BAGIAN 4

HARI SABTU TELAH TIBA. David melihat kembali kertas undangan yang dia terima dari Kelsy. Kemudian dia menaruhnya ke atas meja. David berpaling melihat pantulan dirinya di cermin. Dia mengenakan kemeja lengan panjang putih dengan kotak-kotak biru tua yang dimasukkan ke dalam celana jeans biru tua. David mengoleskan gel ke rambutnya dan menyisirnya ke belakang sampai sangat rapi.

David bergerak menyamping ke kanan dan ke kiri. Kemudian berbalik sambil berusaha memperhatikan bagian belakangnya di cermin. Kemudian dia menghadap ke cermin dan menatap tajam. Dia bergaya cool dan berbicara kepada dirinya di cermin dengan suara rendah.

“Hi, Kelsy. Ehem ehem…” David mengeringkan tenggorokannya dan kembali berbicara dengan nada yang berbeda, lebih kalem. “Kelsy, hi.”

David berulang kali mencoba gaya bersalaman, berpura-pura sedang berkenalan dengan orang lain sambil mengucapkan namanya sendiri. Dia tidak menyadari Seila sedang memperhatikan dari balik pintu kamarnya yang tidak tertutup rapat.

“David William. Senang berjumpa denganmu,” David menegakkan punggungnya dan sekali lagi mencoba gaya yang lebih percaya diri. “David, senang berjumpa denganmu.”

Seila tidak bisa menahan senyumnya. Dia mundur beberapa langkah dan berpura-pura sedang berjalan ke dalam kamar David sambil memanggil nama David.

David tersentak mendengar Seila memanggilnya. Dia segera berbalik dan melihat ibunya mendorong pintu.

“Sayang, kamu sedang apa?”

“Ah, tidak sedang apa-apa, mami.”

Seila masuk ke dalam dan mendekati putranya. Dia memberikan senyuman yang hangat. “David, saying,” Seila memegang kedua pipi David dengan lembut. “Kamu tidak perlu menjadi orang lain. Jadilah diri kamu sen-di-ri.”

“Tapi, mi,” David berdalih, “aku takut mereka tidak menyukaiku.

“Kamu itu baik, tampan, pintar menggemaskan.”  Seila mencubit pipi kiri David. David menjerit singkat. “Hanya orang-orang bodoh kalau sampai tidak menyukaimu. Percayalah pada dirimu sendiri. Kita semua ini berharga, ingat itu.”

Kata-kata bijak Seila mempengaruhi David. Dia menjadi lebih percaya diri. David mengangguk penuh keyakinan.

“Lagipula,” Seila melanjutkan, “kalau ada yang tidak menyukaimu, kamu tinggal bilang saja ke mami. Biar mami yang turun tangan.”

David membelalak kaget. Ibunya tiba-tiba menjadi seperti preman yang suka mencari ribut.

“Bercandalah, sayang,” sahut Seila. “Ayo, kita jalan.” Seila menggandeng lengan David dan keluar bersama. Sambil berjalan ke luar rumah, Seila kembali berkata, “Tapi serius, kasih tahu mami kalau ada yang macam-macam sama David.”

BAGIAN 5