00. PROLOGUE

“Kamu pikir kamu siapa berani menentang kami?!”

Aku berdiri tegap dan tidak gentar. Victor Bruttos, kepala geng sekolah tetangga baru saja menganggap remeh diriku. Lima teman Victor berbaris tidak teratur di belakangnya. Aiden Han, sahabat ras Asiaku dari kecil, berdiri tidak jauh di sebelahku dengan tenang. Masing-masing dari mereka membawa sebuah pemukul baseball. Aku dan Aiden bertangankan kosong menantang Victor dengan lima temannya bersenjatakan pemukul kayu. Kalah jumlah dan senjata, memang. Tapi itu tidak masalah denganku.

“Aku sendiri saja sudah cukup,” tantangku. Victor meringis. Dia menjulurkan pemukulnya ke depannya menyentuh tanah. Tatapannya tidak lepas dariku. Aku bertukar pandang dengan Aiden, memberikan tanda untuk menyerang. Aiden mengangguk. Aku langsung berteriak kencang sambil berlari ke Victor. Aiden mengikutiku.

Victor menggenggam erat pemukulnya. Aku bisa merasakan angin bertiup ke wajahku saat aku mendekatinya dengan cepat. Kepalan tanganku mengencang. Aku angkat tinjuku dan kuayunkan ke Victor. Sebuah hantaman keras mengenai kiri kepalaku. Keseimbanganku hilang. Aku jatuh tersungkur ke sebelah Victor. Telingaku kiriku berdengung. Dunia mulai berputar-putar. Aku bisa merasakan darah mengalir dari kepalaku. Victor memukulku tepat di telingaku. Tidak berapa lama kemudian, aku mendengar dua teman Victor bersama Victor mengutukiku walau aku tidak terlalu mendengar jelas karena telingaku yang berdengung. Sebuah tendangan mengenai perutku. Rasanya ingin muntah. Aiden juga sudah jatuh ke tanah berusaha melindungi kelalanya dari pukulan dan tendangan ketiga teman Victor. Victor mengayunkan pemukulnya. Aku menahannya dengan lenganku. Hantaman ya keras sekali. Lenganku rasanya mau patah. Mereka memukuliku sekaligus bertubi-tubi. Aku berusaha melindungi kepalaku. Punggungku dipukuli dua tiga kali sekaligus. Mereka berusaha menendang kepalaku. Aku melindungi diri, berharap dia cepat datang.

“Hey!”

Serangan berhenti. Dia datang, akhirnya. Victor melihat ke arahku tadi berdiri. Seorang perempuan dengan beraninya menantang mereka. Seragamnya sama dengan seragam sekolahku dan Aiden. Rambutnya panjang lurus cokelat. Matanya biru terang seperti langit. Wajahnya tidak terlalu cantik tapi auranya begitu menawan. Victor meringis. Kemudian meludah.

“Perempuan tidak usah ikut campur!” Victor meneriakinya.

“Reina. Panggil aku Reina.”

Seketika raut wajah Victor berubah. Bahunya menjadi kaku. Victor menegang. Ada ketakutan bercampur keraguan merasukinya. “Tidak mungkin. Aku tidak percaya,” Perempuan yang mengaku bernama Reina mengangkat wajahnya, membuat nyali Victor menyusut. “Reina, si penguasa angin?! Kamu tidak bisa menipuku.”

Reina menyengir. “Kemarilah, kalau kamu tidak percaya.”

Aiden melihatku. Dia babak belur tapi masih bertahan. Victor menggenggam erat pemukulnya. Dia memberikan tanda ke teman-temannya untuk maju. Teman-temannya ragu tapi menurut. Mereka maju pelan-pelan.

“Sebaiknya jangan macam-macam dengannya,” aku menakuti mereka. “Kamu tahu ‘kan apa yang bisa dia lakukan. Sepuluh orang berbadan besar pun dibuat hampir mati karena menantangnya.”

Langkah kaki mereka terhenti sejenak mendengar kataku barusan. Mereka semakin ragu untuk menyerang. “Maju, pengecut!” seru Victor geram. Dua orang yang tadi menyerangku saling bertatapan. Kemudian melihat ke Victor. Meraka bertukar pandang kembali dan maju mendekati Reina. Tiga orang yang menyerang Aiden menyusul perlahan-lahan. Victor diam saja di dekatku. Sebenarnya yang pengecut itu dia, hanya bisa menyuruh teman-temannya maju.

Jarak Reina dan lima orang itu semakin dekat. Reina berdiri menatap mereka dengan tenang. Semakin dekat. Hanya tinggal beberapa meter. Reina melepaskan pandangannya sekilas ke aku. Aku mengangguk memberikan tanda padanya, tanda bahwa aku siap melakukan aksi yang sudah aku rencanakan seperti biasa.

Reina menyengir. Kelima teman Victor menghentikan langkah mereka. Mereka ketakutan sekarang. Aku, yang masih berlutut di tanah, membuka telapak tangan kananku. Kurasakan angin yang berhembus pelan. Awalnya dari telapak tanganku. Kemudian menjalar ke lengan dan ke seluruh tubuhku. Aku bisa merasakan arah hembusan angin dari arah Reina ke arahku. Kulancarkan aksiku. Aku memerintah angin yang awalnya hanya hembusan pelan menjadi satu kesatuan angin kencang yang bertiup dari arah Reina ke aku. Debu-debu dan dedaunan terhempas bersama angin. Rambut Reina tertiup ke depan, tapi tidak menutupi wajahnya. Reina tetap menyengir, berdiri tegap tidak gentar. Kelima teman Victor berusaha melindungi mata meraka dari debu-debu.

“Mati kita,” seru salah satu dari kelima teman Victor yang menyerang Aiden. Mereka berlima saling bertukar pandang. Ada yang menggeleng. Ada yang berbisik untuk segera pergi. Kemudian dibalasa dengan anggukan-anggukan. Akhirnya mereka berbalik dan lari secepat mungkin menjauhi Reina. Salah satu dari mereka sempat tersandung, tapi langsung bangkit dan kabur.

“Mau kemana kalian?!” seru Victor kesal saat temannya yang tadi tersandung mau melewatinya

“Kami tidak mau ikut campur dengan perempuan itu,” jawab temannya yang langsung pergi menyusul keempat temannya yang sudah jauh.

Victor pun ditinggal sendiri. Sekarang raut wajahnya lebih ketakutan. Aku berusaha menahan tawaku. Untungnya ada rasa sakit di tulang rusukku karena serangan yang kuterima tadi sehingga aku tidak jadi tertawa. Aiden sudah duduk bersandar pada sebuah pohon besar di dekatnya, beristirahat. Tangan Victor gemetar. Reina dan Angin yang kubuat berhasil menakutinya.

Reina melangkah perlahan mendekati Victor. Angin masih bertiup darinya ke arahku tapi aku membuatnya lebih pelan sehingga debu-debu tidak terlalu menghalangi. “Tinggal kita berdua,” kata Reina menakut-nakuti.

Victor mengangkat pemukulnya. “Aku… tidak takut padamu.”

Suaranya bergetar menandakan dia berbohong. Victor jelas ketakutan sekarang. Aku membuat angin mengencang setingkat demi setingkat. Dedaunan mulai beterbangan kembali. Debu-debu menyerang membuat Victor dan aku harus menyipitkan kedua mata.

“Selangkah lagi, kau akan mati!” Victor meneriaki Reina. Pemukulnya sudah diangkat, siap melancarkan serangan.

Reina tersenyum. Dia berhenti melangkah. Victor menyengir, merasa berhasil mengancam Reina. Tapi Reina kembali melangkah dan aku langsung merubah arah angin berputar dari aku ke arah Reina. Victor terpelonjak merasakan arah angin yang begitu cepat berubah. Sebuah batu kecil terangkat dan melayang tepat ke belakang kepal Victor. Victor kaget dan menjerit melengking seperti anjing yang ekornya kejepit. Pemukulnya jatuh dan sekarang dia lari terbirit-birit. Sekilas aku melihat celananya basah dan ada air mata di wajahnya. Entah itu cuma perasaanku atau tidak, tapi perutku tergelitik sangat kuat dan tawaku langsung meledak.

Aku tidak bisa menahannya lagi. Tulang rusukku masih sakit, tapi aku terus tertawa diselingi jerit kesakitan. Reina mendekati Aiden, mengulurkan tangannya. Aiden meraihnya dan bangkit berdiri. Mereka saling menyengir beberapa detik sebelum akhirnya bergabung bersamaku menertawakan kejadian tadi. Aku bangun dan mendekati mereka. Kami saling tos dan memberikan selamat karena ini adalah keberhasilan kami yang kelima mengerjai anak-anak berandal dari sekolah lain yang suka menodong dan menyiksa.