BAGIAN 6

IBADAH MULAI. Kelsy sedang memimpin penyembahan bersama Camile. David berdiri terkagum-kagum memandang Kelsy sambal mendengarkan suara Kelsy yang lembut dan indah. Jonathan dan Inggrid menutup pintu lobi dan masuk ke dalam untuk mendengarkan firman yang disampaikan oleh Owen.

“Setiap kita tidak diciptakan untuk sendirian,” kata Owen penuh karisma. “Kita membutuhkan orang lain untuk menjalani kehidupan bersama-sama. Kita semua membutuhkan sebuah komunitas—sebuah komunitas dimana kita diterima apa adanya, sebuah komunitas dimana kita dapat bertumbuh bersama,” David merasakan sesuatu yang berdegup kencang dalam dirinya saat mendengar kata komunitas, “sebuah komunitas dimana kita bisa belajar untuk saling memperhatikan, menegur, saling membangun, dan saling mengasihi.

“Pertanyaannya adalah dimana kita bisa menemukan komunitas itu? Jawabannya ada di setiap kita. Saya dan Anda adalah anggota komunitas itu.”

David tercengang mendengar sharing Owen.

“Saya mau mengajak kita semua untuk bersama-sama menjalani kehidupan. Hidup ini penuh dengan drama, penuh dengan masalah. Ada saatnya kita tidak akan bisa menanggungnya seorang diri. Tapi melalui komunitas, bersama, saya dan Anda semua—kita pasti mampu menikmati perjalanan kehidupan kita ini.”

Riuh tepuk tangan menggema di dalam ruangan. Beberapa meneriakkan kata ‘amin’. David benar-benar diberkati dengan apa yang disampaikan Owen barusan. Bagaimana tidak? Selama ini David tidak memiliki teman. Hanya ibunya saja yang dia bisa ajak bicara. David tergerak untuk bergabung dalam komunitas yang Owen tawarkan. Dia mau berada dalam dalam komunitas itu.

“Selamat bermalam minggu,” Camile mengakhiri ibadah, “Tuhan memberkati.”

David duduk diam menunggu Kelsy yang masih berdoa bersama Camile di panggung. Owen melihat David sekilas dan langsung menghampirinya. “Hi, nama saya Owen,” sapa Owen sambal mengulurkan tangannya mengajak David bersalaman.

David merasa sangat canggung. Dia sontak bangkit berdiri dari tempat duduk dan menyambut salam Owen. “David,” David mencoba tersenyum tapi terlihat garing.

“Pertama kali datang ya?”

David mengangguk.

“Selamat bergabung, ya.”

“Dave! Kamu datang!” Kelsy menghampiri David. David kembali bergaya cool. Kelsy menyalaminya. Tangan Kelsy sangat lembut. Hati David hamper luluh bersentuhan dengan Kelsy.

Camile mendekat dan menyalami David juga. “David,” panggil Camile datar.

“Camile,” David menyahut dengan cool.

“Kalian kenal David?” Owen menanyai Kelsy dan Camile.

“Iya, kak Owen,” jawab Kelsy senang. “Dia satu sekolah dengan kami. Kami membagikan undangannya ke Dave juga.”

“Oh, begitu,” Owen tersenyum.

Jonathan dan Inggrid mendekat. David menjadi sangat canggung. Begitu banyak orang di dekatnya. Ini tidak biasa—sangat tidak biasa.

“Hey, sobat,” Jonathan tidak segan-segan menaruh tangannya ke bahu David—membuat David kaget. “Temanku yang satu ini mau mengatakan sesuatu padamu.” Jonathan melirik ke Inggrid.

Inggrid maju mendekat dengan tampang kesal dan mengulurkan tangan kanannya ke David. “Maaf,” katanya dengan suara kecil.

“Apa?! Tidak kedengaran,” sindir Jonathan.

Inggrid memberi tatapan tajam sekilas ke Jonathan. Dia sangat jengkel dengan sikap Jonathan. “MA-AF!”

David menyambut tangan Inggrid.

“Kok maaf sih, Ing?” tiba-tiba Kelsy menyahut dengan polos. “Namamu ‘kan Inggrid, bukan ‘Maaf’?”

Inggrid langsung melepaskan salamannya dan membuang muka.

“Jadi begini, Kelsy,” Jonathan bergaya bijak. “Waktu temanmu ini datang, si Inggrid ini ke-pede-an bukan main.”

“Apaan sih?!” gerutu Inggrid.

Jonathan melanjutkan, “Masa tanpa sebab tanpa akibat, dia main mengomeli temanmu. Dia kira temanmu ini sedang menguntit dia.”

“Serius?” Owen berusaha menahan tawa tapi tidak bias. Semua tertawa. David hanya tersenyum kecil.

“Wow, Ing,” Camile tidak tahan untuk ikut menggoda, “secantik itukah kamu?”

“Aku sudah minta maaf,” kata Inggrid tidak senang. “Dan aku sudah belajar dari kesalahanku. Jangan mudah percaya dengan apa yang kamu lihat,” Inggrid melihat ke Jonathan sambal menekankan perkataannya, “dan dengar.”

Jonathan menaikkan alis sambal menyengir dengan lebar merasa puas.

 “Dave, perkenalkan teman-temanku,” Kelsy maju ke sebelah David dan menunjuk ke Jonathan. “Jonathan.”

Jonathan menyalami David dengan erat.

Kelsy menunjuk ke Inggrid dan memperkenalkan Inggrid kepada David, “Dan Inggrid.”

Inggrid memaksakan senyumnya.

“Jadi, David. Apa hubunganmu dengan Kelsy?” tanya Jonathan blak-blakan.

David tersentak dan mukanya langsung memerah. “Hu… Hubungan?!”

“Dia satu sekolah dengan kami, Jon. Jangan buat gossip,” sahut Camile cepat.

Jonathan menyunggingkan senyum sebentar. “Oh haha. Siapa tahu David ke sini untuk mengejar Kelsy?!”

David menelan ludah. Maksud terselubungnya terbongkar. Kelsy hanya tersenyum.

“Jonathan ini mulutnya tidak bisa direm,” Owen menyelamatkan David dari situasi yang terpojok. “Maklumin saja. Sudah tabiatnya.”

“Dan iseng juga,” Inggrid menyambung ketus. “Tabiat buruk.”

“Sudah, sudah,” Owen berusaha menenangkan Inggrid. Kemudian dia memberi perhatian ke David, “Kamis ini kamu kemana? Kalau tidak ada acara ikut kumpul saja bersama kami.”

“Jangan!” Jonathan tiba-tiba mengagetkan semua. Semua mata tertuju kepada Jonathan, tidak mengerti sekaligus penasaran kenapa Jonathan berseru seperti itu. “Nanti,” Jonathan berbicara pelan sambal melihat ke yang lain satu per satu dan berhenti di Inggrid, “Inggrid malah semakin ke-geer-an kalau kamu menguntitnya. Hahahaha!”

“Jonathan Gunawan! Awas saja, ya!” Inggrid yang marah segera meninggalkan yang lain.

Semua tertawa. David perlahan mulai tertawa bersama yang lain. David yang pada awalnya merasa sangat canggung menjadi sangat nyaman berada di dekat orang-orang


Setiap kita tidak diciptakan untuk sendirian. Kita membutuhkan orang lain untuk menjalani kehidupan bersama-sama. Kita semua membutuhkan sebuah komunitas. Bersama komunitas, saya dan Anda —mari kita nikmati perjalanan kehidupan ini.