01. CHAPTER ONE – JAKE WINTER

“Kamu semakin mendalami peranmu, ya, Hazel Falenstin,” aku memuji Reina yang bernama asli Hazel Falenstin.

Hazel tertawa. “Aku sudah hampir ketawa tadi, melihat tampang si Victor. Dan aku berani sumpah, Jake Winter, aku melihat celananya basah saat dia kabur.”

“Aku kira itu cuma perasaanku saja,” sahutku dan tawa kami kembali meledak.

Aiden berhenti tertawa dan menjerit-jerit sambil memegangi tulang rusuknya. Hazel langsung mendekatinya dan mengangkat seragam Aiden untuk melihat lukanya. Tulang rusuknya merah-merah lebam. Kemudian dia menanyakanku tentang lukaku. Aku mengangkat seragamku dan memperlihatkan luka yang kurang lebih sama di tulang rusuk dan juga punggungku.

“Harusnya aku muncul lebih cepat,” Hazel mencemaskan luka kami. Dia menyarankan untuk segera pulang supaya luka kami bisa diobati. Kami menurut dan kusarankan mereka untuk ke rumahku karena paman dan kakakku sedang tidak di rumah.

Di sepanjang perjalanan kami tidak bisa berhenti membicarakan keberhasilan kami yang kelima ini. Aku, Aiden, dan Hazel sudah merencanakannya sejak setahun yang lalu. Kami menyebarkan isu tentang seorang perempuan bernama Reina yang dapat membuat angin takluk padanya. Reina tidak suka anak-anak muda yang anarkis. Dia selalu membela mereka yang dalam kesulitan, terutama saat ada yang menyiksa mereka.

Awalnya semua orang menganggap itu hanyalah lelucon. Kami membiarkan isu itu beredar hampir ke semua sekolah selama enam minggu sampai kami melancarkan aksi pertama kami. Aku muncul pertama kali untuk menyelamatkan Aiden yang sengaja melewati jalan yang biasa ditongkrongi tiga penyiksa dari sekolah lain. Mereka segera mengeroyokiku. Aiden berusaha menolong tapi saat dia mau dihajar, Reina muncul. Reina tidak banyak bicara. Dia hanya menyengir dan mengangkat kedua tangannya. Angin bertiup sangat kencang membuat tiga pengeroyokku kabur. Kali itu lukaku tidak separah yang kedua. Aku hampir saja pingsan saat dipukuli habis-habisan oleh empat pria berbadan besar karena aku nekat menantang mereka sendirian. Untung saja Reina segera datang dan aku masih cukup sadar untuk mengendalikan angin yang langsung membuat tiga orang itu.

Sejak kejadian kedua, Hazel memaksaku untuk lebih berhati-hati. Aku mulai melatih diriku dengan Aiden. Kami melatih pertahanan diri. Melatih diri kami menerima pukulan dan hantaman-hantaman benda keras. Aku juga dilarang Hazel untuk maju sendiri. Sejak itu Aiden mendampingiku terus untuk menantang yang ketiga, keemlat, dan kelima. Yang ketiga dan keempat lebih mudah karena nama Reina benar-benar sudah ditakuti banyak penyiksa. Tanpa perlu dikeroyok, mereka sudah kabur duluan saat merasakan tiupan angin dan bayangan Reina yang mendekat.

Aku membuka pintu dan masuk ke dalam duluan diikuti Hazel yang segera ke dapur mengambil kotak P3K. Dia sudah mengikat rambutnya ke belakang dan mengenakan kacamata tebalnya. Itu adalah samaran Hazel di sekolah supaya tidak ada yang mengenalinya sebagai Reina. Hazel hanyalah perempuan tidak menarik dan terlihat sangat kutu buku. Nyatanya, kacamata tebalnya tidak ada minus sama sekali. Dan Hazel tidak suka membaca. Dia lebih menyukai hal-hal yang berbau adrenalin, yang menantang.

Aiden langsung menjatuhkan diri ke sofa. Dia kesakitan. Aku masih tahan walau kepalaku agak sakit. Aku membuka seragamku dan menatap ke kaca di kamar mandi. Perutku biru lebam sekarang. Punggungku lebih banyak lebam karena aku berusaha melindungi diri dengan punggungku. Aku beralih ke kepalaku. Aku meraba-raba dimana sakit yang kuderita. Ada di belakang sebelah kanan. Tampaknya salah satu pemukul berhasil mengenai kepalaku. Ada sedikit darah kurasakan di tanganku dan benar saja saat aku melihat tanganku, ada darah.

“Kamu berkelahi lagi?” aku berbalik. Kyle, kakak laki-lakiku sudah berdiri di belakangku.

“Tidak seberapa, tenang saja.”

Aku keluar dari kamar mandi melewati dia ke belakang sofa. Aiden sudah melepaskan seragamnya dan menggigit bibirnya. Dia menahan perih saat Hazel mengoleskan obat cair di tubuhnya secara perlahan.

“Kepalamu berdarah dan kamu masih bilang tidak seberapa?!” Kyle mulai memarahiku. Kepalaku makin sakit mendengarnya.

“Berdarah?!” Hazel bangun melihatku. “Mana?” Hazel berdiri di sofa dan memaksaku menunduk untuk mencari lukaku. Aku menjerit saat dia menemukannya. “Tidak perlu dijahit. Tapi aku akan mengobatimu dulu. Duduk.”

Aku menurut. Hazel mulai mengoleskan alkohol ke luka di kepalaku. Perih, tapi masih bisa kutahan. Kyle kembali mengomeli kami.

“Kamu bisa tidak berhenti melukai diri sendiri? Sudah saatnya kamu bersikap lebih dewasa. Kamu tidak memperlihatkan kekuatanmu di luar kan?”

“Tidak, tenang saja.”

Hazel mulai mengolesi obat cairnya. Kali ini sangat perih hingga aku menggigit bibirku dan menjerit pelan. Aiden minta ijin ke kamar mandi. Aku yakin itu hanya alasan Aiden karena tidak enak mendengar omelan Kyle yang berlanjut.

“Aku ini diberi tanggung jawab untuk menjaga kamu, Jake White. Tapi aku tidak akan selalu ada di samping kamu. Kamu harus belajar bertanggung jawab atas diri kamu sendiri. Kamu lupa apa pesan papa dan mama pada kita?” Kepalaku semakin sakit mendengar Kyle membawa orang tuaku ke dalam omelannya. Api di kompor dekat Kyle tiba-tiba menyala.

“Kyle.” Hazel menyadarkan Kyle. Kyle melihat api yang menyala dan langsung menjentikkan jari untuk mematikan api tanpa menyentuh apa-apa. Dia langsung menutup tirai di semua jendela rumah, takut ada yang melihat.

Pesan papa dan mama? Waktu itu aku berumur delapan tahun dan Kyle sebelas tahun. Malam itu hujan sangat deras. Aku dibangunkan sambaran petir yang menggelegar. Aku menangis karena gelap dan sendirian. Ayahku masuk ke dalam. Dia berpakaian sangat rapi, kemeja dan celana hitam panjang.

Kyle, papa di sini. Hey, hey!” Aku dipeluknya. Perlahan aku menjadi tenang dan menghentikan tangisku.

Ibuku masuk ke dalam. Ayah melepaskan pelukannya. Aku melihat ke ibuku yang matanya masih berkaca-kaca. Dia berusaha menahan tangis. Aku tahu sekarang kalau dia baru saja mengucapkan selamat tinggal pada Kyle dan sekarang dia akan mengucapkannya padaku. Dia mendekatiku dan langsung memelukku.

“Kyle, anakku…”

Aku bisa merasakan air matanya mengalir ke rambut dan leherku. Badannya gemetar dan dia terus menangis. Aku tidak mengerti saat itu. “Mama, sudah tidak apa-apa. Aku sudah tidak takut lagi dengan petir.”

Ibuku menangis semakin kencang. Ayahku ikut memeluk kami berdua. Kyle masuk ke dalam. Dia juga menangis. Ayahku menyuruhnya mendekat dan kami berempat berpelukan. Aku masih tidak mengerti keadaan saat itu. Hampir satu menit kami hanya diam. Ayah melepas pelukannya. Ibuku juga.

“Jake,” ibu memanggilku. “Papa dan mama harus pergi meninggalkan kamu dan Kyle. Kamu harus dengar apa kata kakakmu. Jangan suka ribut. Dia yang akan bertanggung jawab menjagamu.”

Ayahku menyahut, “Besok pamanmu akan datang dan menjadi wali kalian, tapi dia tidak boleh tahu apa-apa tentang apa yang kamu dan Kyle bisa lakukan. jangan gunakan kekuatan kita sembarangan. Kamu mau ‘kan berjanji sama papa untuk merahasiakan kekuatan kita?”

Aku bingung. Kyle mengangguk, jadi aku ikut mengiyakan janjiku. Ayah tersenyum. Ibu mengelus rambutku dan mencium keningku. Ayahku memeluk Kyle dengan erat. “Kyle, ingat. Ada orang di luar sana yang mau memanfaatkan apa yang dapat kalian lakukan. Kamu harus menjaga Jake tetap berada di jalan yang benar. Jangan biarkan kegelapan menguasai kalian. Saatnya akan tiba dimana terang akan redup dan gelap akan memerintah. Tapi jangan pernah berhenti berharap. Tetap percaya dan saling menjaga satu dengan yang lain.”

Angin kencang membuka jendela kamar dan petir menyambar kencang. Ibuku langsung memelukku dan menenangkanku sambil menutup jendela dengan kekuatan anginnya. Dia memiliki kekuatan yang sama denganku, angin. Sedangkan ayahku sama dengan Kyle, api.

           

“Aku ingat. Jangan gunakan kekuatan kita sembarangan,” kataku. “Tapi kamu pernah tidak bertanya kenapa kita memiliki kekuatan ini? Dan apa maksud papa saat dia membicarakan tentang gelap yang akan memerintah dan jangan sampai kegelapan itu menguasai kita?”

Aiden keluar dari kamar mandi. Kyle menutup tirai terakhir, “Aku tidak tahu, Kyle. Tapi papa dan mama pasti akan kembali. Mereka sudah berjanji. Jangan berhenti berharap dan tetap percaya. Itu juga ‘kan yang mereka katakan.”

“Papa dan mama saya sering bicara tentang masa-masa kegelapan dunia,” Aiden menyahut.

“Aduh!” Olesan obatnya perih, aku tidak tahan. Tapi aku langsung merasakan dingin di lukaku.

“Papa dan mamamu sepertinya banyak bercerita padamu tentang banyak hal, padahal kamu jarang sekali bertemu dengan mereka.” Hazel menyindir.

“Yah saya tidak mendengar langsung dari mereka. Dari Tom, tepatnya.” Tom adalah kepala pelayan di rumah Aiden. Dari bayi, Tom sudah mengatur segala urusan di rumah Aiden yang mewah. Dia juga menjadi sahabat terbaik Aiden. Orang tua Aiden selalu pergi berkeliling dunia. Aiden hampir tidak pernah bertemu mereka. Paling sering papa dan mamanya pulang setahun sekali, dan itu juga hanya satu atau dua hari. Kadang Aiden, apabila mau, akan datang mengunjungi mereka. Tapi belakangan Aiden sudah tidak niat lagi untuk menemui mereka.

“Tom pernah cerita apa?” Kyle yang penasaran ikut bertanya.

Aiden mulai menceritakan kisah yang sudah beberapa kali kudengar. “Lebih dari dua ribu tahun yang lalu, bumi tempat kita tinggal begitu indah. Hampir semua makhluk hidup hidup saling berdampingan. Perdamaian dan persatuan adalah yang hal yang terpenting bagi mereka. Namun di bumi bagian utara, hiduplah sebuah suku yang terpencil dan selalu menolak untuk bergabung bersama orang lain yang bukan dari suku mereka.”

Aku tahu lanjutannya. Nama suku itu adalah Zefwrin. Tidak seperti manusia kebanyakan, suku ini hidup menyendiri dan tidak mau bergantung dengan yang lain. Yang lain sudah memulai sistem barter untuk mendapatkan makanan, tetapi suku Zefwrin masih berburu sendiri untuk mendapat makanan. Suku Zefwrin tumbuh menjadi suku yang kuat. Kekuatan mereka jauh melebihi kekuatan manusia normal pada umumnya. Kemudian muncul rumor bahwa mereka mulai mempelajari kekuatan alam. Suku Zefwrin berevolusi. Badan mereka menjadi sangat besar. Mereka memiliki taring yang kuat dan tajam yang sanggup mengoyak langsung tubuh binatang. Kekuatan alam mereka juga mulai terekspos. Mereka bisa mengendalikan empat elemen bumi: api, air, tanah, dan angin.

Awalnya keberadaan suku Zefwrin tidak menjadi masalah. Tapi jumlah mereka kian bertambah banyak dan kebutuhan mereka untuk hidup semakin meningkat. Mereka tidak bisa mengembangbiakkan binatang dan mereka tidak bersedia bekerja sama dengan yang lain. Akibatnya mereka mulai bertindak anarkis. Mereka mendatangi peternakan suku lain dan memaksa mereka untuk menyerahkan ternak mereka. Apabila pemilik ternak menolak, suku Zefwrin akan melukai pemilik dan keluarganya serta menghancurkan peternakannya. Saat mereka butuh kayu untuk membangun tempat tinggal, mereka akan membakar hutan seenaknya. Bagian utara bumi perlahan berubah menjadi kering. Sumber daya alam di bagian utara kian terkikis sehingga tidak ada yang mau tinggal di sana.

Suku-suku lain tidak diam begitu saja. Para pemimpin dan tetua dari segala penjuru datang berkumpul dan membicarakan banyak perihal mulai dari bumi bagian utara yang terancam punah sampai ke suku Zefwrin yang merupakan dalang utama ancaman tersebut. Selama satu minggu mereka saling bertukar pendapat sampai menemukan satu solusi yang cukup ekstrim: Jika suku Zefwrin tidak mau bekerja sama, maka bagian utara bumi akan menjadi sepenuhnya urusan mereka. Mereka tidak diperkenankan untuk melewati perbatasan utara dan mengusik suku-suku lain.

Harinya pun tiba saat para pemimpin dan tetua ditemani ratusan orang-orang kuat pilihan mereka untuk memberitahu suku Zefwrin tentang penyelesaian masalahnya. Reaksi para pemimpin suku Zefwrin hanya satu, tersenyum. Namun senyum mereka penuh dengan makna mengerikan. Mereka tidak mau bekerja sama dan tidak mau dilarang melewati perbatasan mereka. Para pemimpin dan tetua berusaha membicarakannya baik-baik dengan mereka, tapi percuma. Suku Zefwrin bukan suku yang suka bicara. Mereka lebih suka bertarung. Mereka suka kekerasan. Mereka suka darah. Di hari yang sama pembantaian besar terjadi. Hampir seluruh lawan suku Zefwrin tidak selamat. Suku Zefwrin terlalu kuat. Mereka menyerang hanya dengan tangan kosong dan kekuatan alam. Bola-bola api beterbangan dan meledak menghanguskan banyak orang sekaligus. Angin tornado mengangkat puluhan orang yang tidak berdaya. Tanah bergeser dan dengan bantuan air tsunami, mereka menghanyutkan orang-orang ke perut bumi.

Hanya beberapa orang saja yang berhasil melarikan diri. Mereka tersebar kemana-mana. Salah satunya adalah Faye Indina, pemimpin suku Indina yang mahir dalam memanah. Faye memimpin orang-orang yang masih bertahan hidup pergi dari medan perang bersama Kin Phoenix, sahabat baiknya yang adalah anak tunggal dari pemimpin suku Phoenix. Mereka berhasil melarikan diri hanya dengan sekitar dua puluh orang tanpa mengetahui bagaimana keadaan yang lain.

Akibat pembantaian itu, suku Zefwrin makin merajalela. Mereka mulai menjajah bagian utara. Dengan cepat, kekuasaan mereka menjalar ke tengah, barat, dan timur. Hanya bagian selatan yang tidak dapat disentuh. Bagian selatan terdiri atas pulau-pulau yang tidak menyatu dengan bagian lainnya. Suku-suku di sana sudah bersatu dan menghentikan lajur laut dari dan ke bagian lainnya. Tapi ada satu kekuatan yang melindungi mereka dari serangan suku Zefwrin. Seorang pendeta bernama Benedictus White mengorbankan dirinya di hadapan semesta, membuat sebuah dinding kosmis besar yang mengelilingi bagian selatan. Benedictus tertidur selama tiga ratus lima puluh tahun, menjelma menjadi dinding kosmis yang tidak dapat dihancurkan dengan kekuatan sebesar apapun.

Tiga ratus lima puluh tahun itulah yang dinamakan masa-masa kegelapan dunia. Orang-orang yang tertinggal di luar bagian selatan hidup dalam ketakutan. Nyawa mereka menjadi taruhan tiap detik. Mereka menjadi buronan suku Zefwrin. Pemimpin suku Zefwrin, Hafgard, tak segan-segan membiarkan sukunya memperkosa, memperbudak, menyiksa, dan membunuh kapan saja sukunya mau.

Harapan orang-orang tertinggal hanyalah satu, nubuatan Benedictus. Sebelum tertidur, Benedictus mendapat penglihatan dari semesta: Seorang pria berdarah campuran Zefwrin tumbuh besar menjadi pemimpin dan penyelamat dunia. Darah campuran Zefwrin berarti anak dari hasil perkawinan suku Zefwrin dan suku lain. Pembantaian anak terjadi besar-besaran akibat nubuatan tersebut. Suku Zefwrin membunuh semua anak yang berdarah campuran termasuk anak mereka sendiri baik anak itu laki-laki ataupun perempuan. Mereka tidak mau ada keturunan dari darah campuran. Mereka menganggap darah campuran sebagai turunan terkutuk, anak budak, dan tidak layak hidup. Hafgard juga tidak mau mengambil resiko suatu saat nanti akan muncul pemimpin baru yang sudah pasti akan mengalahkannya. Dia memercayai nubuatan Benedictus.

Sementara suku Zefwrin membantai anak-anak berdarah campuran, suku-suku lain berjuang menyelamatkan mereka. Mereka membesarkan, mengajar, dan melatih anak-anak tersebut tumbuh menjadi pahlawan. Anak-anak ini memiliki bakat khusus. Ada yang mewarisi kekuatan suku Zefwrin. Ada juga yang sanggup mengendalikan elemen bumi walau hanya salah satu dari empat. Mereka percaya pahlawan-pahlawan inilah yang akan berperang menjadi pengikut setia dari pria yang nantinya akan menjadi penyelamat mereka, pria yang dinubuatkan Benedictus.

“Jadi keluargaku adalah turunan campuran?” Aku meresponi cerita Aiden. Aiden mengangguk. “Ceritamu itu hanya legenda yang terjadi dua ribu tahun lalu ‘kan? Apa mungkin suku Zefwrin akan berkuasa kembali? Bahkan kita tidak tahu seperti apa suku Zefwrin sekarang. Dan dunia ini terlihat begitu damai dengan teknologi yang luar biasa maju. Yang terlihat sekarang hanyalah perang antarnegara.”

“Jake, pernah tidak kamu dan Kyle memikirkan darimana asal kekuatan kalian?” tanya Aiden.

Hazel selesai memakaikan perban dan mulai beralih memakaikan perban ke Aiden. “Seandainya saja,” dia mulai bersuara, “Seandainya saja akan ada masa-masa kegelapan lagi sekarang. Siapa yang akan berkuasa?”

Semua diam sejenak. Legenda itu sudah terjadi lebih dari dua ribu tahun silam. Keberadaan suku-suku juga sudah tidak pernah didengar. Itu hanyalah mitos. Hanya ada beberapa buku di perpustakaan yang mencoba menjelaskan tentang suku-suku yang dulunya hidup di seluruh penjuru bumi. Di jaman sekarang ini, hanya ada tujuh teritorial yang terdiri atas negara-negara baik yang sudah maju, berkembang, ataupun menuju kehancuran. Aku tinggal di salah satu negara yang sedang berkembang, Rodrickwood, yang adalah ibukota dari Teritorial Timur. Sama sekali tidak ada berita ataupun surat kabar yang menjelaskan tentang kemunculan suku-suku dari dua ribu tahun yang lalu. Jika memang suku Zefwrin mau berkuasa kembali, keberadaan mereka ataupun suku lainnya pasti akan terus terdengar sampai sekarang. Tapi nyatanya tidak. Jadi bagiku, itu tetaplah mitos, legenda yang tidak pernah terjadi.

Aku tidak percaya dengan semua itu. Mungkin keluargaku adalah keluarga yang bermutasi sehingga punya kekuatan. Mungkin orang tuaku atau nenek moyangku pernah menjadi percobaan eksperimen. Masih banyak kemungkinan yang masih belum terpikirkan olehku. Seandainya papa dan mama menjelaskannya sebelum mereka pergi, tidak akan muncul tebakan-tebakan ini.

“Apa yang terjadi dengan Hafgard? Siapa pria yang dinubuatkan oleh Benedictus?” Kyle masih penasaran dengan kelanjutan cerita Aiden.

Aiden meminum air yang baru dia ambil. “Putra dari Hafgard sendiri.” Kyle makin antusias mendengarnya. Hazel masih memakaikan perban di tubuhnya. “Dan bukan hanya putra Hafgard saja, tapi putra dari Faye Indina.”

“Faye Indina?!” Kyle tidak percaya.

“Ya. Faye sempat tertangkap dan menjadi tawanan Hafgard. Dia menjadi budak Hafgard selama beberapa bulan. Dia disiksa dan dipaksa melayani Hafgard sendiri. Kin Phoenix berhasil menyelamatkannya dan sesudah itu mereka tahu tentang kehamilan Faye. Tidak seperti jaman sekarang dimana manusia hanya berusia paling lama sampai seratus tahunan. Jaman itu manusia bisa hidup sampai ratusan tahun bahkan ada yang sampai ribuan. Faye dan Kin hidup nomaden dibantu dengan beberapa sukarelawan yang menemani mereka, berharap penuh pada keturunan Faye.”

“Kehamilan Faye menjadi perjalanan hidup yang penuh dengan pengorbanan. Tidak sedikit yang mati demi mempertahankan kehidupan Faye dan bayinya. Di momen kelahiran Faye, mereka terpojok. Tidak ada jalan keluar lagi. Faye akhirnya melahirkan putranya. Tapi dia tidak bisa melawan. Pasukan suku Zefwrin sudah mengepungnya. Kin dengan susah payah mengeluarkan Faye keluar dari kepungan tersebut. Faye, sendirian dengan putranya, melarikan diri ke pinggir sungai. Faye sudah tidak kuat. Dia mengambil salah satu kain putranya dan menaruh keranjang bayi bersama putranya ke sungai, membiarkan putranya hanyut terbawa aliran sungai. Kin melihatnya tapi tidak sanggup menahannya. Dia berusaha menolong Faye tapi Faye menyuruhnya mengikuti putranya. Mereka berpisah untuk selamanya di sana. Faye menjadi umpan. Dia menutup batu, tanah, dan rerumputan dengan kain. Kemudian berlari ke pinggir tebing. Terkepung dan terpojok. Faye menjatuhkan dirinya bersama bungkusan kain yang disangka putranya dan menghilang sampai selamanya. Mayatnya tidak pernah ditemukan.”

“Siapa yang sangka kalau putra Faye terbawa aliran ke sungai dimana putri Hafgard sering bermain. Kin melihat dengan mata kepalanya sendiri. Putri Hafgard yang tidak bisa mengandung menemukannya dan langsung jatuh cinta dengan putra itu. Dia menamakannya Abel dan membesarkannya seperti anak sendiri. Abel tumbuh besar menjadi pria yang gagah dan menguasai bukan hanya satu, tapi empat elemen. Kemampuannya ini mungkin turun dari Hafgard. Oleh karena itu juga, Abel tidak dicurigai sebagai turunan campuran. Hafgard juga sangat menyayangi Abel. Dia turun tangan langsung melatih dan mengajar Abel. Namun saat Abel tumbuh dewasa, Abel mulai tahu tentang asal usulnya dan sejarah masa-masa kegelapan bumi. Abel menyadari bahwa tempat tinggal dia sekarang bukanlah rumahnya. Dia memutuskan untuk pergi keluar, menjelajahi bumi untuk membantu suku-suku lain. Kin ada di sana menuntun setiap langkahnya.”

“Singkat cerita, Abel beserta para prajurit yang setia mengikutinya datang kembali ke Hafgard dan menawarkan perdamaian dengan ayah kandungnya sendiri. Hafgard tidak terima. Perang kembali terjadi. Kali ini lebih dahsyat dari perang-perang sebelumnya. Banyak korban berjatuhan. Di akhir perang, Abel berhasil mengalahkan Hafgard. Dinding mistis yang melindungi bagian selatan lenyap. Nyawa Kin ikut dikorbankan dalam perang besar itu. Bumi terlepas dari masa-masa kegelapan dan semua makhluk hidup di dalam perdamaian hingga sekarang.”

“Legenda yang menarik,” kata Kyle yang memercayai cerita Aiden.

“Bagiku hanya seperti dongeng sebelum tidur,” sahutku.

“Baiklah,” ujar Hazel sambil membereskan kotak P3K. “Sudah jam tiga, saatnya pulang.” Dia mengembalikan kotak P3K ke dalam rak. Kemudian mengambil ransel sekolahnya dan Aiden. Aiden bergerak menerima ranselnya dari Hazel dan mengalungkannya ke bahu kanan. Hazel mengalungkan ranselnya ke kedua bahunya. “Bye, Kyle. Jangan terlalu keras sama adikmu.”

“Kami pulang dulu. Sampai jumpa,” Aiden berpamitan. Aku melambaikan tangan. Mereka membalas dan keluar dari rumah.

“Aku lelah, mau tidur dulu.” Aku tahu Kyle pasti akan lanjut menceramahiku. Jadi lebih baik aku langsung masuk ke kamar dan diam di dalam. Aku bergegas ke dalam kamar dan mengunci pintu.

“Ya, untung saja paman Leon sedang di luar kota dan tidak melihat ulahmu” Kyle menyahut dari ruang tamu. Aku tiduran di kasur. Capek sekali. Tidak butuh waktu lama hingga aku tertidur.