11. HARI KELIMA

“Apa yang terjadi?” tanya Elisa pada Maya yang duduk di sebelahnya. Elisa masih terbaring di kasurnya, tampak sangat kelelahan.

“Justru aku mau menanyakan hal yang sama pada kamu,” balas Maya. “Apa yang terjadi pada kalian bertiga kemarin?”

Elisa mulai mengingat kembali apa yang dia alami kemarin. Dia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Apa dia harus menceritakan semuanya ke Maya?

“Kalian tidak sadarkan diri seharian,” kata Maya dan menyerahkan sebuah surat. “Ini.”

Elisa menerima surat dan membukanya.

 

Hari ini adalah kesempatan terakhir untuk meraih kemenangan. Sepuluh sudah ada di kapal.

“Sepuluh?” Elisa menggumam. Dia mengerti apa maksud dari isi surat itu. “Sepuluh batang emaskah?”

Maya mengangguk. “Yang lain sudah pergi ke kapal.”

“Yang lain?”

“Iya. Bob, Gray, dan Cherry sudah pergi dari pagi. Smith baru saja menyusul mereka. Aku tidak bisa meninggalkan kamu dan Alex sendirian. Tidak ada lagi yang menjaga kalian.”

“Terima kasih, Maya. Tapi kita harus segera menyusul mereka. Apalagi Smtih… dia… aku tidak bisa mempercayainya.”

“Kita harus membangunkan Alex dulu,” kata Maya.

Maya dan Elisa bergegas ke kamar Alex. Tapi mereka hanya menemukan kasur yang sudah dirapikan. Alex sudah pergi.

“Kurasa dia juga sudah pergi,” ujar Maya.

Elisa dan Maya segera berangkat ke kapal. Mereka tidak tahu kalau beberapa jam sebelumnya telah terjadi sesuatu kepada mereka yang sudah duluan pergi ke kapal.

Cherry sedang berada di salah satu kabin, menggeledah isi lemari. Di tangan kanannya sudah dia genggam sebuah batang emas. Cherry sudah menemukan satu dan dia mencoba mencari yang kedua. Tapi dia tidak menemukan apa-apa di dalam lemari. Dia beralih memeriksa meja di samping ranjang dan membuka laci, sebuah batang emas. Cherry mengambilnya dan tersenyum bangga, dia sudah dapat dua.

Cherry tidak menyadari ada seseorang berjalan masuk ke kabin dan mendekati Cherry. Cherry bisa mendengar decit sepatu orang tersebut yang menginjak lantai kapal yang terbuat dari kayu. Dia berdiri sambil berbalik. “Oh, hi,” Cherry mengenali orang itu. “Kamu sudah dapat ber….”

Belum sempat bertanya, wajah Cherry dihantam sebuah balok kayu besar yang panjang dengan sangat keras. Cherry jatuh dan pingsan. Pelipis kirinya bocor mengeluarkan darah yang tidak sedikit. Orang itu mengambil kedua batang emas Cherry dan keluar dari kabin. Dia menutup pintu kabin dan pergi meninggalkan Cherry yang butuh bantuan medis.

Sementara itu Gray berjalan di dek sambil bersiul riang. Dia sudah mendapatkan lima batang emas. Dengan hati-hati dia menyimpan kelimanya di balik jaketnya agar tidak ada yang tahu.

“Mango!”

Gray kaget dan berbalik. Bob baru saja memanggilnya. “Oh, hi, Coconut.”

Bob mendekati Gray. “Kamu sudah mendapatkan berapa? Aku sudah mendapatkan lima.”

Gray membelalak. “Serius?” Itu berarti kesepuluh batang emas sudah ditemukan kalau Gray dan Bob masing-masing sudah menemukan lima batang emas.

“Bagaimana denganmu?” tanya Bob.

“Sama,” jawab Gray. “Itu berarti semua sudah kita temukan. Rata. Jadi kita tidak perlu bekerja sama lagi.”

“Hey.”

Gray dan Bob berpaling ke depan mereka. Smith sudah berdiri beberapa meter dari mereka. Jaraknya cukup dekat untuk bisa mendengar percakapan Gray dan Bob barusan.

Yang lebih mengerikannya, Smith membawa sebuah pisau dapur bersamanya. Mukanya terlihat sangat berantakan. Smith sangat berbeda dengan Smith yang baru pertama kali bertemu dengan Elisa, dengan Smith yang baru pertama kali datang ke Mystery Road House. Smith terlihat lebih gelap.

“Banana… hey.” Bob memanggil Smith dengan sedikit bergetar. Ada ketakutan di dalamnya. “Kamu sudah sadar.”

Smith menyengir. Dia maju perlahan. Bob dan Gray reflek melangkah mundur menjauhi Smith.

“Untuk apa kamu membawa itu?” Gray menanyakan pisau yang dibawa Smith.

“Ini?” Smith mengangkat pisaunya dan memperlihatkan ke pada Gray dan Bob. “Hanya untuk berjaga-jaga saja. Kalian tahu sendiri ‘kan, jangan mudah percaya.”

“Kamu betul, Banana. Aku sudah membohongimu, Gray. Maafkan aku.” Bob mengeluarkan sebuah batang emas dari saku celannya. “Aku baru mendapat satu saja. Ini, untukmu. Sekarang kamu punya enam.” Bob menyerahkan batang emasnya kepada Gray. “A… aku pergi dulu, ya,” ujar Bob cepat dan langsung pergi meninggalkan Gray.

“Hey, tunggu!” Gray mau mengejarnya.

“Berhenti!” bentak Smith.

Gray tersentak dan berhenti. Bob terus berlari dan hilang dari pandangan. Gray berbalik kembali untuk melihat Smith. “Kumohon, Smith. Biarkan aku pergi…”

“Tentu saja. Tapi kamu mempunyai apa yang aku inginkan, Mango.”

Gray menelan ludah. Seluruh tubuhnya gemetar. Perlahan dia menaruh batang emas yang diberikan Bob padanya ke lantai. Kemudian dia membuka jaket dan menaruhnya di dekat batang emas barusan. “Semuanya ada di dalam jaket ini. Ambil saja, ok?”

Smith berjalan mendekat dan sekarang sudah berdiri di depan Gray. “Terima kasih. Tidak sia-sia aku menyelamatkanmu.”

Gray diam saja tidak berani berkata apa-apa. Smith memegang pundak Gray dengan tangan kirinya. Gray langsung menegang.

“Tapi aku masih bingung…”

Gray tetap menunduk tidak berani melihat ke Smith.

“Kenapa kamu masih tidak mempercayai aku? Di antara yang lain, akulah yang seharusnya kamu percaya.”

“Ma… maafkan aku, Smith…”

“Panggil aku BANANA!!!” Smith meneriaki Gray tepat di muka Gray. Gray terperanjat tapi tidak berani menjauhi Smith. Gray sudah pasrah.

“Maaf, maaf,” Smith menepuk bahu Gray. “Aku tidak bermaksud menakutimu. Bagaimanapun juga, kamu pernah melepaskan ikatan aku. Itu berarti kamu percaya padaku. Tenang saja.”

“Kumohon… ijinkan aku pergi… Banana…” Gray mulai menangis. Wajahnya berminyak dan berkeringat.

“Sebentar. Aku butuh bantuanmu sekarang,” kata Smith. “Lihat aku.”

Gray mengangkat wajahnya dan melihat Smith yang menatapnya dengan tajam.

“Aku bisa mempercayaimu ‘kan?”

Gray masih menangis. Dia mengangguk pelan. “Apa yang bisa aku bantu?”

“Aku butuh kamu untuk memberikan pesan kepada yang lain.”

“Pesan apa? Pasti aku sampaikan.”

Smith tersenyum lebar. “Sampaikan kalau mereka berusaha merebut semua emas ini dariku, mereka akan bernasib sama denganmu.”

“Berna…sib sama… denganku…?”

Sebuah tusukan menancap ke perut Gray. Gray kesakitan. Tidak ada suara yang bisa keluar dari mulutnya. Smith menusuk perutnya cukup dalam. Tiba-tiba Gray merasakan déjà vu saat Mango ditusuk oleh Papaya. Mango kelhilangan nyawanya saat itu.

Smith menarik keluar pisaunya secara perlahan dan mendorong Gray ke belakang. Gray jatuh dan menggeliat sambil memegangi perutnya yang tidak henti mengeluarkan darah.

“Aku tidak akan membunuhmu,” kata Smith sambil mengecek lima batang emas yang ada di dalam jaket Gtray. Setelah yakin ada, Smith memakai jaket Gray yang sedikit kekecilan. “Aku membutuhkanmu untuk memberikan pesan, ingat?” Smith pun pergi meninggalkan Gray yang sudah bergelinang darah.

 

Hari mulai sore. Elisa dan Maya berjalan di sepanjang dek dan mereka mendengar suara minta tolong yang serak dari depan mereka.

“Di sana!” seru Maya dan berlari ke arah suara itu.

“To… long…” Gray masih berusaha berteriak sambil menutupi luka di perutnya.

“Ya, ampun. Gray!” Maya membuka kemejanya dan menggunakannya untuk menekan perut Gray yang sudah mulai berhenti pendarahan. “Kita harus segera mengobatinya.”

“Aku akan mencari obat. Kamu jaga dia,” ujar Elisa dan segera meninggalkan Maya dan Gray.

“Ba… na… na… Smiii…th,” Gray mencoba memperingatkan Maya dan Elisa.

“Banana? Smith? Smith yang melakukan ini padamu?” Maya memastikan bahwa Smith yang melukai Gray. Gray mengangguk pelan. Dia memegangi lengan Maya dengan erat. Sayangnya dia tidak berhasil memperingatkan Elisa. Elisa sudah pergi.

Alex membuka pintu dan melihat Cherry di dalam tidak sadarkan diri. Dia segera memeriksa keadaan Cherry. Cherry masih bernafas. Pelipisnya sudah tidak mengeluarkan darah. Tapi ada lebam cukup besar.

“Hey, hey,” Alex menepuk pipi Cherry mencoba menyadarkannya. “Cherry…”

Kepala Cherry bergerak. Dia masih merasakan sakit yang luar biasa pada kepalanya.

“Kamu tidak apa-apa?”

Cherry membuka kedua matanya perlahan-lahan. Dia sempat melihat orang yang menyerangnya. Dia tahu siapa orang itu.

Elisa turun ke bawa, berjalan di dek kapal. Saat tiba di persimpangan, dia belok ke kiri menyusuri sebuah lorong dengan kabin-kabin di kanan dan kirinya. Di paling depan ada pintu besar menuju ke ruangan medis.

“Hey,” Elisa mendengar Smith memanggil dari belakang.

Elisa berhenti dan berbalik. Dia berhadapan dengan Smith dengan jarak hampir sepuluh meter. “Smith, hey, kamu tidak apa-apa?” Elisa sama sekali tidak tahu kalau Smith-lah yang melukai Gray. Tapi Elisa melihat bekas darah di baju Smith. “Smith, kamu terluka?”

Smith melihat ke darah yang menempel di bajunya. Kemudian dia mengangkat wajahnya yang gelap melihat Elisa dengan pandangan yang tenang namun mengerikan. “Oh, ini bukan darahku.”

“Bukan darahmu?” Elisa mulai curiga.” Darah siapa, kalau begitu?”

Smith melangkahkan kakinya mendekati Elisa. Elisa respon dan mundur menjauhi Smith.

“Smith?”

“Sudah aku bilang, jangan memanggilku dengan nama itu,” kata Smith sambil terus mendekati Elisa. “Na-ma-ku adalah Ba-na-na,” nada bicara Smith meninggi. “BA-NA-NA!” Smith mengeluarkan pisau yang berdarah.

Elisa langsung berbalik dan berlari ke ruangan medis. Smith mengejarnya dengan cepat. Elisa kalah cepat. Smith semakin dekat dengannya. Elisa membuka pintu yang besar dan masuk ke dalam. Dia berusaha menutup pintunya tapi Smith menabraknya dengan kuat menyebabkan Elisa jatuh terpental.

Smith masuk ke dalam. Elisa menyeret dirinya ke belakang sambil berusaha untuk bangun tapi Smith sudah berdiri di depannya. Elisa tidak bisa kemana-mana lagi.

“Kamu sudah dapat berapa?”

Elisa tahu apa maksud dari pertanyaan Smith. Smith mau tahu berapa banyak emas yang dia dapat. “Aku baru datang. Aku belum menemukan apa-apa.”

“Kalau begitu kamu tidak ada gunanya,” Smith mengangkat pisaunya.

Elisa dengan cepat menyengkat kaki Smith. Smith jatuh. Elisa bangun dengan cepat tapi Smith langsung menutup pintu di belakangnya dengan tangannya saat masih jatuh. Elisa tidak bisa keluar. Di melihat ke sekelilingnya. DI ruangan medis hanya berderet kasur-kasur pasien dan lemari kaca dengan kotak obat di dalamnya.

Elisa membuka salah satu lemari dan mengeluarkan sebuah jarum suntik dari dalam kotak obat dan mengarahkannya ke Smith yang sudah berdiri.

“Berhenti di sana!” Elisa mengancam.

Smith mencibir pelan. “Kamu pikir kamu bisa melindungi dirimu dengan itu?” Smith berjalan ke arah Elisa.

“Berhenti di sana!!!” Elisa berteriak, berharap ada orang lain yang mendengarnya. “Aku serius, Smith! Berhenti di sana!”

Smith tidak takut. Dia terus mendekati Elisa. Elisa segera mendekati kasur terdekat menjaga jarak dari Smith. Dia mendorong kasurnya untuk menghalangi Smith.

Smith dengan cepat naik ke kasur dan menjatuhkan dirinya ke Elisa. Elisa tidak siap. Dia jatuh. Jarum suntik yang dia pegang terlepas. Smith berada di atasnya dan berusaha menusuk dada Elisa. Elisa menahan tangan Smith tapi kekuatan Smith jauh lebih besar dibanding Elisa.

“Smith… kumohon…”

“Namaku BA-NA-NA!” Smith meninju muka Elisa dengan tangan kirinya.

Elisa merasakan sakit yang luar biasa. Kepalanya pusing. Penglihatannya memudar. Pertahanan dirinya sudah tidak ada. Tangannya tidak menahan Smith lagi.

Smith mengarahkan pisaunya ke leher Elisa, siap menggorok leher Elisa. Wajah Elisa memar dengan hidung berdarah. Elisa tidak berdaya saat Smith mulai menggorok lehernya.

Leher Elisa mengeluarkan darah saat pisau berdesit di menebas lehernya. Tapi tiba-tiba semua terhenti. Elisa mendengar suara hantaman yang keras. Smith jatuh ke sebelah kiri Elisa, tidak sadarkan diri. Elisa mencoba melihat sosok di depannya.

“Apa yang terjadi?” tanya Alex kepad Cherry yang sudah sadar dan tenang.

“Aku sudah mendapatkan dua,” Cherry menjelaskan. “Kemudian ada yang datang dan memukulku dengan kayu…” Cherry menyadari sesuatu.

“Siapa yang memukulmu? Smith?”

Cherry menggeleng.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya Bob sambil mengulurkan tangan ke Elisa.

Pandangan Elisa jelas sekarang. Bob berdiri dengan tangan kiri terulur ke arahnya. Di tangan kanannya dia memegang sebuah balok kayu besar yang baru dia pakai untuk memukul kepala Smith. Elisa melihat ke Smith dengan kepala yang bocor mengeluarkan darah. Bob baru saja menyelamatkannya.

Elisa meraih tangan Bob. Tapi Bob langsung menghantam kepala Elisa dengan balok kayu yang dia pegang. Elisa pingsan seketika.

 

“Bob yang melukaimu?”

“Iya,” jawab Cherry. “Dia pasti melakukan itu untuk mendapatkan emas yang sudah kutemukan.”

“Bagaimana dengan yang lain?” tanya Alex.

“Aku belum melihat Gray sama sekali. Kami berpisah saat sampai di kapal.”

“Smith juga sudah di sini. Kita harus menemukan mereka. Pulau ini mengubah kita. Smith sudah berubah. Begitu juga dengan Bob. Kita harus menemukan Gray. Dia mungkin dalam bahaya.”

“Elisa dan Maya?”

“Mereka masih di rumah saat aku pergi,” kata Alex. “Tetap bersamaku. Terlalu berbahaya kalau kamu sendirian.”

Alex membantu Cherry berdiri dan segera keluar untuk mencari Gray.

Muka Gray semakin pucat. Dia sudah kehilangan banyak darah. Maya terus menekan perut Gray yang tertusuk untuk menghentikan pendarahan.

“Sudah berhenti,” ujar Maya. “Pendarahannya sudah berhenti, Gray. Kamu tidak akan kenapa-kenapa. Kamu akan baik-baik saja.”

Tiba-tiba Grape menampakkan diri tepat di depan Maya. Maya melihatnya. Gray sudah tidak sadarkan diri.

“Ka… kamu…”

Grape merunduk mendekati wajah Maya. Maya mulai merinding.

“A… apa maumu?”

Grape tersenyum. Kemudian suaranya menggema di telinga Maya, “Tinggalkan kapal ini. Segera.”

Angin berhembus ke wajah Maya membuatnya menutup kedua mata. Saat dia mencoba untuk melihat Grape, Grape sudah tidak ada.

Maya merasakan suatu perasaan bahaya jika dia terus berada di dalam kapal. Dia mencemaskan keadaan Gray. Smith juga bisa kembali kapan saja. Peringatan Grape barusan semakin meneguhkan perasaan tidak enaknya.

“Gray,” Maya memanggil Gray yang setengah sadar. “Kita harus pergi dari sini. Aku akan membantumu.”

Maya berusaha membangunkan Gray. Gray merintih. Maya langsung memperlambat gerakannya. “Maaf,” katanya sembari memapah Gray yang mulai berdiri. Mereka berdua berjalan keluar dari kapal.

Tapi ada yang mendatangi Maya dan Gray dari belakang. Maya merasakannya. Dia menghentikan langkahnya dan melihat ke belakang. Coconut-lah yang berjalan mendekati mereka. Coconut yang adalah kepala pelayan keluarga Fruit. Barusan dia melihat arwah Grape yang memperingatinya. Tapi sekarang arwah Coconut yang muncul. Maya penasaran apa yang mau Coconut beritahu padanya. Dia diam menunggu Coconut semakin dekat.

Alex dan Cherry berjalan di sepanjang dek pinggir kapal. Tiba-tiba Cherry berhenti karena melihat sesuatu di persimpangan.

“Alex,” Cherry memanggil Alex sambil terus melihat apa yang ada di depannya.

Alex yang sudah beberapa langkah di depan berhenti dan berbalik. Dia mendekati Cherry dan melihat ke arah yang sama dengan yang dilihat Cherry. Tatapannya berubah seolah-olah dia sedang meilhat hantu.

Megan berdiri tidak jauh menghadap mereka. Alex benar-benar rmelihat hantu. Megan yang sudah dibunuh berdiri menghadap Alex dan Cherry.

“Kamu melihatnya juga?” tanya Cherry yang mau memastikan apa yang dilihatnya itu nyata.

“Ya. Kamu?”

“Tidak mungkin,” ujar Cherry.

Alex tidak gentar. Dia langsung mendekati Megan yang berdiri diam dengan tatapan kosong ke depan. Sekarang bukan hanya arwah dari anggota keluarga Fruit yang mulai menampakkan diri. Arwah Megan yang baru meninggal di pulau X juga tampak. Alex sudah pernah melihat arwah Papaya di gunung. Kali ini dia berhadapan dengan Megan. Dia harus memastikan apa yang dia lihat saat ini.

“Alex,” Cherry memanggil.

Alex tidak menoleh. Dia tetap melangkah ke depan, semakin dekat dengan Megan.

“Alex…”

Suara Cherry bergetar seperti sangat ketakutan. Alex menghiraukannya sampai Cherry memanggilnya sekali lagi.

“Alex, tolong…”

Alex berhenti dan berbalik. Cherry sudah dalam keadaan disandera oleh Bob. Bob memeluk Cherry dengan tangan kiri dan mengancam akan menggorok leher Cherry dengan pisau yang dia dapat dari Smith dengan tangan kanannya. Cherry berkeringat dan tidak berhenti gemetar.

“Bob, turunkan pisaumu,” Alex mencoba berbicara kepada Bob. Perlahan dia maju mendekati Bob.

“Jangan mendekat!” ancam Bob sambil menekankan pisaunya ke leher Cherry.

Cherry semakin takut. “Hentikan, kumohon…”

“Apa maumu?” tanya Alex. “Emas? Kamu boleh memiliki emas yang aku dapatkan. Aku akan memberikannya kepadamu setelah kamu melepaskan dia.”

Bob melihat ke Alex dan menyengir. “Kamu akan segera mengetahuinya.”

Sesuatu yang keras menghantam kepala Alex dari belakang. Alex langsung jatuh dan pingsan. Megan baru saja memukulnya dengan batang kayu besar yang sebelumnya dipakai Bob untuk memukul Cherry, Smith, dan Elisa.

Cherry sontak membelalak. Megan baru saja membuat Alex pingsan. Megan yang disangkanya sudah meninggal. Megan yang disangkanya adalah arwah gentayangan. Tapi megan baru saja memukul Alex. Megan masih hidup!

Surprise,” ujar Megan dengan nada puas.

***

Hari sudah sangat larut. Elisa mulai sadar. Dia membuka kedua matanya dan mendapati dirinya sudah duduk terikat pada bangku di ruang makan. Kepalanya masih terasa perih dan sedikit pusing.

“Sudah sadar?” Elisa mendengar suara Smith yang duduk terikat juga di sebelahnya.

Elisa melihat sekelilingnya. Bukan hanya dia yang duduk terikat. Smith berada di sebelah kirinya. Di sebelah kanannya ada Alex dan Cherry di sebelah Alex. Semuanya terikat pada bangku makan. Alex tidak sadarkan diri.

“Ada apa ini?” Elisa mencoba melepaskan ikatan tapi tidak berhasil.

“Bob,” sahut Cherry yang terlihat penuh kebencian, “dan Megan. Mereka menipu kita selama ini.”

Elisa mengernyitkan dahi. “Megan? Menipu?”

Alex mulai mendapatkan kembali kesadarannya. “Ahhh,” rintihnya kesakitan. Alex memutar-mutar kepalanya. Terdengar suara sendi-sendi yang merenggang. Kemudian dia melihat yang lain bergantian. Dia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi.

“Megan,” Cherry memberitahu Alex apa yang terjadi dengan singkat.

“Megan?” Alex tidak mengerti.

“Megan yang memukulmu,” lanjut Cherry.

“Tapi Megan sudah…” Elisa kebingungan. “Aku melihat jasadnya…”

“Dia masih hidup,” tukas Cherry. “Kamu tidak pernah mengecek jasadnya ‘kan?”

Alex mulai teringat kembali apa yang terjadi di kapal. “Aku melihatnya. Aku melihat Megan di kapal. Aku dan Cherry melihatnya. Aku kira itu arwahnya Megan.”

“Megan tidak pernah mati. Selama ini dia menipu kita,” kata Cherry kesal.

“Dan dia bekerja sama dengan Bob,” sambung Alex.

“Dan kita terikat pada bangku sialan ini,” seru Smith dan berusaha melepaskan kedua tangannya dari ikatan tapi tidak berhasil.

Elisa tiba-tiba teringat sesuatu. “Ya, Tuhan. Gray, dia… dia terluka. Dan Maya… Maya bersamanya.”

“Apa maksudmu Gray terluka?” tanya Cherry.

Elisa melihat ke Smith dan langsung emosi. “Kamu! Kamu berusaha membunuh Gray! Kamu sudah gila apa?!”

Smith menyinyir and mencibir. “Cih, kalian masih belum paham juga? Kita semua akan mati di sini. Kalian lihat sendiri apa yang dilakukan Megan dan Bob. Mereka akan membunuh kita. Kita semua harus saling membunuh di sini supaya dapat bertahan. Aku akan melakukan segala hal supaya aku dapat hidup.”

Elisa kehabisan kata-kata. Kemarahannya tidak bisa dilampiaskan dengan kata-kata lagi. Yang ada di pikirannya adalah tidak mau berurusan dengan Smith lagi. Sudah cukup.

Well, well, well,” Megan masuk ke ruang makan. Wajahnya berseri. Rambutnya masih basah dan dia sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dia mengenakan baju tidur dan terlihat sepeti baru mandi. “Sudah malam begini tapi masih pada bangun.”

Elisa membuka kedua matanya lebar-lebar sambil meyakinkan dirinya kalau dia bukan sedang melihat hantu.

“Sudah berhari-hari aku bersembunyi dengan baju yang sama tanpa sabun,” Megan menceritakan apa yang terjadi pada dirinya. “Menyenangkan sekali bisa memanjakan diri kembali.”

“Kenapa?” ujar Cherry. “Kenapa kamu melakukannya? Kenapa kamu berpura-pura mati dan bersembunyi?”

Megan diam sejenak. Kemudian dia perlahan-lahan tersenyum. “Haha, bukankah semua ini menyenangkan? Seperti ada twist di balik semua misteri ini.”

“Menyenangkan?” nada bicara Cherry meninggi. “Kamu melakukan semua ini hanya untuk kesenangan semata?!”

Megan melihat Cherry dan kembali mengelap rambutnya yang basah. “Kamu mau tahu alasan aku sampai bela-bela mengotoriku tubuhku dengan darah sampai aku bersembunyi seperti manusia goa selama berhari-hari?”

Semua mata sekarang tertuju ke Megan menunggu apa yang akan Megan katakan selanjutnya.

“Bob datang padaku, itulah yang terjadi.”

Perkataan Megan barusan semakin membuat yang lain penasaran. Megan menikmatinya. Dia menikmati membuat yang lain ingin tahu tentang rahasianya. Megan melanjutkan ceritanya.

“Aku tidak punya banyak waktu. Sebaiknya kamu cepat,” kata Megan sambil meminum wine-nya.

Bob duduk berhadapan dengan Megan dipisahkan dengan sebuah meja kaca. Dia memegang alat perekam dan menaruhnya di atas meja. Bob sedang mewawancarai Megan, empat mata.

Bob terlihat gugup tapi bersemangat, sama seperti saat Bob pertama kali bertemu Megan di Mystery Road House. “Megan Pillow, saya terus mengikuti karir Anda selama ini dan saya sangat kagum dengan apa yang sudah Anda capai,” Bob memulai dengan memuji Megan.

“Berhenti basa basi,” tukas Megan. “Langsung saja apa yang mau kamu tahu?”

Bob tersentak. Perkataan Megan seharusnya menyakiti perasaan Bob. Tapi Bob menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Kepribadiannya langsung berubah drastis. Dia menjadi sangat tenang dan pandangnnya tajam.

“Karirmu di ambang kehancuran,” Bob langsung to the point.

“Berani sekali…”

“Tidak ada berita tentang dirimu di media,” dengan tenang Bob melanjutkan. “Paparazzi bahkan tidak tertarik untuk mencari tahu tentangmu. Sejak Anda ketahuan menggunakan obat, tidak ada yang mau memakai Anda lagi. Lagipula banyak pendatang-pendatang baru yang jauh lebih cantik dan baik darimu. Mereka lebih layak diikuti beritanya. Setidaknya mereka tidak sesombong dirimu. Baru mendapatkan beberapa penghargaan saja sudah merasa diri di atas awan.”

Megan diam saja. Dia menjadi salah tingkah.

“Anda seharusnya ingat, roda akan berputar. Ada saatnya Anda berada di atas. Ada kalanya juga Anda berada di bawah. Apalagi dalam bidang hiburan seperti ini. Anda dapat dengan sangat cepat dikenal dan dikagumi. Tapi Anda juga akan dengan sangat mudah dilupakan. Akui saja, Anda akan jatuh miskin.”

“Apa maumu, brengsek?!” Megan emosi.

Bob menyengir. “Aku tahu kamu mendapatkan surat undangan ke pulau X.”

“Bagaimana kamu bisa tahu itu?”

Bob mengeluarkan sebuah surat dari tas kecilnya dan memperlihatkannya kepada Megan. “Aku juga mendapatkannya.”

Megan melihat isi suratnya yang sama dengan isi surat yang lain. Kemudian dia penasaran dengan satu hal, “Bagaimana kamu bisa tahu aku juga mendapatkan surat yang sama?”

“Aku wartawan, ingat? Aku selalu memperhatikan gerak gerikmu selama ini. Dan saat kamu menerima surat dan mencairkan ceknya di bank, aku langsung tahu kalau kamu pasti mendapatkan surat yang sama denganku.”

“Apa maumu?”

“Aku mau kita bekerja sama,” Bob akhirnya memberitahu alasan utamanya. “Salah satu dari kita akan memenangkan satu milyar itu dan kita bagi dua uang itu.”

Twisted sekali, bukan?” Megan selesai menceritakan kenapa dia bekerja sama dengan Bob. “Kemudian surat yang kita dapat di hari kedua membuat kita harus berimprovisasi.”

Pintu kamar Megan dibuka dengan sangat hati-hati. Seseorang berjalan mendekati Megan yang tidur dengan perlahan. Orang itu hanya menatapnya. Megan membuka kedua matanya dan melihat orang itu tapi dia diam saja.

“Periksa mejamu,” kata Bob yang berdiri di hadapannya.

Megan melihat sebuah surat di atas meja sebelah kasurnya dan segera membukanya. Megan membacanya:

PERMAINAN DIMULAI

Tidak ada sekutu di sini.

Jangan mudah percaya. Kebohongan bisa menyelamatkanmu.

Yang terbanyaklah yang berkuasa.

Ketinggian akan menuntun kepada tanda.

“Jangan mudah percaya,” Megan mengulangi tulisan di surat yang dia dapatkan di hari kedua. “Kebohongan bisa menyelamatkanmu. Akhirnya Bob menyarankan agar aku pura-pura mati supaya aku bisa memata-matai kalian.”

Bob menancapkan pisau tumpul ke dada Megan.

“Ouch! Pelan-pelan, bodoh!” jerit Megan.

“Tidak usah melebih-lebihkan. Ini tidak sakit,” kata Bob sambil merapikan tusukannya agar tidak lepas. Dia menempelkan sesuatu pada baju Megan sehingga pisaunya bisa menempel. Kemudian dia menuangkan darah dari ember yang dia bawa ke dada Megan.

“Menjijikkan sekali,” cibir Megan. “Kenapa harus aku yang pura-pura mati? Kenapa tidak kamu saja?”

“Aku punya lebih banyak informasi,” kata Bob. “Mereka lebih percaya padaku.” Bob mencipratkan darahnya sedikit ke muka Megan dan ke tanah supaya terlihat lebih meyakinkan. “Lagipula kamu ini artis, pandai akting. Pura-pura mati pasti bukan hal yang susah untukmu.”

Megan menerima argumen Bob dan mengoleskan darah ke mulutnya untuk memperlihatkan dia sudah muntah darah.

“Baiklah, aku harus pergi memebersihkan ember ini dan membuat alibi.”

“Tunggu dulu,” tahan Megan. “Bagaimana kalau orang yang melihatku mengecek denyut nadiku dan tahu kalau aku hanya berpura-pura?”

“Tidak akan terjadi. Aku akan berada di dekat sini dan membuat suara sehingga mereka mengira akulah pembunuhnya. Pilihannya antara mereka mengejarku atau mereka akan lari. Kamu akan menggunakan kesempatan itu untuk menghilang.”

Benar saja. Saat Elisa dan Maya menemukan Megan. Bob mengeluarkan suara seakan-akan dia sedang mendatangi mereka. Elisa dan Maya langsung kabur. Bob menghampiri Megan dan menyengir.

“Akting yang bagus sekali.”

Megan membuka kedua matanya. “Sudah boleh pergi?”

Bob mengangguk. “Tunggu kabar dariku.”

“Licik. Kamu licik, Megan,” hina Cherry.

“Ini namanya cerdik, sayang,” tukas Megan. “Kalian terlalu bodoh sampai bisa ditipu seperti ini.”

“Sudah cukup,” Bob muncul. “Jangan terlalu banyak bicara pada mereka. Kita sudah mendapatkan apa yang kita mau.” Bob menuangkan kesepuluh batang emas ke meja. “Sepuluh emas ini jumlahnya hampir sama dengan stau milyar. Kita akan kaya.”

“Sebenarnya…” Megan mendekati Bob perlahan. “Ada sesuatu yang aku pikirkan. Tentang idemu.”

“Oh, kamu sudah memutuskannya?”

Megan mengangguk. “Idemu bagus juga. Sepertinya aku ikut denganmu.”

“Ide? Ide apa?!” Cherry penasaran.

Megan berbalik. Dia menyengir. “Oh, kalian pasti akan menyukainya. Well, bukan kalian sih. Tapi lebih ke aku.”

“Besok saya kita lakukan,” kata Bob. “Sudah malam. Aku sudah lelah. Tidak ada tenaga lagi untuk membereskan tubuh mereka nanti.”

“Hmm, ok, masih bisa tunggu sehari lagi. Daaa!” Megan pergi meninggalkan yang lain.

“Membereskan tubuh?” ulang Elisa. “Apa yang kalian rencanakan? Bob!”

Bob membungkus kembali kesepuluh batang emasnya. Dia pergi tanpa melirik sedikitpun ke Elisa dan yang lain. Perasaan Elisa tidak enak. Yang lain juga pasti menyadarinya. Perkataan Bob tentang membereskan tubuh mereka membuat mereka cemas. Itu sama saja dengan membunuh mereka dan membereskan jasad mereka. Bob dan Megan akan membunuh mereka besok.