BAGIAN 3

DAVID DUDUK DI MEJA PALING DEPAN DEKAT MEJA GURU. Selama pelajaran dia memperhatikan dengan seksama gurunya menjelaskan walaupun pelajar-pelajar lainnya sibuk bercanda. Bahkan ada yang sampai tidur. Guru Fisika mereka bukan guru favorit mereka. Bapak Sitompul sudah tua dan hanya membaca dari tempat duduknya.

Rocky melempar bola kertas berukuran sedang tepat ke kepala David. David kaget dan melirik ke belakang. Rocky cekikikan bersama teman-temannya. Rocky membanggakan dirinya sambil bicara pelan, “Tepat kena si Alien!”

David segera melihat ke Bapak Sitompul, berharap dia melihat dan membelanya. Tapi kedua mata guru Fisikanya masih tertuju pada buku yang dia bacakan dengan suara yang membuat kantuk. Bapak Sitompul tidak bisa diharapkan.

“Sabar, sabar,” bisik David sembari berdoa pelan. “Ya, Tuhan. Janganlah membawa aku ke dalam pencobaan. Tetapi lepaskanlah,” David menoleh ke belakang mencuri-curi pandang melihat Rocky, “aku dari yang JAHAT. Amin.”

Bel berbunyi.

“Oh, waktunya istirahat,” Pak Sitompul menyadari bunyi bel. “Sampai ketemu lagi,” Semua murid bergegas ke luar kelas tanpa menghiraukan pak Sitompul yang berbicara sendiri, “besok siang. Jangan lupa kerjaan PR kalian.”

Tinggal David sendiri di dalam kelas bersama pak Sitompul yang berdiri dengan pelan sambil menenteng buku yang dia baca terus. Seperti tidak melihat David, Pak Sitompul ke luar juga dari kelas. David seperti tidak kelihatan. Dia seperti tidak dianggap.

David mengeluarkan kotak makan siang yang sudah disiapkan ibunya dari dalam tas. Kemudian dia berjalan ke luar kelas. Sepanjang lorong, David hanya menunduk tidak berani melihat ke para pelajar yang mondar mandir sambil mengobrol. Setidaknya mereka minimal berdua-dua. Hanya David yang sendirian.

David menuruni tangga sambil membawa kotak makan siangnya. Tidak boleh makan di dalam kelas, jadi dia mesti mencari tempat untuk makan siang. David sampai di kantin dan seperti biasa dia hanya memperhatikan keadaan kantin yang penuh sesak dan ramai. Dia bisa melihat Rocky dan gengnya sedang duduk berkumpul sambil bercanda-canda. Seorang pelayan datang membawa makanan pesanan mereka. Para pelajar lainnya kurang lebih seperti itu. Mereka duduk bersama sambil menikmati makan siang mereka.

David berjalan kembali ke arah parkiran motor. Ada beberapa siswa sedang merokok. Mereka sampai kaget saat melihat David. Mungkin David dikira guru atau keamanan. Tapi setelah melihat David, mereka kembali merokok. David berjalan menelusuri parkiran ke arah lebih dalam lagi, lebih terpencil.

Dia sampai di sebuah taman kecil dengan kolam ikan. Ada sebuah bangku terbuat dari batu yang panjang. David duduk di sana dan membuka kotak makan siangnya. Seila sudah menyiapkan nasi putih dengan ayam goreng yang sudah disuwir dengan sayuran dan dua nugget. David menikmati makan siangnya di sana, seperti biasa. Di sinilah tempat favorit David untuk menyendiri.

Tinggal beberapa menit lagi sebelum bel berbunyi dan pelajaran akan kembali dimulai. David yang sudah menyelesaikan makan siangnya bergegas merapikan kotak makannya dan kembali ke kelasnya.

David kembali berpapasan dengan geng Rocky saat mau menaiki tangga. David menunduk. Rocky sudah menyengir dari jauh dan memberi tanda kepada teman-temannya kalau dia ingin mengerjai David. Benar saja, Rocky menyenggol David dengan sengaja. David kehilangan keseimbangan dan menabrak seorang siswi di belakangnya.

“Ma… Maaf,” kata David. Rocky dan gengnya cengengesan sambil menjauhi David.

David mengangkat wajahnya, melihat seorang perempuan manis dengan rambut hitam pony tail. David mengenali perempuan itu. Dia adalah Kelsy Octavia, anak kelas 1A. Teman baiknya, Camile Florencia, ada di sebelahnya. Mereka selalu bersama.

Muka David langsung memerah saat Kelsy melihatnya. Tapi dia segera berbalik setengah badan agar muka meronanya tidak terlihat dan saat kembali mengarahkan badannya ke Kelsy dan Camile, David sudah bukan dirinya lagi.

“Kelsy,” suara David sontak berubah menjadi rendah dan cool. David yang pendiam dan pemalu tiba-tiba menjadi pribadi yang sangat percaya diri.

“Dave, hai!” Kelsy begitu ceria. Dia selalu memanggil David dengan Dave.

David menelan ludah. Dia berusaha bertahan dengan gaya cool-nya. Keceriaan Kelsy terlihat seperti slow motion saat Kelsy memanggilnya dengan Dave seakan Dave itu adalah panggilan saying Kelsy untuknya. Kedua kakinya lemas. Hatinya terasa meleleh.

“Dave, kamu tidak apa-apa?” Kelsy menyadarkan David dari lamunannya.

Kelsy melihat ke Camile yang berdiri tenang memperhatikan kelakuan David dengan tajam.

David kembali bergaya cool. “Camile.”

Camile mengernyit. “David.”

Kelsy memberikan senyuman kepada David. David mengepalkan kedua tangannya berusaha menahan diri dengan tetap percaya diri. “Apa kabar?” Tanya Kelsy.

“Saya baik-baik saja. Kamu?” David memberikan jawaban yang formal.

“Baik juga. Oh ya, malam minggu besok kamu kemana?”

Seketika kedua mata David melebar. Kepalannya menjadi sangat lengket karena keringat. Mukanya kembali memerah. Aktingnya gagal. “Ma… malam minggu?” David bertanya-tanya apakah Kelsy mau mengajaknya kencan? Itu berarti Kelsy juga menyukai David. Cinta David tidak bertepuk sebelah tangan.

“Iya,” Kelsy menyerahkan sebuah kertas undangan. “Kalau Dave tidak ada acara, datang ya.”

Seakan tertimpa kulkas, cinta David pun kandas. Dia kembali bergaya cool. Ternyata Kelsy hanya ingin mengundangnya ke sebuah acara. Dia melihat ke surat undangannya.

YOUTH MESENGGERS

EVERYONE NEEDS COMMUNITY

SATURDAY NIGHT

7 PM

Dan di balik undangan tersebut terdapat alamat dan peta lokasi.

“Sampai ketemu, Dave,” kata Kelsy dan pergi meninggalkan David.

Camile dan David saling bertatapan. “David.”

“Camile.”

Camile mengikuti Kelsy. Setelah mereka berdua lenyap dari pandangan, David jatuh lemas.

BAGIAN 4