk beberapa hari.” Apple mendekati wajah Cherry. “Akulah yang berkuasa saat ini. Kamu hanya istri gila yang sudah dibuang.”

Cherry sontak emosi dan mencekik Apple. Apple kaget dan jatuh ke lantai. Cherry terus mencekiknya.

“Apa maumu?!” 

Papaya masuk ke dalam dan segera menarik Cherry. “Apa yang kamu perbuat?!”

Cherry tidak percaya. Apple membohonginya. Papaya masih belum pergi. Dia masih di sini. 

Apple terbatuk-batuk. “Cherry, maafkan aku. A… aku…” Air mata Apple jeluar. Dia menangis atau lebih tepatnya pura-pura menangis.

“Ada apa ini?!” Papaya mendesak untuk mengetahui apa yang baru saja terjadi.

Apple kembali menangis. “A… aku hanya ingin berbicara dengan Cherry karena nanti malam kamu mau pergi. Aku mau meminta dia untuk menemaniku di saat kamu tidak ada. Tapi Papaya… dia… dia malah…” Apple tidak bisa melanjutkan perkataannya dan kembali menangis. Papaya memeluk Apple berusaha menenangkannya. 

Cherry memelototi Apple. Dia sangat marah. “Pembohong!” Dia langsung mendekati Apple dan mau mencekiknya kembali.

“Hey, hentikan!” Papaya mendorong Cherry. “Kamu sudah gila apa?! Apple ini adik kandungmu! Kamu terlalu berbahaya. Aku tidak bisa membiarkan kamu di sini saat aku pergi!”

Cherry menatap ke Papaya.

“Kamu akan kubawa ke rumah kayu,” Papaya melanjurkan.

Strawberry, Grape, dan Mango datang.

“Ada apa, pa?” Tanya Strawberry.

“Straw, kamu bawa mamamu ini ke rumah kayu. Tidak boleh ada yang mengunjunginya selama di sana. Jaga mamamu baik-baik, Strawberry. Jangan sampai dia meninggalkan rumah kayu sebelum papa kembali.”

Cherry menyimak dan menjadi simpati. “Dia diasingkan?”

Bob mengangguk. “Rumah kayu adalah tempat yang sangat jauh. Orang yang ke sana harus mendaki ke balik gunung untuk bisa sampai ke rumah itu. Rumah kayu bagaikan tempat pengangsingan. Strawberry harus membawa Cherry dan tinggal di rumah kayu tanpa diperbolehkan bantuan dari yang lain selama Papaya pergi.”

“Kasihan,” Elisa juga bersimpati.

Bob tersenyum. “Kalian tidak akan percaya apa yang terjadi kemudian,” kata Bob sambil memperhatikan reaksi semua yang penasaran. “Tiga hari kemudian rumah kayu itu terbakar habis.”

“Tidak.” Cherry merasa iba.

“Dan kebakaran itu adalah sesuatu yang disengaja karena pincu terkunci rapat saat kebakaran terjadi sementara Cherry dan Strawberry ada di dalamnya. Untungnya Cherry berhasil diselamatkan walaupun dia menderita luka bakar yang cukup parah.Orang-orang yang berada di dekat rumah kayu berhasil mengeluarkannya saat melihat adanya asap api. Tapi,” Bob menjeda ceritanya sesaat, “Strawberry tidak berhasil diselamatkan.”

Cherry menutup mulutnya.

“Strawberry mati terbakar?” Tanya Gray yang terlihat shock.

“Cherry begitu trauma hingga jiwanya mulai terganggu,” cerita Bob berlanjut.

“Cherry,” Apple memanggil Cherry yang diam saja duduk di dalam kamar. “Aku tidak bisa menahannya lagi. Beban ini begitu berat. Aku harus memberitahukannya kepadamu.”

Cherry tidak memberikan respon.

Apple melanjutkan, “Maafkan aku, Cherry. Sebenarnya aku tidak bermaksud untuk mengambil nyawa Strawberry. Alasanku membakar rumah kayu itu adalah karena aku sangat ingin kamu, MATI!”

Cherry terpancing. Dia menatap marah Apple. Dengan cepat dia menjambak Apple.

“Akh! Papayaaa!”

Cherry mengambil sebuah gunting yang ada di meja. 

“A… apa yang mau kamu lakukan?! Tolong!” Apple panik dan langsung bangun keluar dari dalam kamar. Coconut sudah berdiri di luar.

“Coconut!” Apple memanggil. “Kenapa kamu diam saja?! Tolong aku!”

“Aku mendengarnya,” balas Coconut. “Kamu yang membakar rumah kayu itu. Kamu yang membunuh nona Strawberry.”

“Dasar budak!” Apple meneriaki Coconut.

Papaya datang dan langsung menghampiri Apple. “Ada apa lagi ini?!”

Tiba-tiba dari dalam kamar Cherry menerjang ke Apple dan Papaya. Wajahnya yang penuh dengan luka bakar dan ditutupi rambut panjangnya mulai terlihat. “Wanita iblis!” Cherry menyerang Apple dengan gunting di tangannya.

“Hentikan!” Papaya melindungi Apple. Lengannya tertusuk gunting Cherry. Papaya menjerit dan langsung menampar Cherry. “Wanita gila!” Guntingnya jatuh ke lantai.

Cherry menangis. Dia memelototi Papaya dengan sangat marah. “Buta. Kamu telah dibutakan wanita iblis itu.”

Apple mendekati Papaya dan meringis ketakutan. Tapi dia tersenyum senang melihat ke Cherry dan Coconut.

Coconut segera memapah Cherry kembali ke dalam kamar.

“Wanita iblis?!” Papaya gusar. “Yang iblis itu justru kamu! Kamu memang sudah gila!”

Teriakan Papaya menggema. Mango dan Grape datang.

“Pa…” Grape memanggil Papaya dengan lembut. Dia takut mendekati Papaya.

Papaya sudah dipenuhi kemarahan. “Wanita gila ini harus segera dihabisi. Jika tidak akan ada banyak yang jadi korbannya!” Papaya mengambil gunting yang jatuh. Darahnya masih menempel di gunting itu. Kemudian dia berjalan ke dalam kamar Cherry.

“Paaa!” Mango dan Cherry hanya memanggil. Mereka sangat ketakutan.

Coconut baru saja mau menutup pintu kamar saat Papaya mendobraknya dengan keras. Coconut terpental. “Tu… tuan, apa yang mau kamu lakukan?” Tanya Coconut saat melihat Papaya yang membawa gunting yang berdarah.

Papaya dan Cherry saling bertatapan.

“Mati kamu!” Papaya menyerang Cherry.

Mango segera memeluk perut Papaya. “Pa, hentikan! Kumohon, pa!”

Papaya dengan keras mendorong Mango hingga jatuh. Mango menjerit kesakitan. Grape menolongnya. Sekarang Papaya berpaling ke Mango. “Kamu ini anak pembunuh! Kamu juga seharusnya mati!” Papaya menghampiri Mango. 

Mango semakin takut. Grape memeluknya erat berusaha melindungi adik laki-lakinya.

“Hentikan,” ujar Cherry pelan.

Papaya berbalik melihat Cherry.

“Tidak ada yang boleh melukai anakku,” kata Cherry, tegas.

“Oh, jadi kamu mau melindungi anakmu ini?!” Papaya sudah tidak bisa berpikir jernih. “Aku jadi curiga. Jangan-jangan Mango ini bukanlah anakku. Jangan-jangan dia ini hasil perzinahan kamu dengan kakakku?!”

Cherry  mengerutkan dahi. Dia terkejut dengan perkataan Papaya. Perlahan dia melihat ke Papaya dan dengan yakin dia berseru, “Aku tidak pernah berzinah! Yang berzinah itu KAMU!”

“Kamu…,” Papaya tidak tahu harus berkata apa. “Baiklah. Kalau begitu kita lihat saja darah siapa yang dimiliki anak ini!” Papaya berbalik dan menarik Mango.

“Pa, jangaaan!” Mango meringis.

“Pa, hentikaaan, pa!” Grape menangis sambil menahan Mango.

Papaya dengan kuat mendorong Grape. Grape hampir jatuh kalau Coconut tidak menangkapnya duluan.

“Paaa… tolong, pa…,” Mango menangis semakin keras.

“Jangan lakukan itu,” ujar Cherry. “Dia adalah anakmu.”

“Kita buktikan saja, kalau begitu,” kata Papaya dan langsung menusuk perut Mango.

“Tidaaak!” Grape histeris.

Mango membelalak. Darah mengucur deras saat Papaya menarik guntingnya. Mango berlutut dan rebah menyamping.  Kesadarannya mulai menghilang. 

Cherry diam saja menyaksikan kejadian itu. Hatinya benar-benar hancur. Beberapa detik dia terdiam sampai akhirnya dia mengeluarkan kata-kata dengan tenang. “Kamu telah masuk ke dalam lubang besar yang kamu gali sendiri.”

Papaya berbalik mendekati Cherry. Mango sudah terkapar tak bernyawa dengan darah di sekelilingnya.

“Bunuh aku,” kata Cherry, masih tenang. “Aku lebih baik mati daripada tinggal di neraka seperti ini denganmu.”

“Seperti yang kamu minta!” Papaya mengangkat guntingnya.

Grape berteriak, “Hentikaaan!” Tiba-tiba Grape kesakitan. Dia memegangi dada kirinya. Beberapa detik kemudian dia jatuh dan tak sadarkan diri.

“Grape kenapa?” Tanya Cherry.

“Oh ya, aku belum bilang, ya? Grape itu punya penyakit jantung. Turunan dari ayahnya,” Bob menjelaskan.

“Apa dia mati?” Tanya Megan.

Papaya menurunkan guntingnya. “Besok pagi kamu akan dibawa ke kota. Aku tidak mau melihat kamu di sini lagi,” kata Papaya kepada Cherry. Lalu dia beralih ke Coconut. “Panggilkan dokter.”

Papaya pergi bersama Apple yang terlihat begitu puas. Coconut segera membawa Grape pergi untuk diobati. Cherry dia sejenak melihat ke jasad Mango. Lututnya lemas. Dia berlutut dan menangis dengan sangat sedu. Hanya itu yang bisa dilakukannya. Dua anaknya sudah meninggal. Sekarang dia harus pergi meninggalkan anak satu-satunya yang masih hidup.

“Grape tidak bisa bertahan,” lanjut Bob. “Dia tidak sempat diselamatkan. Cherry sudah tidak punya alasan untuk hidup lagi. Paginya dia dibawa dengan kapal ke Mystery Road House. Tapi dalam perjalanan, Cherry menggangtungkan dirinya di salah satu kabin kapal.”

“Ya, ampun,” Cherry menjadi sangat sedih. Megan dan Elisa juga terlihat tidak percaya dengan kisah tragis Cherry, istri Papaya.

Bob meneruskan kembali ceritanya, “Coconut sudah tidak bisa menyimpan rahasia itu lagi. Dia akhirnya menceritakan semuanya kepada Papaya.”

“Berani sekali kamu berkata seperti itu!” Papaya yang tidak percaya meneriaki Coconut.

“Percayalah padaku, tuan,” Coconut berusaha meyakinkan Papaya. “Nyonya Apple itu lebih jahat dari iblis.”

Papaya menggeleng. “Aku tidak percaya,” ujarnya. “Dengar! Kamu jangan main fitnah! Saat ini hanya kamu satu-satunya orang yang bisa kupercaya. Jangan kecewakan aku.”

“Tapi tuan…”

“Pergilah,” Papaya mengusir Coconut. “Tidak ada lagi yang perlu kamu jelaskan.”

Coconut yang kecewa pun keluar dari ruang kerja Papaya. Dia tidak tahu kalau Apple menguping. Coconut akan menjadi penghalang utama Apple. Dia harus disingkirkan. Apple merencanakan sesuatu.

Malamnya tepat saat Coconut selesai mandi, Apple menarik Coconut ke kamarnya dengan paksa. Apple menutup pintu kamarnya. Coconut yang hanya mengenakan handuk kebingungan.

“Ada apa ini?”

Apple menatap Coconut dengan nafsu. Dia mendekati Coconut. Perlahan tangannya meraba wajah Coconut dan turun ke dada Coconut. “Kamu tahu?” Rayunya. “Kamu pria yang tampan dan seksi. Aku menyukaimu.”

Apple menciumi Coconut. Coconut entah kenapa malah terpengaruh. Dengan penuh hasrat, Coconut mendorong Apple ke ranjang dan mulai membuka pakaian Apple. Pintu terbuka. Papaya masuk ke dalam.

“Lepaskan!” Apple tiba-tiba menjerit. “Lepaskan aku! Tolong!”

Coconut sadar Papaya ada di dalam kamar. Dia dijebak. Apple segera memakai kembali pakaiannya dan sambil menangis dia berlari ke Papaya.

“Tolong, dia mau memperkosaku. Padahal aku sedang hamil,” tangis Apple.

Coconut tidak bisa apa-apa lagi. Dia benar-benar terjebak.

“Dasar brengsek!” Papaya berteriak kencang. “Kenapa semua orang mengkhianatiku?!”

“Bukan semua orang,” Coconut memberanikan diri menukas Papaya. “Hanya satu orang.” Coconut melihat ke Apple. Applelah yang mengkhianati Papaya dari awal. Hanya Apple.

“Ya, orang itu hanya kau!” Papaya membentak Coconut. Tiba-tiba dia terkena serangan jantung. Papaya jatuh dan kejang-kejang.

“Tuan!”

“Papaya mengalami stroke. Dia harus terbaring di ranjang. Dia tidak bisa berjalan dan tidak bisa berkata-kata lagi,” Bob masih terus bercerita. Cherry merasa sangat sedih mendengarnya. “Dua bulan kemudian saat keadaan Papaya mulai lebih baik, Apple membawa surat wasiat Papaya untuk ditandatangani.”

Papaya menandatangani surat wasiatnya. Tertera di surat itu kalau ahli waris utama adalah Apple. Seluruh harta Papaya diserahkan kepada Apple karena saat ini hanya Applelah anggota keluarga Fruits yang tersisa.

“Terima kasih ya, sayang,” Apple menciumi pipi Papaya. Papaya tersenyum. Apple melihat ke Papaya dan mengelus rambut Papaya. “Sekarang aku mau jujur sama kamu. Sebenarnya Coconut benar.”

Raut muka Papaya berubah. Dia kebingungan. Apple tersenyum dan melanjutkan, “Iya, sayang. Akulah yang membakar rumah kayu dan membuat Strawberry hangus terbakar.”

Mata Papaya membelalak.

“Kemudian aku menekan adik kandungku sendiri, Cherry, sehingga dia menjadi tidak waras. Hahaha! Lalu, lalu, si Coconut itu—Coconut itu juga aku yang jebak hahaha!”

Mulut Papaya bergerak seperti mau mengutuki Apple. Tapi jantungnya sakit. Dia perlahan memegangi dada kirinya.

Apple bangun dari tempat duduknya dan mengambil bantal yang disandar kepala Papaya. “Selamat tinggal, Papaya sayang.” Apple menutup wajah Papaya.

Papaya yang tidak berdaya akhirnya meninggal. Apple tertawa terbahak-bahak. Dialah pemenangnya. Dia tidak menyadari ada seseorang yang membuka pintu dan masuk ke dalam. Orang itu mengenakan sarung tangan dan membawa sebuah kawat panjang. Orang itu adalah Coconut. Dengan cepat Coconut melilitkan kawat ke leher Apple.

Apple tercekik dan meronta-ronta. Tapi Coconut semakin kuat mencekiknya. “Mati kau, iblis!”

“Ka… kau…”

“Ya! Aku datang untuk balas dendam, wanita iblis!”

Leher Apple memerah. Mukanya membiru. Apple yang tidak bisa bernafas mulai kekurangan oksigen dan akhirnya meninggal.

“Itulah akhir keluarga Fruits,” Bob menyelesaikan ceritanya.

Semuanya masih tidak percaya dengan apa yang terjadi pada keluarga Fruits.

Smith maju dan bertanya, “Bob, Coconutnya bagaimana?”

“Setelah mengubur jasad Papaya dan Apple, Coconut bunuh diri.”

“Bunuh diri?!” Megan tidak percaya.

Bob mengangguk. “Coconut memang selalu menjadi pelayan yang setia. Para pembantu yang lain menguburnya di dekat kubur Papaya. Akhirnya semua pun meninggalkan pulau. Pulau itu menjadi terbengkalai.”

“Kisah yang menarik,” kata Elisa. Insitngnya sebagai penulis membuatnya suka dengan cerita-cerita yang menarik.

“Hey, aku bisa melihat pulanya!” Gray berseru sambil menunjuk ke depan. Kabut sudah terlewati dan ada sebuah pulau terlihat.

“Kita sampai,” ujar Cherry merasa sedikit cemas.

“Sebaiknya kita siap-siap,” kata Smith. “Aku akan mengambil barang-barangku.”

Tidak berapa lama kemudian semua sudah kembali ke kabin masing-masing untuk mengambil barang-barang mereka.

Maya terbangun dari tidurnya. Dia membalikkan badannya untuk terlentang. Penglihatannya masih kabur. Dia masih merasa lelah. Tapi tiba-tiba dia dikejutkan dengan seorang perempuan yang berdiri di samping ranjangnya. Perempuan dengan rambur coklat sepundak. Grape, dia adalah Grape yang sudah meninggal.

Maya langsung duduk dan mundur menempel ke dinding. “Kamu lagi! Apa maumu?!”

Grape tersenyum dan menunjuk ke lemari kecil di sebelah kasur. Maya melihat ke atas lemari kecil tersebut dan menemukan sebuah surat. Maya mengambilnya dan saat melihat ke Grape, Grape sudah tidak ada. Grape menyuruhnya melihat isi surat itu. Maya, kebingungan dan ketakutan, membuka surat itu.

Grape, selamat datang di Pulau X, Grape Fruits. Teman-temanmu bukan teman-temanmu lagi. Mereka adalah keluargamu. Persiapkan diri. Ikuti petunjuk dan temukan medali.

Yang terbanyak yang berkuasa. Semuanya akan segera dimulai.

Tiba-tiba Maya dikagetkan dengan bunyik ketukan pintu.

“Maya,” Elisa memanggil dari balik pintu.

“Ya!” Maya segera membuka pintu. Elisa sudah membawa kopernya.

“Kita sudah sampai,” Elisa memberitahu Maya dan tatapannya beralih ke surat Maya. “Kamu juga mendapatkannya?”

Maya mengangguk.

“Mulai sekarang panggil aku Straw, ya? Aku lebih suka panggilan Straw daripada Strawberry. Dan kamu adalah Grape.”

“Ya,” Maya tersenyum. “Hi, Straw.”

Elisa balas tersenyum. “Ayo. Yang lain sudah menunggu.”

Maya dan Elisa berjalan bersama. Kapal sudah berhenti di pinggir pantai. Alex yang tahu tentang kapal menghentikan kapal, melepaskan jangkar, dan menurunkan tangga turun. Mereka berdelapan sudah tiba di pulau X.

10 thoughts on “06. KELUARGA FRUITS

  1. Pingback: FRUITS – 06. KELUARGA FRUITS | HANSON TJUNG

  2. Pingback: FRUITS – 07. PULAU X | HANSON TJUNG

  3. Pingback: HANSON TJUNG

  4. Pingback: FRUITS – 08. HARI KEDUA | HANSON TJUNG

  5. Pingback: FRUITS – 09. HARI KETIGA – HANSON TJUNG

  6. Pingback: FRUITS – 10. HARI KEEMPAT – HANSON TJUNG

  7. Pingback: FRUITS – 11. HARI KELIMA – HANSON TJUNG

  8. Pingback: FRUITS – 12. HARI KEENAM – HANSON TJUNG

  9. Pingback: FRUITS – 13. GERHANA – HANSON TJUNG

  10. Pingback: FRUITS – 14. MYSTERY ROAD HOUSE – HANSON TJUNG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s