08. HARI KEDUA

Nyanyian dari burung-burung bersenambung menadakan pagi yang indah dan cerah sudah dimulai di pulau X. Matahari sudah terbit dan memberikan kesejukan pagi hari ke seluruh pulau, memperlihatkan keindahan pulau X.

Elisa membuka matanya. Perlahan dia duduk dan melihat sekelilingnya. Elisa sedang berada di pulau X bersama tujuh tamu lainnya, Sinar matahari masuk menembus jendela ke dalam kamar. Elisa turun dari ranjang dan dia menemukan sebuah amplop di atas meja kecil sebelah ranjangnya.

“Surat lagi?” Elisa membuka surat itu dan membacanya.

PERMAINAN DIMULAI

Tidak ada sekutu di sini. Jangan mudah percaya. Kebohongan bisa menyelamatkanmu. Yang terbanyaklah yang berkuasa. Ketinggian akan menuntun kepada tanda.

“Aku tidak mengerti,” Elisa sama sekali tidak paham dengan isi surat itu. Elisa segera mengambil handuknya di lemari dan keluar dari kamar untuk mandi di kamar mandi yang ada di ruang makan. Alex juga baru keluar dari kamarnya. Dia baru saja selesai mandi.

“Pagi, Straw,” sapa Alex.

“Pagi,” Elisa membalasnya dengan sedikit malu. Tiba-tiba dia teringat kembali pengakuan Alex semalam.

Alex mendekati pintu kamar yang ada di sebelah kamarnya, sebuah kamar kosong, dan membuka pintunya. “Kamu mandi di dalam saja. Kamar mandi yang lain sedang dipakai. Tadi aku juga mandi di dalam.”

“Terima kasih,” Elisa masuk ke dalam kamar yang dibuka oleh Alex.

Sebuah kamar yang besar dengan ranjang untuk dua orang. Kamar utama. Di dinding dipajang foto-foto keluarga Fruits. Kamar utama ini adalah kamar Papaya dan istrinya. Elisa melihat-lihat sebentar sebelum akhirnya dia mandi.

Alex berjalan ke ruang utama.

“Kamu sudah masak, ya?” Gray bertanya kepada Maya. Hanya ada Gray dan Maya di ruang utama.

“Sudah,” jawab Maya. “Kamu ke ruang makan saja, sudah ada di meja.”

“Asik, aku sudah lapar. Aku mandi dulu kalau begitu,” Gray baru saja mau pergi tapi dia berhenti dan menanyakan Maya kembali, “Oh ya, kamu dapat surat tidak?”

“Kamu juga mendapatkannya?” Maya balik bertanya.

Gray mengangguk.

“Tidak ada sekutu, jangan percaya, kebohongan, dan ketinggian,” kata Alex sambil mendekati Gray dan Maya.

“Papaya,” panggil Maya. “Kamu juga dapat ya?”

“Kurasa semua mendapatkannya,” ujar Alex dan duduk di sofa. “Dan di atasnya tertulis permainan dimulai.”

“Kamu mengerti maksudnya?” Tanya Gray.

“Belum,” jawab Alex. “Tapi aku akan mencari tahu.”

“Pagi,” Cherry yang sudah selesai mandi menyapa.

“Pagi, Cherry,” balas Maya.

“Yang lain mana?” Tanya Gray.

“Smith baru mandi setelah aku. Megan mandi di ruang makan. Kalau Elisa dan Bob…”

“Strawberry dan Coconut!” Tukas Bob yang muncul dari luar. “Kenapa kamu selalu menyebut nama asli? Aku adalah Coconut. Elisa adalah Strawberry. Dan kamu tetap Cherry, Cherry.”

“Aduh, aku tak biasa memanggil orang dengan nama buah,” Cherry mengeluh.

“Kalau begitu biasakanlah!” Bob memaksa.

“Dari mana kamu, Coconut?” Tanya Alex.

“Mencari udara segar di luar. Aku yang mandi duluan sebelum Megan.”

“Aku ke ruang makan dulu ya,” Gray meninggalkan ruang utama dan menunggu Megan selesai mandi.

Elisa baru saja selesai berpakaian dan memperhatikan dirinya di cermin. Rambutnya masih basah. Dia mengelap rambutnya beberapa saat sambil dengan sekilas memperhatikan cermin. Tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak. Seperti ada seseorang yang sedang memperhatikannya dari belakangnya dan mungkin saja bisa terpantul di cermin. Elisa segera keluar dari kamar mandi. Tapi dia tersentak dengan kehadiran seorang wanita yang sedang menutup wajah seseorang yang terbaring di ranjang. Wanita itu tertawa. Dia adalah Apple dan pria yang tidak berdaya di ranjang adalah Papaya. Elisa mengingat cerita Bob dimana Apple membunuh Papaya dengan membenamkan bantal ke wajah Papaya hingga Papaya kehabisan nafas.

Elisa menyandarkan dirinya ke dinding. Kakinya lemas menyaksikan kejadian yang terlihat seperti kenyataan. Pintu kamar terbuka. Coconut berjalan ke dalam mengenakan sarung tangan. Dia perlahan mendekati Apple. Elisa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Coconut melingkarkan kawatnya ke leher Apple. Apple menjerit tapi tidak bisa mengeluarkan suara karena tercekik.

“Mati kau, iblis!” seru Coconut dan menarik kawatnya lebih kuat lagi.

“Ka… kau…”

“Ya, aku kembali untuk membalaskan dendam mereka.”

Apple kehabisan nafas. Dia berusaha melawan tapi semakin lama dia semakin lemas. Beberapa detik kemudian Apple tidak sadarkan diri dan jatuh di dada Coconut.

Elisa menangis. Dia tidak bisa mempercayai apa yang baru saja dia saksikan. Elisa bisa merasakan kebencian yang sangat dalam dari Coconut. Dia juga bisa merasakan betapa kejamnya Apple saat membunuh Papaya. Elisa merosot ke lantai sambil menyandarkan punggungnya ke dinding. Dia menutup kedua matanya dan menggeleng-geleng. Dia mencoba menghilangkan penglihatan barusan. Semua itu hanya bayangan saja, tidak nyata. Elisa terus memikirkan itu sampai dia mulai tenang. Setelah itu dia menurunkan kedua tangan yang menutup wajahnya dan membuka matanya. Apple sudah berada tepat di depannya, sedang jongkok dan memelototi Elisa.

“AAA!!!” Elisa berteriak sekencang mungkin. Dia reflek mendorong Apple menjauh sambil menabrakkan dirinya ke dinding di belakang dengan keras.

“Akh!” Elisa mendengar jeritan sakit seorang wanita. “Hey, kamu sudah gila ya?!”

Saat itu Elisa sadar bahwa dia baru saja mendorong Megan dengan kuat sampai Megan terpental ke belakang saat sedang jongkok di hadapan Elisa.

“A… Apple! Apple!”

“Iya, ini aku, Apple. Tapi kenapa kamu mesti mendorong aku?!” Megan terlihat kesal.

Elisa melihat ke Megan. Dia masih ketakutan. “Bukan. Bukan kamu, tapi Apple…”

“Ada apa ini?” Tanya Alex yang baru masuk ke dalam. “Straw? Kamu kenapa? Apa yang terjadi?”

Elisa melihat ke Alex dan Megan bergantian. Dia masih gemetaran. Alex mendekat dan memeluknya.

“Sudah tidak apa-apa. Tenangkan dirimu,” kata Alex sambil mengelus rambut Elisa.

***

Elisa tertidur pulas di kamarnya bersama Cherry yang menjaganya sementara yang lain berkumpul di ruang makan sambil mempertanyakan apa yang telah menimpa Elisa.

“Si Straw seperti baru melihat setan,” terka Gray.

“Ya, dia memelototiku dan terus mengatakan bukan, bukan Apple aku, tapi Apple siapalah,” sahut Megan dan kembali memakan apel yang sedang dia nikmati.

“Sebaiknya kita biarkan dia istirahat,” kata Alex. “Setelah dia tenang, baru kita tanyakan apa yang sebenarnya terjadi.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan hari ini?” Tanya Maya.

Megan bangkit berdiri. “Tentu saja bersenang-senang di pantai,” katanya sambil membayangkan berjemur di pantai. “Untungnya aku bawa bikini. Alex, kamu mau menemaniku ‘kan?” Megan berpaling memandang ke Alex.

“Papaya,’ Bob membenarkan.

Whatever,” Megan masa bodoh. “Ayo.”

Alex menggeleng. “Tidak bisa. Ada yang harus aku bereskan dulu.”

Megan mendesis tidak senang dengan jawaban Alex. Dia menaruh apelnya ke meja dan mau meninggalkan ruang kamar.

“Kamu mau kemana?” Tanya Smith.

“Tidur. Ngantuk,” jawab Megan sinis tanpa menoleh sedikitpun.

“Wow, kamu membuatnya marah,” Bob menggoda Alex. Maya tersenyum.

“Ummm,” Gray menggumam. “Aku juga mau kembali ke kamarku sebentar.”

Gray meninggalkan yang lain. Maya dan Bob membawa semua alat makan yang sudah selesai dipakai untuk mencucinya. Tinggal Smith dan Alex.

“Jadi menurutmu bagaimana?” Tanya Smith.

“Tidak ada sekutu. Jangan mudah percaya. Kebohongan bisa menyelamatkan,” Alex mengulang kalimat yang tertera di surat yang dia dan yang lain terima. “Sepertinya kita sedang diadu domba.”

Smith menyengir. “Lalu bagaimana dengan kalimat terakhir? Ketinggian akan menuntun kepada tanda.”

Alex menggeleng. “Belum,” katanya. “Tapi sebentar lagi pasti akan kutemukan artinya.”

Gray membaca kembali surat yang diterimanya. Isinya sama dengan yang lain. Dia membaca kalimat terakhir dari surat itu:

Ketinggian akan menuntun kepada tanda.

Gray tersenyum setelah membacanya. Senyuman yang misterius. Gray tampak mengetahui sesuatu.

***

Elisa terbangun dari tidurnya.

“Hey, kamu sudah bangun,” kata Cherry yang sedang mengupas apel dengan pisau dapur.

Elisa bangun dan duduk di kasur. “Dimana yang lain?”

“Sedang makan, sepertinya,” jawab Cherry. “Kamu istirahat saja dulu. Aku sudah menyediakan buah-buahan untukmu.” Cherry mengambil sebuah piring di atas meja sebelah ranjang. Ada anggur, jeruk, pisang, dan apel yang sudah dikupas dan dipotong-potong.

“Terima kasih,” kata Elisa sambil mengambil piringnya.

Cherry melihat Elisa yang mulai mengambil potongan apel. “Sebenarnya ada apa?” Dia sudah tidak sabar untuk menanyakan Elisa. Sebisa mungkin dia bertanya dengan lembut agar Elisa tidak syok lagi.

“Tadi…” Elisa berusaha mengingat kembali. Sebuah gambaran yang kurang jelas terlihat di dalam pikiran Elisa. Elisa baru keluar dari kamar mandi dan mendengar suara. Suara itu berasal dari Apple yang tertawa. Dia baru saja membunuh Papaya. Kemudian Coconut datang dan melilitkan kawat ke leher Apple. Coconut membunuh Apple. Elisa tidak sanggup menyaksikan dua pembunuhan sekaligus. Setelah itu Elisa yang jongkok sambil bersandar ke dinding membuka mata dan Apple berada tepat di depannya dengan tatapannya yang mengerikan.

“Straw?”

Elisa tersentak. Matanya membelalak dan dia kembali gemetaran.

“Straw, kamu tidak apa-apa?” Cherry mengambil piring yang dipegang Elisa. Elisa sudah hampir menjatuhkannya.

“Cherry,” Elisa memegang lengan Cherry dengan erat. “Apple mendatangiku.”

“Apple? Megan, maksudmu?”

“Bukan,” tukas Elisa cepat. “Bukan dia, bukan Megan. Tapi Apple! Apple, istri Papaya!”

Kedua mata Cherry membesar. “A.. Apple?”

“Dan dia memelototiku. Tatapannya penuh dengan kebencian.”

Cherry merinding. Dia tidak mempercayainya. Tapi dari cara Elisa menceritakan dan bagaimana ketakutannya Elisa, sepertinya Elisa tidak berbohong. “Apa kamu yakin itu bukan mimpi?”

“Ada sesuatu di pulau ini,” Elisa bangkit berdiri dari tempat tidurnya, “dan aku harus tahu apa itu.”

“Tapi Straw…” Cherry tidak berhasil menahan Elisa yang segera keluar dari kamar. Cherry mengikutinya ke ruang utama. Kosong.

“Mana yang lain?” Tanya Elisa bingung.

“Aku juga tidak tahu. Dari tadi aku bersamamu.”

“Strawberry, kamu sudah mendingan?” Maya muncul dari ruang makan.

“Grape, dimana yang lain?” Tanya Elisa langsung.

“Ummm, Megan dan Gray sedang istirahat di kamar mereka,” jawab Maya yang merasa aneh dengan tingkah Elisa. “Para pria pergi entah kemana.”

Elisa merasa lemah. Dia duduk di sofa. Maya dan Cherry saling menukar pandang sebelum akhirnya mereka duduk di sebelah kanan dan kiri Elisa.

“Straw, kamu tidak apa-apa?” Maya khawatir dengan keadaan Elisa.

“Entahlah,” ujar Elisa pelan. “Ada sesuatu di pulau ini. Sesuatu yang mengerikan. Sesuatu yang berbahaya. Entah bagaimana aku bisa merasakannya.”

***

Sementara itu seseorang sedang mendaki gunung. Seorang laki-laki muda, Mango atau lebih tepatnya adalah Gray. Gray berusaha menyusuri jalan yang menanjak. Dia harus menaiki beberapa bebatuan untuk sampai ke dalam pepohonan yang semakin menanjak.

Gray menghela nafas. Dia kelelahan. “Baiklah, aku masih harus mencarinya.”

Gray memperhatikan sekelilingnya. Dia kembali berjalan sampai akhirnya dia menemukan sesuatu pada salah satu pohon besar. Sebuah tanda panah bewarna merah yang menunjuk ke arah Gray.

“Pasti itu tandanya!” Gray langsung bersemangat. Dia berjalan menuju tanda itu. Tapi dia tidak menyadari ada sesuatu di sebelah kanannya sedang menuju kepada dia.

Gray sampai kepada batang pohon yang ditandai. Tiba-tiba raungan keras memekakan telinganya. Gray berbalik dan makhluk itu sudah berada di belakangnya. Seekor beruang hitam besar yang badannya jauh lebih besar dari Gray.

Gray yang kaget langsung terpeleset dan jatuh ke tanah. Beruang itu menebaskan cakarnya ke kaki Gray. “Arrgh!” Teriak Gray kesakitan. Beruang itu terus menyerangnya. Gray berusaha melindungi diri dari cakaran beruang. Gray berbalik mencoba menjauh tapi cakar beruang langsung menancap dan merobek punggungnya hingga daging Gray tercabik. “AAAARGH!!!”

Dor!

Suara tembakan menakuti beruang itu. Beruang itu langsung melarikan diri ke dalam pepohonan. Gray melihat siapa yang baru saja menyelamatkannya.

“Mango,” kata Smith sambil mendekati Gray. Dia memegang sebuah shotgun di tangannya.

“Ba… Banana…” Gray sudah tidak kuat. Dia mulai kehilangan kesadarannya.

***

“Aku bingung,” kata Maya kepada Cherry dan Elisa yang berada di ruang utama. “Pisau dapur ‘kan ada empat. Barusan aku cek hanya ada tiga. Apa ada yang membawanya?”

Pintu rumah dibuka. Smith masuk ke dalam sambil membopong Gray.

“Ya, Tuhan!” Maya yang melihat pertama kali langsung mendekati Smith dan Gray. “Apa yang terjadi?”

Elisa dan Cherry juga berada di sana. Smith menidurkan Gray dengan punggung di atas karena luka di punggungnya cukup parah. Cherry segera memeriksa keadaan Gray. Dia mengecek suhu badan Gray.

“Panas sekali,” kata Cherry. “Di dapur ada kotak P3K.”

Maya segera ke dapur mengambil kotak P3K. Megan muncul dari kamarnya. “Ada apa ini berisik-berisik?” Megan melihat ke Gray dan kaget. “Ada apa ini?!”

“Apple, ambilkan air dan handuk kering. Cepat!” Cherry segera memerintah Megan. Megan menurut dan kembali ke kamarnya.

Maya datang memberikan kotak P3K kepada Cherry. Cherry membukanya dan mengambil alkohol, obat merah, dan perban. Megan datang membawa sebaskom air dan handuk kering. Dia menaruhnya di meja.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Elisa pada Smith.

“Beruang,” jawab Smith. “Dia diserang beruang.”

“Beruang?!” Megan tidak percaya. “Ada beruang di sini?!”

“Bagaimana keadaannya?” Smith menanyai Cherry.

“Dia kehilangan banyak darah. Yang paling parah dari punggungnya. Badannya juga demam,” sahut Cherry. “Elisa, bisa bantu aku meng-kompres Gray? Aku akan mencoba menghentikan pendarahan di punggunya. Luka di kaki dan kedua tangannya masih tidak terlalu bahaya. Yang penting jangan sampai terjadi infeksi saja.”

“Dia akan baik-baik saja. Cherry seorang perawat. Dia pasti tahu apa yang dia lakukan,” kata Elisa yang segera meng-kompres dahi dan leher Gray.

Cherry harus menyiram alkohol ke luka di punggung Gray dan itu sangat menyakitkan. Gray sampai menjerit dan berusaha meronta-ronta tapi Smith bantu menahannya. Megan merasakan geli yang luar biasa saat melihat daging di punggung Gray yang tercabik. Maya membantu Cherry memberikan obat pada kaki dan tangan Gray. Terakhir Cherry membalut semua lukanya. Butuh waktu satu jam sampai akhirnya semua luka Gray bisa diatasi. Gray dibiarkan telengkup di sofa. Dia sudah terlelap. Cherry baru saja memberikan obat penenang supaya Gray bisa istirahat.

“Aku tidak percaya,” Megan cemas dan takut. “Kenapa ada binatang buas di pulau ini?”

Megan, Maya, Elisa, dan Smith berada di luar rumah.

“Beruang itu hanya ada di gunung, tenang saja,” kata Smith dengan tenang.

“Banana,” panggil Elisa. “Dari mana kamu dapat senjata itu?” Elisa menunjuk ke shotgun yang dipegang Smith.

Smith mengangkat shotgun-nya. “Ada di lemari dalam kamarku. Setelah kuperiksa ternyata ada isinya, walau hanya tiga. Kebetulan aku melihat Mango keluar diam-diam dari jendelaku. Jadi aku mengikutinya. Dia mau pergi ke gunung sendirian. Aku tidak tahu apa yang dia cari. Tapi karena biasanya ada binatang buas di atas sana, aku berinisiatif untuk membawa senjata ini.”

“Sial,” Megan kesal. “Aku tidak mau liburan bersama binatang buas. Lebih baik aku pulang.”

“Tenangkan dirimu, Apple,” ujar Maya.

“Kamu yang tenangkan dirimu, dasar kampungan!” bentak Megan. “Aku akan mencoba radio di kapal. Siapa tahu ada yang mendengar dan memberi bantuan.” Megan pergi meninggalkan yang lain.

“Apa tidak apa-apa?” Maya mencemaskan Megan yang bertidak sesuka hati.

“Di pantai pasti aman,” sahut Smith sambil menatap kepergian Megan dengan tajam.

***

Matahari mulai terbenam. Megan, Alex, dan Bob masih belum kembali. Gray masih tidak tidur di sofa. Smith juga sedang istirahat di kamarnya. Cherry masih menjaga kondisi Gray bersama Maya dan Elisa di ruang utama.

“Kita harus mencari Megan,” kata Maya cemas.

“Kalian pergi saja,” sahut Cherry. “Aku akan baik-baik saja di sini bersama Smith. Hati-hati.”

Elisa mengangguk dan bergegas keluar dari rumah bersama Maya. Mereka menyusuri jalan yang mulai gelap menuju pantai. Matahari sudah tenggelam. Langit-langit yang tadinya terang perlahan berubah menjadi jingga dan hitam. Elisa terhenti di tengah jalan. Maya yang di belakangnya juga ikut berhenti dan melihat ke arah yang Elisa lihat. DI balik pepohonan palem, ada sesuatu.

Elisa berjalan mendekatinya. Maya mengikutinya. Ada seseorang duduk bersandar pada salah satu pohon. “Hey, lihat itu,” bisik Elisa.

Elisa dan Maya mendekati orang itu. Mereka menemukan Megan. Megan yang sedang duduk bersandar pada pohon dengan darah yang berlumuran dari mulut dan dada kirinya. Matanya melotot. Mulutnya memuntahkan darah. Di dada kirinya terlihat seperti bekas tusukan.

“Ti… tidak!” Maya menutup mulutnya.

Srek!

Terdengar sesuatu dari rerumputan dari arah belakang Megan. Ada orang yang berjalan mendekat. Elisa dan Maya saling bertatapan. Elisa melihat seseorang sedang mendekati mereka dari arah pantai.

Maya menarik lengan Elisa, “Pa… pasti dia yang melakukannya. Kita harus pergi.”

“Tidak,” Elisa menguatkan dirinya. “Kita harus tahu siapa yang melakukannya.”

Maya menggeleng. Dia sudah sangat ketakutan. “Itu terlalu berbahaya. Dia bisa saja membunuh kita.”

Elisa memberanikan diri. Bayangan orang itu kian mendekat. Jantungnya berdegup kencang. Yang dikatakan Maya bisa saja terjadi. Orang itu bisa langsung membunuhnya dan Maya kalau mereka memergokinya. Maya kembali menarik lengan Elisa. Kali ini dia lebih memaksa. Elisa berusaha melihat dengan jelas siapa orang itu tapi gelap malam membuatnya sulit untuk mengenali orang tersebut. Elisa semakin gugup saat derap langkah orang itu semakin terdengar.

“Kita harus pergi,” Maya memaksa. Elisa menurut sekarang. Dia dan Maya segera berlari kembali ke rumah.

***

Smith mendatangi ruang utama yang tegang dengan membawa shotgun-nya. Elisa dan Maya baru saja kembali dan menceritakan apa yang mereka saksikan kepada Smith, Cherry, dan Gray yang sudah sadar. Cherry memeluk Maya berusaha menenangkannya. Maya tidak berhenti gemetaran.

“Aku ke sana sekarang,” kata Smith.

Tiba-tiba pintu depan dibuka dengan keras mengagetkan semua. Bob berlari ke dalam dan segera menutup pintu di belakangnya.

“Kalian… tidak akan…,” kata Bob dengan terengah-engah, “percaya apa yang baru aku lihat. Apple… Apple mati!”

“Coconut, darimana saja kamu?” Tanya Smith yang penasaran kemana Bob pergi seharian ini.

“Aku habis dari pantai memancing beberapa ikan,” Bob menjelaskan dengan cepat. “Saat aku kembali, aku… aku melihat Apple. Dia… dia dibunuh. Dan aku… aku melihat ada dua orang yang berdiri di dekatnya dan langsung melarikan diri saat aku mendekati mereka.”

“Jadi itu kamu!” Sahut Elisa yang menyadari bahwa yang tadi dia dan Maya lihat sedang mendekat adalah Bob.

“Apa maksudmu?” Bob kebingungan.

“Dua orang itu aku dan Maya, Grape, maksudku,” kata Elisa.

Bob membuka matanya lebar-lebar. Tapi dia lebih tenang sekarang setelah mengetahui siapa yang dia lihat. Sama halnya dengan Maya yang merasa lebih lega karena tidak melihat pembunuh Megan.

Pintu kembali dibuka. Semuanya langsung was-was. Alex kembali dengan noda darah di baju dan celananya. Dia memegang sebuah pisau dan dua ekor kelinci yang sudah mati di tangan yang lain.

“Papaya!” Seru Bob yang sempat kaget.

“Hey, kalian tampak… mengerikan,” sahut Alex yang merasa aneh dilihat yang lain dengan tatapan serius.

“Dari mana saja kamu?” Tanya Elisa.

Alex memperlihat dua kelinci yang dia bawa. “Berburu.”

“Dengan pisau dapur?” Tanya Maya yang menyadari kalau pisau dapur yang hilang ternyata dibawa oleh Alex.

“Hey, ada apa ini?” Alex merasa seperti sedang dituduh. “Kenapa kalian semua melihatku seperti itu?”

“Megan dibunuh,” ujar Smith. Reaksi Alex sama seperti reaksi Smith, Cherry, dan Gray saat Elisa dan Maya menceritakannya. Tidak percaya. “Kita harus memeriksanya. Jangan buang waktu lagi. Coconut, bawa aku ke tempat Megan. Alex, kamu jaga yang lain di rumah.”

Bob mendekati Alex dan meminta pisau dapur yang dipegang Alex. “Boleh? Mungkin aku yang lebih membutuhkan ini sekarang.”

Alex yang masih kurang mengerti menurut saja saat dia menyerahkan pisau dapurnya kepada Bob. Bob meninggalkan rumah mengikuti Smith. Alex melihat ke yang lain. Dia tidak tahu apa yang terjadi seharian ini.

“Aku haus,” kata Gray.

“Biar aku ambilkan minum,” Cherry bangun dari sofa dan pergi ke dapur. Alex mengikuti Cherry sambil membawa hasil buruannya ke dapur.

Alex akhirnya mengetahui apa yang menimpa Gray dan Megan saat semua sudah duduk santai di ruang utama.

“Mango, sebenarnya untuk apa kamu ke gunung?” Tanya Elisa penasaran.

“I… itu… sebenarnya,” Gray ragu tapi akhirnya mulai menjelaskan, “aku mengikuti surat yang kita semua dapat. DI surat itu dikatakan ketinggian akan menuntun kepada tanda. Ketinggian itu adalah gunung. Jadi aku ke sana untuk mencari tanda itu. Dan aku benar-benar menemukannya. Ada tanda panah di salah satu batang pohon. Tapi saat aku sampai di tanda itu, beruang itu sudah keburu menyerangku.”

Smith dan Bob kembali. Bob membawa sebuah ember.

“Bagaimana?” Tanya Elisa cepat.

“Tidak ada siapa-siapa,” jawab Smith. “Bahkan tubuh Apple tidak ada di sana.”

“Bagaimana mungkin?!” Elisa bingung.

“Banana benar,” sambung Bob sambil memperlihatkan sebuah ember berisi beberapa ikan. “Aku menjatuhkan hasil pancinganku ini di dekat mayat Megan. Aku menemukan ini, tapi tidak Megan. Dia menghilang.”

“Apa maksud kalian ada yang memindahkan mayat Megan?” Alex menduga.

“Kami sudah mencarinya kemana-mana, tapi tidak ada jejak sama sekali. Bahkan tidak ada jejak darah di sana,” kata Smith. “Besok pagi aku akan mencoba mencarinya lagi. Sudah malam, lebih baik kita istirahat. Jangan lupa untuk mengunci semua pintu dan jendela. Kalau memang benar Megan dibunuh, kita semua bisa jadi terget berikutnya.”

Hari kedua di pulau X menjadi hari yang melelahkan. Elisa yang mendapatkan penglihatan dan penampakan Apple yang sudah mati. Gray yang diserang beruang. Alex yang muncul tiba-tiba membawa pisau dapur setelah Megan dibunuh dengan tusuka di dada kirinya. Kemudian mayat Megan yang menghilang tanpa ada jejak sama sekali. Misteri di pulau X belum berhenti dan masih akan terus menyelimuti ketujuh orang yang masih bertahan di sana.

Malam itu menjadi malam yang lelap untuk semua. Elisa kembali mendapatkan penglihatan yang dia dapat pagi tadi. Apple yang membunuh Papaya dan Coconut membunuh Apple. Elisa duduk bersandar di dinding dan merosot ke bawah. Kemudian kali ini bukan Apple, tapi Megan yang berjongkok di depannya memelototinya seperti ingin membunuh Elisa. Elisa kaget dan bangun dari mimpi buruknya. Keringatnya bercucuran. Elisa melihat ke jam dinding. Sudah jam dua belas lewat lima menit. Hari ketiga di pulau X sudah dimulai.