BAGIAN 5

JONATHAN GUNAWAN DAN INGGRID NANOY BERDIRI DI LOBI GEREJA. Mereka berdua sedang bertugas sebagai penerima tamu menyambut dua perempuan yang datang. Inggrid menyalami mereka duluan sambil tersenyum kecil dan menyerahkan warta gereja. Tampang Inggrid sangat ketus dengan wajah lurus panjang tapi cantik dan rambut hitam lurus sepundak. Dia terlihat sangat cuek namun elegan.

“Hi, Selamat datang,” Jonathan menyapa dengan salam dengan nada merayu. Wajah perempuan yang disambut Jonathan merona merah. Jonathan merasa puas berhasil menunjukkan pesonanya. Jonathan memiliki wajah yang tampan berbentuk kotak dengan alis tebal dan hidung mancung. Badannya tinggi tegap tidak gemuk dan tidak terlalu kurus. Gayanya santai tapi berkarisma. Pantas saja dia mampu membuat perempuan terpikat.

Inggrid merasa geli dengan gaya Jonathan. Dia terus melihat ke Jonathan dengan jijik sampai kedua perempuan itu masuk ke dalam. Jonathan menyadari dirinya sedang diperhatikan Inggrid.

“Apa?!” Jonathan memecah keheningan.

“Serius?” kata Inggrid ketus.

“Hey, aku hanya bersikap ramah.”

“Hey, aku hanya bersikap ramah,” Inggrid mengulangi perkataan Jonathan dengan nada menyindir. “Ramah itu sama semua, bukan sama yang cantic saja.”

“Setidaknya aku tidak memaksakan diri untuk tersenyum,” Jonathan langsung meniru gaya Inggrid yang tersenyum kecil sambil menyalami.

OWEN SAMUEL masuk ke dalam sambal menggandeng Alkitab dan iPadnya. “Jonathan, Inggrid. Jangan bilang kalian ribut lagi.”

“Hi, Owen!” Jonathan segera menghampiri dan menyalami Owen.

“Jonathan menggoda perempuan lagi,” Inggrid mengadu.

Owen melihat ke Jonathan. “Jonathan…”

“Mereka yang memberi sinyal dulu,” Jonathan membela diri. “Susahlah kalau punya wajah setampan ini.”

“Oh, please,” Inggrid jijik.

Owen tidak dapat menahan senyum menyaksikan gaya Inggrid yang tidak senang dengan Jonathan. “Baiklah, aku masuk dulu. Selamat melayani, Jonathan, Inggrid.” Owen masuk ke dalam tepat saat David berjalan memasuki lobi.

Jonathan menyenggol lengan Inggrid dan menggodanya, “Ayo, akui saja. Aku tampan ‘kan?”

Inggrid membelalak syok dengan kepercayaan diri Jonathan. “Eukh!”

Inggrid membuang muka dan melihat David yang celingak celinguk melirik ke dalam. Prasangka buruk segera muncul. “Oh, my God. Jon, Jon!” Inggrid pura-pura tidak menyadari keberadaan David dan berbisik-bisik memanggil Jonathan. “Ada orang aneh!”

Jonathan langsung memperhatikan David yang tampak seperti sedang mengintai Inggrid. Kemudian dia melihat David yang melihat ke undangan Kelsy. Jonathan berpaling ke Inggrid dan menakuti Inggrid, “Dia melihatmu terus, Ing. Sepertinya kamu dapat secret admirer.

“Serius?!” Inggrid tetap tidak mau melihat ke David. Dia bergaya tenang sambal berbisik-bisik. “Orang aneh itu melihatku terus?”

“Iya,” sahut Jonathan semakin bersemangat. “Ya, ampun. Dia sampai menjilat bibirnya, Ing. Mesum sekali.” Jonathan memperlihatkan dirinya sedang menjilati bibir dengan nafsu dan agak berlebihan.

“Eukh! Menjijikkan!” Inggrid geli. Dia melirik sebentar ke David dan membuang muka kembali. Jonathan berusaha menahan tawa. Inggrid masih tidak sadar dirinya sedang dikerjai. Inggrid menarik nafas panjang dan menghembuskannya cepat.

“Baiklah, sudah cukup,” Inggrid memberanikan dirinya. Dia berbalik dan mendekati David dengan cepat. “Hey!” David kaget diteriaki Inggrid. “Kamu ada masalah dengan aku?! Aku tahu aku ini perempuan yang cantik dan menarik. Tapi bukan berarti kamu berhak untuk menguntit aku seperti itu. Sebaiknya kamu segera pergi sebelum aku memanggil security.”

David bingung sekaligus takut. “SeSecurity? Menguntit? Aku tidak…”

“Tidak usah nge-les kayak supir angkot, dasar laki-laki mesum.”

Jonathan menghampiri. “Permisi,” dia berpura-pura tidak tahu apa-apa. Dia mendekati David dan bertanya kepada David, “Ada yang bisa saya bantu, teman?”

David salah tingkah. Dia tidak bias mengeluarkan kata-kata saking gugupnya. Dia melihat ke undangan dan segera menunjukkannya ke Jonathan dan Inggrid. “Ini. Aku… Aku mau ke tempat ini. Apa benar ini tempatnya?”

Raut muka Inggrid berubah. Dia menjadi salah tingkah. Jonathan menyemprotkan tawa tapi berusaha menahannya. Inggrid memelototi Jonathan.

“Oh, kamu mendapat undangan kami? Ayo, ayo,” Jonathan menyalami David dan mengantarnya ke dalam. Kemudian dia sengaja bicara dengan cukup keras supaya Inggrid bias mendengarnya. “Temanku tadi itu memang rada-rada, pede abis. Saking pedenya sampai-sampai dia pikir semua cowok suka padanya. Mohon dimaklumi, ya.” Jonathan melirik ke Inggrid yang kesal karena berhasil dikerjai Jonathan.

BAGIAN 6